Kepala Ombudsman Sumut kunjungi bayi lahir dengan usus di luar perut

fokusmedan : Syaiful Fachri (39) warga Gohor Lama, Stabat, Kabupaten Langkat mengadu kepada Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara (Sumut) Abyadi Siregar terkait nasib anaknya yang lahir dengan kondisi usus di luar perut.

Anak lelakinya yang berusia tujuh hari dan dirawat sejak Sabtu (14/11/2020) hingga kini belum juga dioperasi oleh pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan,

“Memang saat USG pertama, dokter mengatakan kondisi anak saya ada kelainan. Tapi karena saya kurang yakin, saya mencari dokter lain, dan dikatakan bahwa anak saya baik-baik saja,” ungkapnya.

Namun setelah proses persalinan dibantu bidan, ternyata bayi lahir dengan seluruh ususnya berada di luar tubuh. Karena itu, bayi yang diberinya nama Fadil Fachrizi langsung dilarikan ke RS Putri Bidadari Binjai, yang selanjutnya dirujuj kembali ke RSUD dr Pirngadi Medan.

Setibanya di RSUD dr.Pirngadi Medan, bayinya langsung dirawat di ruang Perinatologi. Namun sampai sekarang, bayi yang diberi nama Fadil Fachrizi belum juga kunjung dioperasi, sehingga  ia meminta agar anaknya dapat dirujuk ke RSUP Haji Adam Malik.

“Saya mohon kalau bisa dibantu anak saya pak. Saya nggak ngerti pak, kalau bisa dioperasi. Kalau Allah lebih sayang kepada anak saya, saya ikhlas pak, tapi paling tidak ada tindakan,” ucapnya memohon.

Didampingi Kepala Keasistenan Pemeriksaan Laporan Ombudsman Sumut James Marihot Panggabean, Abyadi pun melakukan kunjungan ke ruang perawatan bayi itu. Dalam kunjungan tersebut, mereka pun sempat berdialog dengan perwakilan manajemen rumah sakit terkait kodisi gastroschisis yang dialami Fadil.

Melalui sambungan telepon, dokter bedah RSUD dr Pirngadi Medan, dr Sayed Misyari’ SpB menjelaskan, terkait operasi yang belum dilakukan, mengingat kondisi pasien.

“Bagaimana usus yang begitu banyak di luar dimasukkan ke dalam kantong perut yang kecil. Kita membedah ini jangan sampai memperburuk keadaan, dan jangan sampai malah menyakiti dia,” jelasnya.

Ia mengaku, memang dalam kelainan bawaan ada bermacam-macam. Dalam kasus gastroschisis ini juga ada yang sedikit dan ada yang banyak.

“Jadi penanganan kalau sedikit bisa masuk sendiri. Sedangkan kasus ini semua keluar termasuk kantong kemihnya. Jadi hal yang tidak mungkin. Harapan hidupnya juga kecil, baik dioperasi ataupun tidak dioperasi,” bebernya.

Ia menyampaikan, penanganan yang dilakukan terhadap bayi sudah maksimal, sehingga bayi saat ini dalam kondisi stabil. Dia menegaskan, pihaknya juga terus memberikan dukungan penuh agar bayi dapat terus bertahan.

Terkait penjelasan tersebut, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumut Abyadi Siregar meminta pihak agar memahami jika pembedahan dilakukan sama halnya dengan menyakiti karena perutnya yang kecil.

“Hal ini lah yang membuat mereka tidak bisa melakukan operasi,” tandasnya.(riz)