
Fokusmedan.com : Kinerja IHSG pada sesi perdagangan pagi hingga pukul 14.30 terpantau mencoba untuk bertahan di atas level 6.980. IHSG bahkan sempat menguat di atas ;evel 7.000 pada sesi pembukaan.
Seiring berjalannya transaksi di pasar, banyak bursa di Asia yang kinerjanya kian memburuk hingga sesi perdagangan ditutup. Dan tekanan pada IHSG kian kuat saat jam transaksi menunjukan pukul 14.30. Pelemahan IHSG ternyata juga terjadi pada mata uang Rupiah yang melemah terlebih dahulu dibandingkan dengan IHSG.
Mata uang rupiah bahkan sempat ditransaksikan di level 15.495 per US Dolar. Sebelum akhirnya ditutup melemah di kisaran level 15.485 per US Dolar.
Sementara itu, IHSG mengalami tekanan yang begitu besar dan ditutup anjlok 1.07% di level 6.923,80.
Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan, jika melihat sejumlah indikator penting seperti US Dolar Index, harga minyak mentah dunia, maupun pergerakan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun AS, semuanya terlihat dalam kondisi yang cukup stabil dari sejak sesi perdagangan pembukaan.
Bahkan selama sesi perdagangan hari ini, imbal hasil US 10 Years Treasury mengalami penurunan. Namun pelaku pasar sepertinya masih dikuatirkan akan rilisd ata inflasi yang mengecewakan di pekan ini, yang bisa saja menggiring perubahan sikap atau kebijakan baik di Bank Sentral di Eropa maupun di AS.
“Saya menilai dugaan koreksi yang besar di pasar keuangan kita saat ini dipicu ketakutan pasar itu sendiri,” ujarnya, Selasa (26/9/2023).
Selain itu, terjadi aksi profit taking pada pasar saham seiring dengan kinerja IHSG yang belakangan ini mampu berkonsolidasi dikisaran 7.000. Sementara itu, dipastikan untuk perdagangan besok juga tidak ada agenda ekonomi besar yang dijadwalkan dirilis.
Semuanya masih situasi di mana pasar keuangan tidak akan banyak dipengaruhi oleh agenda ekonomi yang mampu merubah arah pergerakan pasar secara signifikan.
Selain koreksi pada IHSG dan rupiah, harga emas juga terkoreksi ke level $1.913 per ons troynya. Atau sekitar 955 per gram. Pelaku pasar benar benar dalam situasi dimana pasar mencoba meninggalkan aset aset beresiko dan emas, seiring dengan kenaikan imbal hasil US 10 Year Treasury. (ram)
