Imbal Hasil Treasury AS Turun, Rupiah Berpeluang Menguat dan Emas Cetak Rekor Baru

Ilustrasi kinerja Rupiah terhadap dolar AS. Net

Fokusmedan.com : Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun anjlok cukup dalam hingga berada di bawah level 4 persen pada perdagangan hari ini. Kondisi ini dinilai membuka peluang penguatan bagi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.

Analis Pasar Keuangan, Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa pada sesi perdagangan pagi, Rupiah masih diperdagangkan melemah di level Rp16.575 per dolar AS. Namun, peluang penguatan masih terbuka seiring dengan pelemahan Indeks Dolar AS (USD Index) yang kini berada di kisaran 98,34.

“Selama sepekan terakhir, USD Index terus melemah seiring memburuknya kinerja ekonomi Amerika Serikat di tengah ancaman penutupan pemerintahan (government shutdown). Ditambah lagi dengan ketegangan dagang antara AS dan China yang semakin memperburuk sentimen pasar keuangan,” ujar Benjamin.

Pada hari ini, pasar global juga cenderung bergerak tanpa dukungan sentimen fundamental baru, karena minimnya rilis data ekonomi penting.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat di level 8.132, namun kemudian berbalik melemah mengikuti tren bursa Asia yang juga tertekan. Menurut Benjamin, tekanan jual di bursa Asia masih dipicu oleh pelemahan di pasar saham Amerika Serikat sebelumnya.

“Pelaku pasar masih dibayangi ketidakpastian ekonomi akibat perang dagang yang berkepanjangan. Satu-satunya kabar positif yang tersisa hanyalah kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed,” tambahnya.

Di sisi lain, harga emas dunia kembali melesat ke level US$4.358 per ons troy, mendekati level psikologis US$5.000. Benjamin menilai, kenaikan harga emas yang terus berlanjut ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

“Emas terus mencetak rekor baru. Jika dikonversi ke Rupiah, harga emas dunia saat ini setara sekitar Rp2,33 juta per gram,” tutupnya. (ram)