Gus Yahya Kawal Langsung Napak Tilas Restu Pendirian NU, Tegaskan Amanah Rohani Ulama

Fokusmedan.com : Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, secara langsung memimpin rangkaian kegiatan Napak Tilas Jejak Restu Pendirian NU. Perjalanan spiritual ini membentang dari Bangkalan hingga Jombang, Jawa Timur, menegaskan kembali akar historis dan spiritual organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Kegiatan ini dimulai sejak Minggu dini hari, 4 Januari, dengan fokus pada penghormatan terhadap para pendiri NU dan pesan-pesan luhur yang mereka wariskan.

Napak tilas ini bertujuan untuk menghadirkan kembali kesadaran mendalam bahwa Nahdlatul Ulama didirikan atas restu para guru dan ulama, dengan landasan spiritual yang sangat kuat. Gus Yahya menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan upaya untuk menginternalisasi nilai-nilai luhur pendirian NU. Rangkaian acara ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman kader NU tentang esensi spiritual di balik berdirinya jam’iyah.

Dimulai dari kompleks Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil Bangkalan, Gus Yahya mengawali kegiatan dengan Shalat Subuh berjamaah dan pembacaan tahlil di maqbarah Syaichona Moh Cholil. Prosesi ini menjadi simbol penghormatan dan permohonan restu dari para sesepuh, mengawali perjalanan panjang yang penuh makna. Ribuan peserta longmarch kemudian dilepas secara resmi, menandai dimulainya perjalanan bersejarah ini.

Mengenang Jejak Spiritual di Bangkalan

Perjalanan Napak Tilas Restu Pendirian NU dimulai dengan khidmat di Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil Bangkalan, sebuah lokasi yang memiliki nilai historis tinggi bagi Nahdlatul Ulama. Gus Yahya hadir sejak Minggu dini hari, memimpin Shalat Subuh berjamaah di Masjid Syaichona Cholil. Kehadiran beliau menegaskan komitmen PBNU dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi organisasi.

Setelah Shalat Subuh, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil di maqbarah Syaichona Moh Cholil. Momen ini menjadi refleksi mendalam akan peran dan jasa para ulama terdahulu dalam meletakkan dasar-dasar NU. Gus Yahya menyampaikan bahwa napak tilas ini bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga menghadirkan kembali kesadaran akan restu para guru dan ulama yang menjadi landasan spiritual kuat bagi berdirinya NU.

“Napak tilas ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghadirkan kembali kesadaran bahwa NU berdiri di atas restu para guru dan ulama dengan landasan spiritual yang sangat kuat,” ujarnya. Pernyataan Gus Yahya menggarisbawahi bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya terbentuk dari kesepakatan formal semata, melainkan juga dari isyarat spiritual dan ketulusan para ulama. Ini adalah pesan penting bagi seluruh kader NU agar senantiasa memahami dan menghargai warisan spiritual tersebut. Kegiatan di Bangkalan ini menjadi titik tolak yang kuat dalam rangkaian napak tilas.

Estafet Amanah Rohani Melalui Longmarch

Setelah prosesi tahlil, Gus Yahya secara resmi melepas keberangkatan KHR Ach Azaim Ibrahimy bersama ribuan peserta longmarch Napak Tilas Restu Pendirian NU. Pelepasan ini menandai dimulainya perjalanan bersejarah yang menelusuri rute Kiai As’ad Syamsul Arifin saat mengantarkan isyarat restu dari Syaichona Moh Cholil kepada KH Hasyim Asy’ari. Perjalanan ini sarat makna dan menjadi simbol kesinambungan perjuangan.

Gus Yahya menekankan bahwa perjalanan ini membawa pesan penting bagi kepemimpinan NU saat ini. “Yang sedang kita jaga bukan hanya organisasi secara struktural, tetapi amanah rohani yang diwariskan para pendiri NU,” ujarnya. Penekanan pada amanah rohani ini menunjukkan betapa pentingnya dimensi spiritual dalam setiap langkah dan kebijakan PBNU.

Perjalanan longmarch ini diharapkan dapat menginspirasi peserta dan seluruh kader NU untuk memahami kedalaman spiritual di balik setiap keputusan dan langkah organisasi. Dengan menelusuri jejak para pendiri, diharapkan kesadaran akan tanggung jawab moral dan spiritual semakin menguat. Ini adalah bentuk penghormatan sekaligus pengingat akan esensi perjuangan NU.

Puncak Simbolis di Tebuireng

Puncak kegiatan Napak Tilas Restu Pendirian NU dijadwalkan berlangsung di Tebuireng, Jombang, dengan prosesi penyerahan simbol-simbol sejarah yang sangat berarti. Simbol-simbol tersebut berupa tongkat dan tasbih, yang memiliki makna mendalam dalam tradisi pesantren dan ulama. Penyerahan ini akan menjadi momen krusial yang menegaskan kesinambungan kepemimpinan spiritual NU.

KHR Ach Azaim Ibrahimy, selaku dzurriyah Kiai As’ad, akan menyerahkan pusaka tersebut kepada perwakilan dzurriyah KH Hasyim Asy’ari. Selanjutnya, simbol-simbol ini akan diteruskan kepada Rais Aam PBNU, dan kemudian kepada Ketua Umum PBNU. Estafet simbolik ini, menurut panitia penyelenggara, menjadi penanda kesinambungan spiritual kepemimpinan Nahdlatul Ulama dari generasi ke generasi.

Melalui seluruh rangkaian kegiatan ini, PBNU berharap kader NU semakin memahami bahwa Nahdlatul Ulama lahir bukan semata dari kesepakatan formal. Lebih dari itu, NU adalah hasil dari restu para guru, isyarat spiritual, dan ketulusan ulama dalam membangun jam’iyah yang berkhidmat untuk umat dan bangsa. Pemahaman ini krusial untuk menjaga arah dan tujuan organisasi di masa depan.(yaya)