Prima Takasi Ginting, Meramu Minyak dari Tanah Karo

Pemilik CV Mejuah-juah, Prima Takasi Ginting. Netty

Fokusmedan.com : Mempertahankan dan melestarikan warisan keluarga bukanlah hal yang mudah. Bahkan, terkadang di tengah perjalanan bisa saja melewati batu yang terjal atau mandek di jembatan putus.

Inilah yang pernah dilewati pemilik CV Mejuah-juah, Prima Takasi Ginting. Niat hati ingin mengembangkan produk kosmetik tradisional minyak khas Kabupaten Tanah Karo, namun bermacam badai mencoba menghempas asanya.

Seakan ingin menaklukkan badai, berbagai cara mulai dari belajar bagaimana cara menginovasi produk agar diterima masyarakat, manajemen pemasaran hingga merekrut pekerja dilakukan dengan hati. Tetapi, itu tak serta merta mendapat hasil yang diinginkan.

Bertemu dengan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Utara (Sumbagut), membawa satu titik cerah bagi usahanya. Bagaimana tidak, di tengah krisis permodalan, Pertamina “melenggang” menawarkan modal dengan bunga relatif terjangkau. Kondisi itu menambah semangatnya untuk berjuang meraih kesuksesan.

Di tangan pria kelahiran Tanjung Morawa, 5 Mei 1992 yang mumpuni ini, minyak Karo yang terkenal dengan khasiat manjur untuk kesehatan namun memiliki bau menyengat diubah menjadi minyak Karo dengan aroma wangi tanpa mengurangi manfaat.

“Indonesia itu kaya, rempah-rempah tak kalah dengan negara lain seperti China. Tinggal bagaimana kita menggali dan memanfaatkan rempah-rempah itu menjadi daya guna,” ujar Prima di kediamannya Dusun V Desa Ujung Serdang, Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, Kamis (20/10/2022).

Bermula sekitar 2014 silam, ketika Prima memasuki semester akhir di Universitas Negeri Medan (Unimed) jurusan pendidikan tata rias, kondisi kekurangan ekonomi dan beasiswa yang harus dicabut oleh pihak kampus, memaksanya untuk menghasilkan uang sendiri agar bisa menyelesaikan kuliah.

Diakuinya, banyak masyarakat yang tidak mau memakai minyak Karo karena terganggu dengan aromanya. Padahal, sambung Prima, minyak Karo sendiri merupakan salah satu ramuan tradisional Indonesia seperti minyak urut atau minyak gosok yang sangat dipercaya untuk penyembuhan penyakit luar.

Bahkan, minyak Karo merupakan produk lengkap karena di dalamnya terkandung rempah-rempah mulai dari akar, kulit, batang, daun bahkan bunga pohon. Dan semuanya, di dapat dari hutan atau daerah pegunungan di Kabanjahe Sumatra Utara.

Beruntung, dengan ilmu yang didapat di bangku kuliah, Prima bisa berinovasi dengan bahan-bahan seperti minyak kelapa hijau, serei dan param yang bisa mengeluarkan wewangian. Minyak ini 100% alami dan memiliki daya simpan yang lama meskipun tanpa bahan kimia.

“Dari situ saya berpikir, ini bisa menjadi peluang bisnis di Indonesia. Saya berhasil memodifikasi minyak Karo menjadi lebih wangi dan mempunyai nilai lebih, yang biasanya beli satu botol tetapi orang bisa beli tiga botol karena ada perbedaan aroma dan manfaat,” ucapnya.

Meski berhasil membuat produk yang diinginkan konsumen, kata dia, sistem penjualan dianggap kurang efisien karena hanya menjual ke orang terdekat saja seperti teman ataupun dosen. Untuk menjual lebih banyak lagi, Prima mulai memasarkan dengan menitipkan minyak Karo ke toko-toko kelontong dengan sistem titip jual, laku baru dibayar.

Perdana merintis karirnya, bermodal Rp200.000, Prima menghasilkan sekitar 10 botol minyak Karo. Dengan berjalannya waktu dan banyaknya permintaan, dalam sebulan ia bisa memproduksi puluhan botol minyak Karo.

“Empat tahun berbisnis, memang ada perubahan omset, tetapi bisa dikatakan belum mendapatkan hasil maksimal,” ucapnya.

Menurut anak ketiga dari pasangan K Ginting dan M Barus ini, kendala-kendala yang masih sering dihadapi saat itu ada diperkaryawan, pekerja banyak mengulah bahkan sering berganti-ganti. Selain itu, sistem manajemen juga active income di mana bisnis tidak berjalan tanpa kehadiran dirinya begitu juga dengan pemasaran yang masih carut marut.

