14/06/2024 5:23
NASIONAL

Sosok Albert Manumpak Sipahutar, Jurnalis di Balik Berdirinya Kantor Berita Antara

Fokusmedan.com : Nama Albert Manumpak Sipahutar mungkin masih jarang dikenal oleh masyarakat Indonesia. Ia merupakan salah satu jurnalis berdarah Batak paling berpengaruh bagi perkembangan pers di Indonesia.

Lahir di Tarutung, Tapanuli, Sumatra Utara pada 26 Agustus 1914, Albert sudah menekuni dunia jurnalistik sejak usianya menginjak remaja. Ia juga menjalin persahabatan dengan Adam Malik dan mendirikan cabang Partai Indonesia (Partindo) di Pematangsiantar.

Tidak diketahui secara pasti perjalanan pendidikan Albert. Namun, di usianya yang masih muda itu sudah mendirikan majalah Sinar Marhaen sekaligus menjadi pemimpin harian Zaman Kita bersama Arif Lubis. Namun, pada tahun 1934, harian ini tutup dan Albert pindah ke Pewarta Deli di Medan menjadi koresponden.

Albert juga sempat bekerja di Batavia bersama Adam Malik yang berkutat di bidang politik dan juga periklanan.

Mendirikan Antara

Setelah malang melintang di dunia jurnalistik, Albert juga menulis artikel tentang politik dan kejahatan yang dimuat di beberapa koran lokal, salah satunya adalah Tjaja Timoer yang dipimpin oleh Soemanang Soerjowinoto.

Seiring berjalannya waktu, Soemanang pun menyukai karya tulisan Albert dan mengajaknya untuk bekerja sama. Mereka berdua kurang senang melihat kantor berita Aneta memberi sedikit ruang bagi kantor berita lokal.

Dengan persiapan beberapa bulan, kantor berita Antara pun berdiri pada 13 Desember 1937.

Soemanang menjadi pemimpin redaksi, Albert menjadi redaktur, sedangkan Adam Malik juga ikut bergabung sebagai redaktur senior.

Dirikan Majalah Baru

Setelah berdirinya Antara, Albert keluar dari keanggotaan Partindo dan memilih bergabung dengan Gerakan Rakyat Indonesia atau Gerindo yang berhaluan anti-fasis yang dipimpin oleh Amir Sjarifuddin.

Dengan ini, Albert dengan leluasa bisa mendirikan majalah baru. Keinginannya itu terwujud dengan mendirikan Toedjoean Rakjat pada tahun 1938.

Akibat masalah kesehatan, Albert memutuskan kembali ke kampung halamannya untuk beristirahat. Sementara jabatannya di Antara digantikan oleh Alwi Soetan Osman, karyawan dari Kementerian Kehakiman Hindia Belanda.

Akhir Hayat

Albert yang sudah memiliki riwayat penyakit tetap tidak lelah untuk menulis dan aktif di dunia politik. Bahkan ia sempat menulis untuk surat kabar Keng Po dan Kebangoenan.

Atas aktivitasnya di bidang politik, ia ditangkap oleh Belanda dan dijebloskan ke penjara di Sukabumi, lalu dipindahkan ke Garut dan Nusakambangan. Tahun 1942, ia dibebaskan akan tetapi kantor Antara dilikuidasi.

Albert kemudian menderita penyakit paru-paru, ia memutuskan untuk beristirahat di Garut. Sisa hidupnya ia habiskan di Yogyakarta setelah menikah. Albert tinggal di sebuah Sanotarium di Pakem.

Ia pun meninggal pada tanggal 5 Januari 1948 dan dimakamkan di Yogyakarta. Tepat pada ulang tahun Antara ke-41, makam Albert dipindahkan ke TPU Tanah Kusir Jakarta.(yaya)