Festival Li Chun Beijing: Merayakan Awal Musim Semi dengan Tradisi Kuno dan Harapan Baru

Fokusmedan.com : Pemerintah Kota Beijing secara rutin menggelar Festival Li Chun, sebuah perayaan tradisional yang menandai dimulainya musim semi. Festival ini diadakan tepat 13 hari sebelum perayaan Tahun Baru Imlek berdasarkan penanggalan tradisional China, menjadikannya momen penting bagi masyarakat setempat.

Pada Rabu (4/2), edisi ke-19 dari Festival Budaya Li Chun ini dipusatkan di Observatorium Kuno Beijing, sebuah lokasi bersejarah yang dulunya digunakan para cendekiawan Dinasti Ming dan Qing untuk observasi astronomi. Tujuan utama festival ini adalah untuk menghargai pergantian musim, menunjukkan rasa hormat kepada bumi, dan memanjatkan doa untuk panen yang berlimpah di masa mendatang.

Li Chun sendiri merupakan titik awal dari 24 titik musim dalam setahun, melambangkan harapan baru, kelahiran kembali, pertumbuhan, serta permulaan yang segar. Perayaan ini menjadi simbol optimisme dan persiapan menyambut siklus kehidupan yang baru, terutama bagi sektor pertanian.

Ritual Kuno dan Simbol Harapan Baru

Festival Li Chun di Beijing menampilkan serangkaian ritual tradisional yang kaya makna, berpusat pada tema penyambutan musim semi dan kesuburan. Salah satu ritual utama adalah membangunkan sapi musim semi dan memberikan mata pada sapi, yang melambangkan kebangkitan alam setelah musim dingin.

Selain itu, terdapat ritual mencambuk sapi tanah liat atau “dǎ chūn niú” yang bertujuan untuk membangkitkan semangat bertani dan mempersiapkan lahan untuk penanaman. Ritual ini diiringi dengan penyebaran kantong merah keberuntungan yang berisi beras dan biji-bijian kepada penonton, sebagai lambang harapan akan keberuntungan dan kemakmuran.

Berbagai kios juga turut memeriahkan festival dengan menawarkan makanan khas musim semi seperti chunbing (pancake musim semi) dan chunjuan (lumpia musim semi), yang menjadi simbol penyambutan musim semi. Pengunjung juga dapat berpartisipasi dalam aktivitas seperti menggantung hiasan musim semi, undian kotak musim semi, atau menulis kaligrafi musim semi, menambah semarak suasana perayaan.

Keindahan Tari Kuda Bambu yang Legendaris

Salah satu pertunjukan yang paling menarik perhatian dalam Festival Li Chun adalah tari kuda bambu (zhúmǎ wǔdǎo), sebuah kesenian tradisional yang telah berkembang sejak masa Dinasti Song dan Yuan (960-1368 Masehi). Tarian ini awalnya populer di Provinsi Henan dan Jiangsu, sebelum menyebar luas ke wilayah China Tengah dan Utara.

Para penari dalam tarian ini mengenakan kostum yang menyerupai karakter pria dan wanita dalam opera tradisional. Penari pria berdandan sebagai prajurit dengan helm, baju zirah cerah, dan sepatu bot tinggi, sementara penari wanita tampil anggun dengan rok lipit, jaket bermotif, dan sepatu sulam, menggambarkan peran wanita opera.

Keunikan tarian ini terletak pada properti kuda bambu yang dilekatkan pada tubuh penari, mirip dengan kuda lumping namun terintegrasi dalam kostum. Dengan menggunakan cambuk kuda dan membentuk formasi seperti susunan segi delapan atau “formasi gunting”, para penari meniru gerakan kuda melalui gerakan “jalan lambat”, “jalan cepat”, “putar kiri”, dan “putar kanan”.

Musik pengiring tarian ini adalah lagu rakyat yang diaransemen dengan sentuhan opera Beijing, menggunakan instrumen tradisional seperti erhu, sheng, dan seruling. Gerakan kuda bambu yang naik turun, diiringi bunyi lonceng dan gerak humoris serta energik, menciptakan pertunjukan yang memukau dan menjadi bagian utama dari perayaan rakyat ini.

Tradisi Li Chun yang Dapat Dilakukan di Rumah

Meskipun Festival Li Chun di Observatorium Kuno Beijing hanya berlangsung singkat, dari pukul 08.15 hingga 12.00 waktu setempat, ada beberapa tradisi yang dapat dilakukan masyarakat di rumah untuk menyambut momen penting ini. Tradisi-tradisi ini diyakini membawa keberuntungan dan kebahagiaan sepanjang tahun.

Pertama, saat Li Chun, disarankan untuk menghindari pertengkaran atau kemarahan. Hal ini bertujuan agar tahun yang baru dipenuhi dengan kebahagiaan dan harmoni, mencerminkan semangat awal yang baru dan positif.

Kedua, menabung di bank atau bank digital pada hari Li Chun dipercaya dapat menarik energi kemakmuran dan memberikan kestabilan rezeki di tahun baru. Ini melambangkan awal yang baik dalam hal finansial dan keberlimpahan.

Ketiga, mengonsumsi lumpia musim semi (chunjuan) yang diisi dengan berbagai sayuran sangat dianjurkan. Makanan ini melambangkan “menggulung keberuntungan dan menyambut kekayaan”. Selain itu, menggigit lobak putih, yang pada zaman dahulu disebut “laifu”, juga dipercaya berarti menggenggam keberuntungan.(yaya)