Wang Yi Tegaskan Kebijakan Luar Negeri China: Tolak Hegemoni dan Tata Kelola Dunia oleh Negara Besar

Fokusmedan.com : Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, baru-baru ini menegaskan sikap tegas negaranya terkait tatanan global. Beijing secara eksplisit menolak gagasan bahwa negara-negara besar harus bersama-sama mengatur dunia. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah konferensi pers penting di Beijing.

Penolakan ini disampaikan Wang Yi pada Minggu, 8 Maret 2026, di sela-sela Sidang Keempat Kongres Rakyat Nasional (NPC) ke-14. Konferensi pers tersebut menanggapi konsep hipotetis China dan Amerika Serikat memimpin tata kelola dunia. Sikap ini mencerminkan filosofi dalam Kebijakan Luar Negeri China yang berbeda.

Wang Yi menekankan bahwa China tidak akan pernah mengikuti jalur lama hegemoni kekuasaan. Ia juga menegaskan bahwa koeksistensi multipolar adalah bentuk tatanan internasional yang tepat. Pernyataan ini memberikan gambaran jelas tentang visi China di panggung global.

Penolakan China terhadap Hegemoni Global

Dalam konferensi pers, Menteri Luar Negeri China Wang Yi dengan tegas menyatakan penolakan Beijing terhadap logika bahwa negara-negara besar harus mengelola dunia bersama. Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap spekulasi mengenai peran China dan Amerika Serikat dalam tata kelola global. China berpendapat bahwa pendekatan semacam itu bertentangan dengan prinsip kedaulatan, yang menjadi pilar utama Kebijakan Luar Negeri China.

Wang Yi secara eksplisit menegaskan bahwa “China tidak akan pernah mengikuti jalan lama, di mana negara yang kuat pada akhirnya selalu berusaha mencari hegemoni, dan tidak mendukung logika negara-negara besar yang bersama-sama mengatur dunia.” Komitmen ini menunjukkan upaya China untuk memposisikan diri sebagai kekuatan yang berbeda. Negara tersebut ingin menghindari persepsi sebagai kekuatan dominan yang mencari kontrol.

Meskipun mengakui pengaruh signifikan China dan Amerika Serikat di kancah internasional, Wang Yi mengingatkan bahwa dunia terdiri dari lebih dari 190 negara. Perspektif ini menyoroti pentingnya suara dan peran setiap negara. Beijing percaya bahwa setiap bangsa memiliki hak untuk berpartisipasi aktif dalam pembentukan tatanan global.

Visi China untuk Tatanan Internasional Multipolar

Wang Yi menyoroti bahwa sejarah dunia selalu ditulis bersama oleh semua negara, bukan hanya oleh segelintir kekuatan besar. Ia juga menekankan bahwa masa depan umat manusia harus diciptakan bersama oleh rakyat dari semua bangsa. Pandangan ini menggarisbawahi filosofi inklusif dalam Kebijakan Luar Negeri China.

Diplomat senior tersebut menambahkan, “Oleh karena itu, koeksistensi yang pluralistik adalah wajah sejati masyarakat manusia, dan koeksistensi multipolar adalah bentuk yang tepat dari tatanan internasional.” Pernyataan ini memperkuat komitmen China terhadap sistem global yang lebih seimbang. Ini juga menunjukkan bahwa China menginginkan sistem yang tidak didominasi oleh satu atau dua kekuatan.

Terlepas dari perkembangan situasi internasional di masa depan, Wang Yi menegaskan bahwa China tidak akan pernah mencari hegemoni atau melakukan ekspansi. Komitmen ini bertujuan untuk meredakan kekhawatiran global mengenai kebangkitan China. Beijing ingin menunjukkan bahwa pertumbuhan kekuatannya tidak akan mengarah pada dominasi.

Konferensi Pers di Sidang NPC ke-14

Pernyataan penting ini disampaikan Wang Yi dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Beijing. Acara tersebut berlangsung di sela-sela Sidang Keempat Kongres Rakyat Nasional (NPC) ke-14. NPC merupakan lembaga legislatif tertinggi di China.

Sidang tahunan NPC ke-14 dijadwalkan berlangsung dari tanggal 5 hingga 12 Maret 2026. Konferensi pers Menteri Luar Negeri ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian sidang tersebut. Momen ini sering digunakan untuk menyampaikan posisi diplomatik penting China.

Melalui forum ini, China memanfaatkan kesempatan untuk mengkomunikasikan Kebijakan Luar Negeri China kepada audiens domestik dan internasional. Ini termasuk pandangan mereka mengenai tata kelola global dan penolakan terhadap hegemoni. Pesan yang disampaikan diharapkan dapat membentuk persepsi publik secara luas.(yaya)