
Fokusmedan.com : Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin menyebutkan, pasar keuangan di awal pekan dibayangi sejumlah agenda penting domestik seperti rilis data inflasi dan neraca perdagangan. Namun, fokus utama pelaku pasar saat ini lebih tertuju pada eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut Gunawan, pelaku pasar masih melakukan penyesuaian dengan mengkalkulasikan dampak perang terhadap kinerja pasar keuangan global maupun domestik.
“Data inflasi dan neraca perdagangan memang menjadi sentimen awal pekan. Tetapi perhatian terbesar tetap pada perkembangan perang Iran yang memicu ketidakpastian global,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan pagi terpantau melemah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan terkoreksi lebih dari 1 persen ke level 8.092. Sentimen perang menjadi pemicu utama tekanan di pasar saham.
Di sisi lain, nilai tukar Rupiah juga mengalami pelemahan dan ditransaksikan di kisaran Rp16.835 per dolar AS.
Tekanan terhadap pasar keuangan global meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah dunia. Pada Jumat lalu, harga minyak mentah jenis WTI berada di kisaran 66,7 dolar AS per barel. Namun di awal pekan ini, harganya melonjak dan sempat menyentuh level 72 dolar AS per barel.
Gunawan menjelaskan, lonjakan harga minyak berpotensi menimbulkan multiplier effect terhadap perekonomian, terutama dalam pembentukan harga kebutuhan hidup ke depan. Kenaikan signifikan tersebut dinilai dapat memicu respons negatif pelaku pasar terhadap saham maupun mata uang.
Sementara itu, harga emas dunia juga tercatat menguat ke level 5.335 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,9 juta per gram. Bahkan pada awal perdagangan pekan ini, harga emas sempat menyentuh kisaran 5.380 dolar AS per ons troy sebelum mengalami aksi ambil untung di pasar Asia.
“Sejauh ini perang telah meningkatkan tekanan di pasar keuangan dan mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas,” pungkasnya. (ram)