Kurangnya pengetahuan dan tidak ada mentor pembimbing membuatnya banyak belajar baik dari buku, media sosial ataupun bertemu langsung dengan pebisnis di Kota Medan. Cara ini diyakininya dapat sedikit memperbaiki sistem bisnis yang dijalankannya.

“Sistem manajemen bisnisnya masih active income, belum passive income, bisnis masih harus langsung dipantau. Tentunya dengan adanya mentor, diharapkan bisnis bisa lebih cepat berjalan dengan baik,” tandasnya.

Pertamina Beri Keberanian dan Peluang Lebarkan Sayap Bisnisnya

Prima Takasi Ginting sedang bersama para pekerja. Netty

Membangun bisnis yang menghasilkan tidak akan dapat dilakukan dalam waktu singkat. Semuanya harus dimulai dari bawah, perlahan-lahan berkembang menjadi sukses.

Modal menjadi salah satu hal mendasar agar usaha yang dilakukan berjalan lancar. Namun, tatkala bisnis yang dijalankannya Prima Takasih Ginting jalan di tempat, “angin segar” datang dari PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dan membuat dirinya lebih berani melebarkan sayap bisnisnya.

Keseriusan mengelolah bisnis minyak Karo ini juga mulai ditunjukkan dirinya sejak lima tahun terakhir. Prima bercerita, tiga tahun lalu, pihak Pertamina datang dan memberitahu bahwa ia terpilih sebagai mitra binaan dan menawarkan Dana Pinjaman Program Kemitraan dengan jasa administrasi sebesar 3 persen per tahun.

Tentunya, kehadiran Pertamina disambut hangat oleh dirinya, apalagi permodalan saat itu sedikit “goyang” tetapi tetap berjalan meski mulai diterpa pandemi Covid-19. Penjualan tetap ada karena orang masih tetap membutuhkan obat-obatan.

“Permodalan memang goyang saat itu, artinya dengan ada dana lebih membuat kita lebih yakin untuk berbisnis. Mungkin Pertamina membaca bagaimana bisnis saya berjalan, awalnya saya ditawari pinjaman dana Rp50 juta dan tanpa pikir panjang langsung saya terima karena jika dihitung-hitung, yang harus saya kembalikan terasa lebih ringan jika dibandingkan meminjam di bank,” ujarnya.

Modal tersebut, sambungnya, dipakai untuk memperluas tempat produksi agar pekerja lebih leluasa melakukan proses perebusan rempah-rempah. Dan sampai saat ini, pinjamanan dana yang ditawarkan Pertamina mencapai Rp200 juta.

“Saya sudah tiga kali meminjam dana, ya mungkin pihak Pertamina percaya karena saya bayar selalu tepat waktu bahkan terkadang sebelum waktunya sudah saya bayar. Selain itu juga, bisnis saya hingga saat ini terbilang lancar,” tegasnya.

Selain modal, tambahnya, Pertamina komit membantu dalam mengenakan produk miliknya ke pameran-pameran yang digelar. Ia pernah diajak ikut pameran produk ke Jakarta pada tahun 2019.

“Pertamina ke mana-mana membawa produk kita dan mengenalkan ke masyarakat, inilah yang membuat saya senang, tim Pertamina membantu itu tidak setengah-setengah. Produk kita jadi banyak yang tahu, ada di media sosial juga seperti Facebook dan Youtube, jangkauannya lebih luas,” tuturnya.

Tetapi, kata Prima, selain modal, yang dibutuhkan pelaku UMKM adalah mentor yang bisa memberi perubahan dan dukungan bagaimana bisa menjalankan bisnis passive income. Inilah masalah utama UMKM, hanya sekadar menjalankan usaha dan ketika dia tidak bekerja maka usaha tidak berjalan.

“Akan lebih baik jika Pertamina memberikan pendidikan bagaimana cara manajemen bisnis yang baik, ini sangat membantu pelaku UMKM. Memang Pertamina pernah mengedukasi pelaku UMKM secara online lewat zoom, tapi maunya tatap muka sehingga bisa langsung mempraktekan dan bertanya jika tidak mengerti,” tukasnya.

Prima berharap, Pertamina tidak berhenti dan tetap memberikan peluang untuk pelaku UMKM lainnya menjafi mitra binaan sehingga pelaku UMKM bisa meningkatkan kemampuannya dan dapat bersaing menjadi tangguh dan mandiri. Ia yakin, jika ada ruang, kesempatan dan modal, pelaku UMKM dapat bersaing di berbagai sektor yang bersentuhan langsung konsumen di era society 5.0 ini.

