
Fokusmedan.com : Harga minyak mentah dunia bergerak turun ke kisaran 88 dolar AS per barel untuk jenis WTI dan sekitar 92 dolar AS per barel untuk jenis Brent. Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya harga minyak sempat menyentuh level 113 dolar AS per barel pada perdagangan sebelumnya.
Analis Pasar Keuangan, Gunawan Benjamin, mengatakan penurunan harga minyak dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut kemungkinan konflik dengan Iran akan segera berakhir. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Di sisi lain, harga emas dunia justru mengalami kenaikan sebagai respons atas dinamika tersebut. Pada perdagangan hari ini, harga emas dunia tercatat menguat ke level 5.133 dolar AS per ons troy atau berada di kisaran Rp2,8 juta per gram.
Menurut Gunawan, dalam beberapa waktu terakhir harga emas relatif tidak mengalami pergerakan yang terlalu signifikan setelah sebelumnya pasar diwarnai kekhawatiran stagflasi seiring lonjakan harga minyak mentah dunia.
Ia menambahkan, spekulasi mengenai kemungkinan penundaan pemangkasan suku bunga acuan juga mulai mereda. Meski demikian, pelaku pasar masih mewaspadai potensi memburuknya eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat maupun Israel.
Sementara itu, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi ini terpantau menguat ke level Rp16.860 per dolar AS. Penguatan rupiah turut didorong oleh sejumlah indikator keuangan Amerika Serikat yang menunjukkan pelemahan.
Di antaranya adalah indeks dolar AS (USD Index) yang turun ke kisaran 98,73, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang melemah ke level sekitar 4,113 persen. Kedua indikator tersebut memberikan ruang bagi penguatan rupiah pada perdagangan hari ini.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di level 7.443 pada awal perdagangan, menjelang rilis data penjualan ritel domestik.
Meski terdapat agenda ekonomi penting, Gunawan menilai perhatian pelaku pasar masih akan tertuju pada perkembangan situasi di Timur Tengah. Pasar keuangan domestik berpeluang mengikuti pergerakan mayoritas bursa di kawasan Asia yang juga dipengaruhi dinamika global tersebut. (ng)
