
Fokusmedan.com : Kinerja ekspor karet alam asal Sumatera Utara kembali melemah pada November 2025. Volume ekspor tercatat sebesar 19.182 ton, turun dibandingkan 20.694 ton pada Oktober 2025 dan juga lebih rendah dibandingkan 21.162 ton pada November 2024.
Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, mengatakan secara bulanan ekspor karet Sumut turun 7,3 persen (month to month), sementara secara tahunan terkoreksi 9,4 persen (year on year). Capaian tersebut masih jauh di bawah kondisi normal yang pada situasi pasar stabil dapat mencapai sekitar 42 ribu ton per bulan.
“Meski ekspor masih menjangkau 23 negara tujuan, volume pengapalan belum menunjukkan tanda pemulihan yang signifikan,” ujar Edy dalam keterangan tertulisnya, Selasa (31/12/2025).
Ia menjelaskan, pelemahan ekspor terutama dipicu oleh permintaan global yang masih lemah, khususnya dari industri hilir seperti otomotif. Sejumlah negara importir utama masih menahan pembelian akibat perlambatan ekonomi dan tingginya stok di tingkat manufaktur.
Penundaan penerapan EU Deforestation Regulation (EUDR) selama satu tahun memang memberi ruang adaptasi bagi pelaku usaha, namun belum mampu mendorong peningkatan permintaan secara cepat. Importir Eropa masih bersikap wait and see sembari menunggu kepastian teknis regulasi tersebut.
Dari sisi pasokan, produksi karet alam Sumatera Utara masih terbatas. Curah hujan tinggi sejak Oktober hingga November menyebabkan banyak petani tidak melakukan penyadapan, sehingga pasokan bahan olah karet (BOKAR) menurun.
Tekanan ekspor juga diperparah oleh gangguan logistik akibat banjir yang terjadi pada 27–28 November 2025. Banjir menghambat operasional sejumlah pabrik karet, mengganggu aktivitas depo kontainer di kawasan pelabuhan, serta memutus akses jalan menuju pelabuhan. Akibatnya, sebagian pengapalan mengalami delay shipment dan tertunda ke periode berikutnya.
Dari sisi harga, pasar karet global menunjukkan pelemahan tipis. Rata-rata harga karet pada November 2025 berada di level 171,95 sen AS per kilogram, turun tipis dibandingkan Oktober. Namun, harga sempat membaik di akhir bulan dengan harga penutupan 179,9 sen AS per kilogram.
Berdasarkan negara tujuan, ekspor karet Sumut masih terkonsentrasi pada pasar utama. Jepang menjadi tujuan terbesar dengan pangsa 36,67 persen, disusul Amerika Serikat 21,78 persen, China 11,61 persen, Brasil 5,43 persen, dan Spanyol 2,99 persen. Kelima negara tersebut menyerap lebih dari 78 persen total ekspor.
Sementara itu, ekspor ke kawasan Eropa melibatkan 11 negara dengan kontribusi sekitar 13,4 persen. Meski relatif aktif, porsi Eropa masih terbatas dibandingkan pasar Asia dan Amerika.
Secara keseluruhan, Edy menilai industri karet Sumatera Utara masih berada dalam tekanan.
“Pemulihan volume ekspor diperkirakan membutuhkan waktu, seiring stabilisasi cuaca, perbaikan infrastruktur logistik, serta membaiknya permintaan global,” pungkasnya. (ng)