“Sukses itu ngak instan, pasti mengalami jatuh bangun dan itu wajar, tinggal bagaimana kita mampu keluar dari masalah itu. Semangat dan tidak putus asa menjadi salah satu jalan menuju sukses,” pungkasnya.

Menyejahterahkan Diri Sendiri dan Orang Lain

Salah seorang pekerja di CV Mejuah-juah. Netty

Sukses adalah berhasil dalam segala hal, terutama dalam masalah finansial. Idealnya, apa yang diinginkan bisa diwujudkan dan feedback yang didapat adalah berupa rasa bahagia yang begitu maksimal. Namun, sukses bagi setiap orang mengandung arti yang bervariasi dan tidak bisa menjadi sama.

Meski saat ini minyak Karo Mejuah-juah sudah dipasarkan di 5.000 outlet di Sumatra Utara dan produknya ada dihampir semua apotek dan toko obat ataupun kedai-kedai kelontong, Prima belum berpuas diri. Bukan hanya di Kota Medan, Kabanjahe, Langkat dan lainnya, minyak Karo juga sudah menjajaki pasar Jakarta, Pekan Baru, Riau yang disebar melalui agennya.

Tak tanggung-tanggung, dibantu delapan pekerja, produksi minyak Karo miliknya bisa mencapai 6.000-7.000 botol per bulan dengan harga produksi Rp20.000 perbotol, penghasilan yang diraihnya sekitar Rp50-60 juta per bulan.

“Saya belum merasa puas, masih banyak yang ingin dicapai. Untuk sekarang, masih pada tahap “pemanasan”,” katanya.

Berjalan tujuh tahun, tak dipungkiri jerih payah yang dilakukan dari bisnis yang digelutinya berbuah manis. Selain bisa membangun rumah dengan luas 10×20 meter, Prima juga memiliki tempat produksi 20×20 meter.

Namun, baginya kesuksesan bukan hanya memperkaya diri sendiri, jika usahanya bisa memberi manfaat bagi keluarga dan masyarakat sekitar, itu bisa dikatakan sebagai sukses yang hakiki.

Suami dari Sri Alemina BR Karo tersebut, tak sendiri menjalankan bisnisnya. Meski dengan manajemen bisnis terpisah, ia bersama dengan saudara laki-lakinya, Fajar Ginting dan Karisma Ginting membangun pundi-pundi keuangan dengan mengembangkan minyak Karo.

Begitu juga dengan para pekerja, ia mengajak masyarakat sekitar yang ingin bekerja dengannya. Meski saat ini masih dibantu delapan pekerja, kemungkinan tahun depan akan ditambah lagi tahun karena permintaan semakin meningkat.

“Sekarang, minyak Karo sudah ada lima varian, kelapa hijau, serei, param, cengkeh dan kayu putih. Awal tahun nanti, saya akan mulai memasarkan produk baru yakni krim Karo untuk luka bakar dan luka potong. Dengan banyaknya permintaan, pastinya membutuhkan beberapa pekerja lagi,” tuturnya.

Salah seorang yang merasakan kehadiran minyak Karo dalam kehidupannya adalah Susiati (53). Warga Dusun V Desa Ujung Serdang, Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara ini sudah bekerja sekitar lima tahun terakhir.

Sebelumnya, ibu yang memiliki tiga anak ini bekerja di pabrik roti di mana tugasnya menjemur roti. Tetapi sekarang, ia bekerja di CV Mejuah-juah mulai dari pukul 08.00-17.00 WIB di proses produksi.

“Yang paling membantu itu adalah disaat pandemi Covid-19, banyak yang tidak bekerja termasuk suami saya yang buruh bangunan. Tetapi, saya tetap bekerja di sini dan itu sangat menolong perekonomian kami, apalagi masih ada satu anak yang masih sekolah,” ujar istri Mislan ini.

Ia berharap, berharap bisnis minyak Karo ini berjalan lancar. Sehingga, semakin banyak orang-orang kecipratan rezeki.

Prima melanjutkan, masih banyak mimpi-mimpi yang belum ia capai, salah satunya membangun tempat terapi untuk rempah-rempah khas Karo. Dengan begitu, semakin banyak orang yang bisa merasakan manfaat pengobatan dengan ramuan herbal atau non medis.

Selain itu, dengan kerja keras, tekad, komitmen, dan semangat pantang menyerang, Prima ingin minyak Karo buatannya bisa go nasional dan go internasional. Meski memiliki kemampuan untuk menguasai teknologi digital dan pemasaran secara online, namun hal itu dianggap tidak cukup.

“Misalnya begini, pelaku UMKM ingin mengeksporkan produknya, pasti perlu bantuan dari pemerintah. Ketidakmampuan inilah yang harus dibantu, jadi mohon lihatlah kami pelaku UMKM yang memang memiliki produk yang kompeten,” tuturnya.

