
Fokusmedan.com : Lebih dari seratus Alumni SMA Negeri 2 Yayasan Tunas Bangsa Soposurung yang tergabung dalam Ikatan Alumni Asrama Yayasan Soposurung (Paryasop) dari seluruh dunia bersama para siswa di Asrama Yasop merayakan Imlek bersama Ketua Dewan Pengawas Yayasan TB Soposurung, Robert Njo dan keluarga melalui aplikasi zoom.
Perayaan yang selalu dilaksanakan Paryasop setiap Imlek itu juga dihadiri Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Teddy Sugianto dan Wakil Ketua Umum INTI Haris Chandra, serta Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) yang juga Ketua Dewan Pakar Perhimpunan INTI, Budi S. Tanuwibowo.
Robert Njo secara khusus mengucapkan terima kasih atas rutinitas Perayaan Imlek yang dilaksanakan Paryasop dan berharap Imlek tahun ini tetap membawa kebahagiaan bagi seluruh umat.
Sebagaimana perayaan Imlek sebelumnya maka selalu dihadirkan tokoh-tokoh yang akan memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan bagi para Alumni dan siswa Yasop. Khusus pada perayaan Imlek Paryasop tahun ini dihadirkan tiga pembicara untuk memberikan pemahaman atas arti dari perayaan Imlek serta nilai-nilai tradisi dan budaya yang terkait dengan Imlek.
“Perayaan Imlek ini merupakan kedua kalinya dilaksanakan secara daring, karena situasi pandemi. Begitupun, kita wajib bersyukur karena kita masih dapat berkumpul merayakan Imlek di tengah-tengah situasi pandemi ini,” sebutnya, Selasa (15/2/2022).
Kebersamaan seperti dalam suasana Imlek ini, lanjutnya, menjadi kebahagiaan tersendiri di mana tampak bersatunya Alumni Yasop dan adanya ikatan yang kuat antara Alumni dengan Alamamaternya serta adik-adik kelas mereka.
Kita doakan semua sehat-sehat dan tetap mematuhi protokol kesehatan di mana pun berada, karena kondisi saat ini belum jadi endemi,” jelas Robert Njo melalui siaran pers panitia pelaksana.
Dalam kesempatan tersebut banyak penjelasan yang dipaparkan ketiga undangan utama di acara tersebut, yang membuat seluruh peserta menjadi lebih memahami banyak hal terkait Budaya Tionghoa.
“Kita dijelaskan berbagai hal terkait Imlek. Mulai dari tentang penanggalan dan perhitungan kalender Imlek yang tidak asal ditetapkan tetapi ada dasar penetapannya, bahkan dapat dipahami secara ilmiah, hingga tentang tradisi lainnya. Penjelasan dari pak Budi, pak Haris dan pak Teddy termasuk tentang bagaimana pengalaman mereka saat merayakan Imlek di masa kecil hingga saat ini, disampaikan cukup gamblang sehingga dengan cepat bisa kita pahami,” jelas Freddy Siahaan, salah seorang Alumni Yasop yang selalu hadir saat perayaan Imlek Paryasop setiap tahunnya.
Menurutnya, dengan perayaan itu ia dan teman-temannya alumni bisa saling melepas rindu dan bertemu meski secara virtual, termasuk dengan adik-adik kelasnya yang sekarang masih di Asrama Yasop.
Ditambahkannya, dalam kesempatan itu juga dijelaskan terkait tradisi pemberian Angpao, tradisi minum teh, pemasangan lentera atau lampion, Barongsai, makan malam bersama keluarga besar di malam Tahun Baru Imlek hingga soal Chengbeng dan sebagainya.
“Bahwa Imlek merupakan kumpul keluarga. Dulu, kata pembicara, itu disebut sebagai mengembalikan lagi tulang-tulang yang berserakan dan yang rapuh jadi semakin kuat, sekaligus menyantuni yang belum baik supaya semua bergembira,” papar Freddy.
Dijelaskan pula, ungkapnya, tentang tradisi Chengbeng sebagai bentuk bakti kepada orangtua. Sehingga, sebelum menghormati Tuhan yang abstrak, hormati dulu Orangtua yang ada bersama kita. Ada pula diceritakan tentang bagaimana malam Imlek harus membersihkan rumah karena Dewa Rejeki tidak suka rumah berantakan. Harus rapi menyambut kedatangan Dewa Rejeki. Selain itu untuk makan bersama biasanya dilakukan dengan meja bulat, yang merupakan kebiasaan luar biasa karena meja bulat tidak ada posisi yang merendahkan tapi semua yang duduk jadi sama. Meja makan bulat mencerminkan egaliter dan kesetaraan.
“Nasehat pak Haris pada Alumni, kita jangan hanya berpikir bagaimana menjalankan perusahaan saja tapi juga harus menjaga reputasi perusahaan. Sementara Pak Teddy yang senang mendengar bagaimana siswa Yasop juga belajar Bahasa Mandarin, menyatakan segera setelah pandemi turun, maka akan siap datang ke Yasop untuk bertemu langsung para siswa dan alumni. Sedangkan Pak Robert seperti selalu ditegaskannya agar semua Alumni dan siswa tetap menyayangi dan menghormati orangtua,” pungkas Freddy. Tampak hadir putra Robert Njo, Robin Njo dalam perayaan yang penuh kekeluargaan itu. (ril)
