
Fokusmedan.com : Penyakit malaria yang ada di Medan sebagian besar adalah rujukan dari luar kota.
Hal ini disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Medan dr Pocut Fatimah Fitri. Ia menyebutkan, Kota Medan bukan termasuk daerah endemis penyakit akibat gigitan nyamuk.
“Kasus yang ada di rumah sakit (RS) Kota Medan, sebagian besar adalah rujukan dari luar Kota Medan,” ungkapnya kepada wartawan, Rabu (5/10).
Dia menjelaskan, berdasarkan data sistem informasi malaria (Sismal) Kota Medan, sampai dengan Agustus 2022, total kasus yang tercatat ada 90 kasus. Jumlah itu, terdiri dari pada bulan Januari sembilan kasus, Februari lima kasus, Maret 12 kasus, April 10 kasus, Mei 13 kasus, Juni 14 kasus, Juli 15 kasus, Agustus 12 kasus.
“Jumlah itu terdiri tujuh RS rujukan yakni dari RSUP H Adam Malik 18 orang, RSU Colombia 38 orang, RS Siloam 11 orang, RS USU Medan enam orang, RS Bhayangkara empat orang, RS Murni Teguh 10 orang dan RS Elisabeth tiga orang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Pocut menerangkan, pasien positif yang dilayani di RS rujukan Kota Medan berasal dari kabupaten endemis malaria dan yang bepergian ke daerah endemis malaria. Di antaranya, paparnya, Provinsi Papua tujuh orang, Riau lima orang, Sumatera Barat satu orang.
Kemudian Jawa Tengah satu orang, Labuhanbatu satu orang, Asahan 37 orang, Batubara 13 orang, Serdangbedagai 17 orang, Nias Selatan dua orang, Labuhanbatu Utara tiga orang dan Langkat satu orang.
“Jadi saya sampaikan kasus malaria di Medan berasal dari daerah endemis,” tegasnya.
Oleh karena itu Pocut mengatakan, upaya yang dilakukan Kota Medan dalam penanganan kasus malaria antara lain, melak pelatihan E-Sismal bagi rumah sakit rujukan hingga pelatihan E-Sismal buat Puskesmas tahun 2023.
“Selanjutnya mendistribusikan obat anti malaria ke rumah sakit rujukan, dan melaporkan kasus malaria melalui aplikasi E-Sismal setiap bulan,” tandasnya.
