
Fokusmedan.com : Upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak hanya bergantung pada kekuatan ekonomi atau infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Salah satu fondasi penting dalam mencetak generasi unggul adalah perhatian terhadap kesehatan anak, termasuk imunisasi, pencegahan stunting, dan tindakan preventif seperti sunat.
Dalam sebuah diskusi, dokter spesialis anak, dr Muhammad Akbar, MKed (Ped), SpA mengatakan, pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun anak-anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing global. Dr. Muhammad Akbar, Sp.A juga menegaskan bahwa imunisasi adalah kunci perlindungan anak dari berbagai penyakit berbahaya.
“Imunisasi bukan hanya melindungi individu, tetapi juga menciptakan kekebalan kelompok. Anak yang tidak diimunisasi akan lebih rentan terhadap komplikasi berat dari penyakit seperti campak, difteri, dan polio,” ujar Dr. Akbar SpA dalam talk show jelang peringatan Hari Anak Nasional 2025 bertema “Anak hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” di The Clinic Pediatrics Care Medan, Jalan Sekip No.4 Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, Jumat (18/7/2025).
Ia juga menyoroti pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap program imunisasi rutin dan tambahan, terutama di wilayah Sumatera Utara yang cakupan rendah.
“Dari data The Clinic Pediatric Care Medan masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Saya berharap orang tua dapat melakukan imunisasi lengkap pada anak untuk mencegah berbagai penyakit yang dapat menghambat tumbuh kembang,” tuturnya.
Sementara itu, dokter spesialis anak dari The Clinic Pediatric Care Medan, Dr Halida Rahma Nasution, Sp.A, membahas tantangan besar yang masih dihadapi Indonesia khususnya SumateraUtara, yakni stunting. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2024, prevalensi stunting nasional tercatat sebesar 21,5%, masih jauh dari target WHO sebesar 14%.
“Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan, tetapi mencerminkan kekurangan gizi kronis yang dapat berdampak pada kecerdasan, produktivitas, dan kesehatan jangka panjang,” jelas Dr. Halida.
Ia menambahkan, pencegahan stunting harus dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun. Gizi seimbang, pemberian ASI eksklusif, dan edukasi ibu menjadi kunci utama.
Sedangkan, Perwakilan dari Power Team sekaligus aktivis kesehatan, Ahmad Husaini Dongoran menyoroti peran penting sunat atau khitan dalam menjaga kebersihan dan kesehatan anak laki-laki.
“Sunat bukan hanya tradisi, tapi juga bentuk intervensi medis yang terbukti dapat menurunkan risiko infeksi saluran kemih, penyakit menular seksual, dan kanker penis di masa depan,” kata Ahmad.
Ia menekankan bahwa prosedur sunat yang dilakukan secara medis dan sesuai standar dapat menjadi bagian dari investasi kesehatan jangka panjang anak laki-laki Indonesia.
“Khitan itu meningkatkan kualitas kesehatan anak bangsa,” pungkasnya. (ng)
