
Fokusmedan.com : Di tengah dinamika global yang diwarnai ancaman krisis pangan, energi, dan air, pemerintah menyatakan ketahanan pangan nasional semakin kuat sebagai bagian dari visi swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, dunia saat ini tengah menghadapi tiga tekanan besar yang membutuhkan solusi cepat.
“Saat ini dunia menghadapi krisis pangan, energi, dan air. Tiga hal ini harus segera mendapatkan solusi,” ujarnya di Surabaya, Minggu (19/4/2026).
Dalam sektor pangan, pemerintah mencatat capaian signifikan pada Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Stok yang dikelola Perum Bulog telah mencapai 4,9 juta ton dan diproyeksikan menembus 5 juta ton dalam waktu dekat.
Menurut Amran, capaian tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia dan merupakan hasil penguatan produksi dalam negeri.
Ia juga menegaskan stok tersebut menjadi bagian dari antisipasi menghadapi fenomena El Nino yang berpotensi berlangsung hingga enam bulan. Pemerintah, kata dia, telah memiliki pengalaman menghadapi El Nino pada 2015 dan periode 2023–2024.
Berdasarkan data Bapanas, stok CBP saat ini meningkat hingga 221,7 persen dibandingkan periode puncak El Nino sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada September 2023, stok CBP tercatat sebesar 1,52 juta ton.
Amran menyebut masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan pangan. “Siapa pun yang ragu, silakan cek langsung ke gudang Bulog. Stok kita saat ini 4,9 juta ton dan segera mencapai 5 juta ton,” katanya.
Peningkatan stok tersebut juga didukung oleh kebijakan penghentian impor beras sejak 2025. Berdasarkan laporan Rice Outlook April 2026 yang dirilis United States Department of Agriculture, Indonesia mencatat penurunan impor beras terbesar secara global, yakni minus 3,8 juta ton dibanding tahun sebelumnya.
Sebaliknya, sejumlah negara masih bergantung pada impor. Filipina tercatat sebagai pengimpor terbesar dengan 3,6 juta ton pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi 5,5 juta ton pada 2026. Sementara Vietnam mengimpor 3,5 juta ton pada 2025 dan diperkirakan naik menjadi 3,9 juta ton tahun ini.
“Pangan kita aman. Indonesia sudah swasembada beras, bahkan untuk protein seperti ayam dan telur sudah mulai ekspor,” ujar Amran.
Dari sisi kesejahteraan petani, data Badan Pusat Statistik menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) tanpa perikanan sejak Juli 2024 konsisten berada di atas 120. Puncaknya terjadi pada Desember 2025 dan Februari 2026 dengan indeks mencapai 126,11, tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Selain itu, indeks harga yang diterima petani padi juga terus berada di atas 130 sejak Juni 2024. Pada Maret 2026, indeks tercatat sebesar 144,52, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 137,94. (ram)
