
Fokusmedan.com : Sejumlah saham yang sebelumnya mengalami tekanan akibat pencabutan izin usaha tambang, mulai menunjukkan perbaikan pada perdagangan hari ini. Saham PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) berbalik menguat setelah sempat terkoreksi cukup dalam pada perdagangan sebelumnya.
Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin menjelaskan, koreksi yang terjadi sebelumnya dipicu sentimen negatif dari pencabutan izin usaha PT Agincourt Resources, yang aktivitas tambangnya berada di wilayah Sumatera Utara. Sentimen tersebut sempat menekan saham ASII dan UNTR hingga mendekati batas auto reject bawah (ARB).
“Setelah koreksi yang cukup tajam, saham ASII dan UNTR mulai membaik karena secara fundamental kedua emiten ini masih tergolong kuat,” ujar Gunawan, Kamis (22/1/2026).
Pada penutupan perdagangan, saham UNTR tercatat naik 0,92 persen ke level 27.450 per lembar, sementara saham ASII menguat 2,65 persen ke level 6.775 per lembar.
Namun demikian, penguatan kedua saham tersebut belum mampu mengangkat kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara keseluruhan. IHSG justru ditutup melemah 0,20 persen di level 8.992,18, sekaligus kembali berada di bawah level psikologis 9.000.
“Secara teknikal, penutupan IHSG di bawah level 9.000 membuat indeks cukup rentan mengalami koreksi lanjutan pada perdagangan berikutnya,” jelas Gunawan.
Menurutnya, pelemahan IHSG dipicu tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, seperti BUMI, BBCA, PTRO, DEWA, BMRI, hingga ANTM, yang mengalami penurunan pada perdagangan hari ini.
Di sisi lain, nilai tukar Rupiah justru bergerak menguat dan ditransaksikan di level 16.880 per Dolar AS. Penguatan Rupiah ini dinilai membantah sentimen negatif yang sempat berkembang terkait pencalonan Wakil Menteri Keuangan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.
“Penguatan Rupiah lebih dipengaruhi sentimen fundamental, terutama keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuannya pada perdagangan sebelumnya,” kata Gunawan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Rupiah belum sepenuhnya aman dari potensi koreksi, mengingat ketidakpastian ekonomi global masih cukup tinggi.
Sementara itu, harga emas dunia tercatat melemah dan diperdagangkan di level US$4.816 per ons troy. Secara teknikal, Gunawan menilai harga emas saat ini sudah berada di level yang relatif mahal.
“Walaupun secara teknikal terlihat kemahalan, secara fundamental emas tetap menarik sebagai alternatif investasi dan lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global,” ujarnya.
Jika dikonversikan ke Rupiah, harga emas saat ini berada di kisaran Rp2,6 juta per gram. (ram)
