
fokusmedan : Lebih dari 300 siswa korban penculikan di Nigeria kini telah berkumpul dengan keluarga mereka sepekan setelah diculik dari sekolah mereka di negara bagian Katsina, Nigeria. Ratusan siswa ini berhasil dibebaskan pada Kamis lalu.
Para siswa yang semuanya laki-laki ini tiba di Katsina menggunakan bus, di mana mereka bertemu dengan Presiden Muhammadu Buhari.
Dikutip dari BBC, Minggu (20/12), mereka terlihat letih, dan beberapa anak masih memakai seragam sekolah, sementara yang lainnya membawa selimut abu-abu mereka.
Dijaga polisi bersenjata, anak-anak tersebut berjalan dari bus ke sebuah gedung pemerintah untuk bertemu Presiden Buhari dan gubernur. Mereka juga menjalani pemeriksaan kesehatan.
Para orang tua sangat bahagia mereka berkumpul kembali dengan putra mereka.
“Saya tak bisa percaya apa yang saya dengar sampai tetangga datang untuk memberitahukan saya bahwa itu benar,” kata salah seorang ibu kepada Reuters.
“Saya sangat gembira,” kata seorang ibu lainnya yang menunggu dengan cemas bersama orang tua lainnya setelah melihat putranya yang berusia 15 tahun.
“Saya pasti menangis, menangis bahagia ketika saya melihatnya,” ujarnya kepada AFP.
Seorang anak mengatakan kepada stasiun televisi, mereka diberi roti dan singkong selama diculik dan kondisinya sangat dingin. Dia mengaku sangat bahagia bisa kembali ke Katsina.
“Kalian menderita fisik, mental, dan psikologi, tapi izinkan saya meyakinkan kalian bahwa kami jauh lebih tersiksa dan orang tua kalian lebih menderita,” kata Guberur Katsina, Aminu Bello Masari dalam pidatonya di hadapan para siswa.
Diculik Bandit Lokal
Pemerintah negara bagian mengatakan anak-anak tersebut diculik bandit lokal.
Sebelumnya militan Boko Haram mengklaim berada di balik penculikan tersebut. Namun sejumlah ahli meragukan karena terjadi di luar wilayah operasi normal kelompok tersebut.
Juru bicara Gubernur Masari, Abdul Labaran mengatakan kepada BBC, para siswa diculik oleh bandit.
“Bukan Boko Haram,” ujarnya.
“Bandit lokal yang telah kami kenal cukup lama yang bertanggung jawab. Ini adalah orang-orang yang kami tahu dengan sangat baik, saya bertemu beberapa pemimpin mereka. Itulah kenapa sebuah badan perlindungan asosiasi para peternak dimanfaatkan untuk menghubungi mereka. Jadi negosisasi dibuat melalui badan ini,” lanjutnya.
Menurut Gubernur Katsina, Aminu Bello Masari, 344 anak telah dibebaskan tapi masih ada yang menghilang.
Mereka diculik pada 11 Desember dalam sebuah serangan di sekolah mereka di kota Kankara.
Pemerintah bersikeras tak ada tebusan yang dibayar, tapi para siswa dibebaskan setelah bernegosiasi dengan penculik.
Gubernur negara bagian Zamfara, Bello Matawalle, di negara bagian di mana para siswa dibebaskan, mengatakan kepada BBC tiga negosiasi terpisah dilakukan sebelum pembebasan.
Mereka dibebaskan di kota Tsafe, Zamfara pada Kamis malam, menurut pihak berwenang. Selama negosiasi, menurut Matawalle, para penculik menyampaikan sejumlah keluhan.
“Di antara mereka ada yang mengeluh orang-orang membunuh hewan ternak mereka dan bagaimana unit petugas kesiagaan mengganggu mereka,” kata Matawalle, seraya menambahkan pemerintah telah berjanji untuk menindakanjuti keluhan para penculik.
Konflik antara penggembala dan komunitas pertanian biasa terjadi di negara bagian tengah dan barat laut Nigeria, menurut wartawan BBC Nduka Orjinmo di Lagos.
Kedua kelompok telah berperang selama puluhan tahun tapi bentrokan mematikan meningkat dalam beberapa tahun terakhir ketika komunitas petani dan kumpulan penggembala menyewa pasukan kesiagaan bersenjata, khususnya di barat laut Nigeria.(yaya)