Begitupun, katanya, pelaku UMKM harus banyak belajar bisnis, karena tidak selamanya bisa mengandalkan bantuan pemerintah. Mengandalkan kemampuan diri sendiri lebih baik dari pada menunggu bantuan datang.

“Apapun ceritanya, pelaku usaha itu harus pandai membaca kesempatan dan memiliki kesiapan. Meski ada keberuntungan tapi tidak dibarengi dengan keduanya, bisa jadi usaha kita tidak beruntung,” pungkasnya.

Bantu UMKM Mandiri dan Naik Kelas, Pertamina Gencar Galakkan Program Kemitraan

Section Head Communication & Relations Sumbagut PT Pertamina Patra Niaga, Agustiawan. Dok Pertamina

PT Pertamina (Persero) melalui Program Kemitraan terus menjalankan pembinaan kepada pelaku UMKM binaannya. Bahkan, sejumlah program banyak digelar untuk membantu UMKM naik kelas.

Section Head Communication & Relations Sumbagut PT Pertamina Patra Niaga, Agustiawan mengatakan, sebagai BUMN, Pertamina memiliki Program Pendanaan UMK yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri sekaligus memberikan multiplier effect bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Melalui Program Pendanaan UMK, kata dia, Pertamina melakukan pendampingan dan pembinaan kepada para pelaku UMKM. Bukan hanya menjawab tantangan utama pengembangan usaha UMKM dalam hal peningkatan kompetensi tetapi juga peningkatkan akses pemasaran dan kemudahan akses permodalan dengan program terarah untuk menghasilkan UMKM naik kelas.

“Sejak tahun 1993 sampai dengan September 2022, jumlah mitra binaan UMKM Pertamina di Sumatra Utara itu sebanyak 12.045 orang,” ujar Agustiawan dalam keterangannya, Rabu (26/10/2022).

Pertamina, jelasnya, mendukung program pemerintah dalam upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional melalui pemberdayaan UMKM. Program bantuan kemitraan telah disalurkan ke berbagai sektor yakni sektor industri, jasa, perdagangan, perikanan, perkebunan, pertanian, dan peternakan.

“Untuk syaratnya, pelaku UMKM telah melakukan usaha minimal enam bulan serta memiliki potensi dan prospek untuk dikembangkan. Kemudian, milik warga negara Indonesia (WNI), berbentuk badan usaha perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, termasuk usaha mikro atau koperasi dan lain sebagainya,” terangnya.

Namun, sambungnya, tak semua mitra binaan Pertamina mengalami kelancaran dalam berbisnis, terkadang omset atau keuntungan UMKM bisa naik turun. Jika terbentur pembayaran, tim Pertamina langsung melakukan monitoring, baik secara langsung atau online untuk mencari solusi.

Diakui Agustiawan, dukungan kepada pelaku UMKM bukan hanya berbentuk modal, ada juga program pembinaan seperti diikutsertakan dalam pameran lokal maupun nasional. Serta diberikan pelatihan seperti Pertamina UMKM Academy yang membantu UMKM sampai go global.

Sebagai apresisasi bagi UMKM yang lolos seleksi Pertamina UMKM Academy diberikan bantuan hibah, UMKM ditemukan dengan pelaku bisnis seperti baru-baru ini temu bisnis UMKM dengan Perhotelan di Medan.

Menurutnya, pelaku UMKM memiliki peran penting bagi Indonesia. UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional. Hal itu lantaran UMKM mampu menyerap tidak kurang dari 95 persen tenaga kerja di Indonesia, 56 persen total investasi yang ada, serta memberikan kontribusi sebesar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

“Karena pentingnya posisi UMKM tersebut, Pertamina sebagai BUMN turut serta untuk memberikan pendampingan dan pembinaan sehingga usaha mereka terus maju dan naik kelas,” tuturnya.

Ia menambahkan, dukungan Pertamina kepada UMKM merupakan bagian dari pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan yang selaras dengan sustainable development goals (SDGs). Tujuan nomor delapan yaitu, menyediakan pekerjaan yang layak dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Pertamina senantiasa hadir bagi para pelaku UMKM. Ini merupakan bagian dari kami melayani masyarakat terutama untuk bisa tumbuh mandiri, menjadi wirausaha yang unggul dan untuk bisa menembus pasar digital,” tegasnya.

Ia berharap dukungan dan kolaborasi seluruh pihak bersama Pertamina, agar bisa terus mencetak pelaku UMKM yang jauh lebih baik lagi. Termasuk mampu go modern, go online, go digital, dan tentunya go global. (ng)