
Fokusmedan.com : Dampak kebangkrutan dari sejumlah perbankan di Amerika Serikat dan Eropa masih akan menjadi sentimen yang menakutkan bagi pasar keuangan selama sepekan ke depan. Pasalnya Bank Sentral AS nantinya akan menentukan besaran bunga acuan, yang menjadi tonggak baru kebijakan The FED setelah terjadi prahara pada perbankan AS.
Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan, kebijakan tersebut sangat penting, mengingat dampak dari kenaikan suku bunga acuan selama ini telah membuat industri perbankan AS mengalami masalah. Dan sangat berpeluang menjalar dan memicu terjadinya krisis perbankan global.
“Ada ancaman besar di mana krisis perbankan yang sudah terjadi, namun di sisi lain target pengendalian inflasi di AS belum mencapai sasarannya di 2%,” ujarnya, Senin (20/3/2023).
Sehingga, lanjutnya, The FED akan berada dalam posisi sulit untuk menentukan pilihan yang sama memberikan dampak buruk bagi perekonomian. Tidak menaikkan bunga acuan berarti membiarkan inflasi tetap tinggi, dan menaikkan bunga acuan justru bisa berdampak serius pada kemungkinan rentetan masalah krisis perbankan yang baru meskipun ia memperkirakan The FED masih akan menaikkan bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Dan jika di pekan ini The FED masih menyuarakan kemungkinan kenaikan bunga acuan, dengan mengabaikan krisis perbankan yang sudah terjadi maka bukan tidak mungkin tekanan yang lebih besar akan terjadi paada pasar keuangan global.
“Di titik ini, saya juga turut meragukan apakah BI akan tetap pada komitmen diawal untuk tidak menaikkan bunga acuan, atau justru berubah haluan,” ujarnya.
Pasar keuangan khususnya pasar saham (IHSG) masih berpeluang mengalami tekanan sepekan kedepan. Ia menilai level psikologis 6.500 sangat berpeluang untuk kembali diuji nantinya.
Sementara itu mata uang rupiah masih akan berpeluang bergerak dalam rentang 15.350 hingga 15.450 per US Dolarnya. Dan harga emas diproyeksikan akan bergerak dalam rentang $1.870 hingga $1.950 per ons troy nya.
Saat ini, tambahnya, kita tengah diuji untuk melihat bagaimana rasionalitas hubungan antara krisis perbankan di negara lain, terhadap kinerja pasar keuangan di tanah air. Sekalipun sejauh ini masih masih terhindar dari gejolak yang sama akan tetapi bukan berarti dampak buruk dari krisis perbankan tersebut sudah selesai.
“Kebijakan menaikkan bunga acuan, sejatinya akan mendorong pada kemungkinan masalah fundamental ekonomi lain, yang memang menjadi korban dari kenaikan bunga acuan itu sendiri,” pungkasnya. (ram)
