14/06/2024 5:44
SUMUT

Gajah di Simalungun Mati Akibat Malnutrisi

Petugas melakukan nekropsi terhadap gajah mati di Kabupaten Simalungun. Dok BBKSDA Sumut

Fokusmedan.com : Seekor gajah jantan berumur 43 tahun dilaporkan mati di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara (Sumut), Selasa (14/2/2023) kemarin.

Atas kematian gajah bernama Dwiki ini, Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya (BBKSDA) Sumut buka suara memberikan penjelasan lebih lanjut.

Kepala BBKSDA Sumut Rudianto Saragih Napitu menyampaikan gajah Dwiki ini dipindahkan dari Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS) ke Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC).

“Setelah sampai di ANECC dilakukan perawatan intensif dengan diberikan pakan, obat-obatan dan vitamin,” ujarnya, Jumat (17/2/2023).

Rudianto menyampaikan pada tanggal 7 dan 8 Januari 2023, Tim Medis Vesswic, yaitu drh. Daniel Sianipar dan drh. Munhar melakukan kunjungan ke ANECC untuk melakukan monitoring terhadap kesehatan Gajah Dwiki.

“Pada saat pemeriksaan kondisi kesehatan Gajah Dwiki bahwa ditemukan kondisi luka luar di pipi kanan sudah mulai membaik dan gajah sudah mulai makan dan minum walaupun sedikit,” ucapnya.

Memasuki awal bulan Februari 2023, Rudianto engatakan Gajah Dwiki mulai mengalami perubahan perilaku yaitu tidak mau makan.

“Atas kondisi tersebut, pada tanggal 11 Pebruari 2023, dokter Vesswic kembali turun ke ANECC,” ungkapnya.

Selanjutnya tim vesswic juga dibatu oleh Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik dengan mengirimkan dokter hewan ahli gajah dari Taman Safari Indonesia (TSI), drh. Bongot Huaso Muka dan drh. M. Nanang Tejolaksono, untuk melaksanakan perawatan intensif Gajah Dwiki.

Tindakan yang dilakukan dengan memberikan 100 botol infus, obat-obatan dan vitamin.

“Namun kondisi Gajah Dwiki semakin melemah. dan akhirnya pada Selasa, 14 Februari 2023, pukul 06.20 WIB tidak tertolong lagi dan dinyatakan mati,” ungkapnya.

Kepala BBKSDA Sumut melanjutkan dilakukan nekropsi dengan hasil sesuai dengan penjelasan dokter, Gajah Dwiki mengalami infeksi pada gigi kanan bawah sehingga tidak bisa tumbuh secara normal.

Hal ini mengakibatkan gigi graham atas yang sehat tidak tumbuh normal, sehingga penampakan gigi menjadi asimetris antara kiri dan kanan, kelainan struktur gigi ini mengakibatkan gajah sulit untuk makan, dan makanan yang masuk berkurang.

“Ini juga berdampak pada lambung, volumenya tidak bisa optimal, hal ini diperparah dengan intosusepsi lambung sehingga berdampak pada malnutrisi dan malabsorsi, dimana tubuh kesulitan menyerap nutrisi dari makanan sehingga terjadi penurunan kesehatan dan berat badan,” jelas Rudianto.

Hasil Nekropsi juga ditemukan luka rahang bagian dalam sehingga gajah tidak mau makan sehingga mengalami kematian.

Pada saat Nekropsi dilakukan pengambilan sample bagian tubuh yaitu hati, paru, ginjal, jantung, limpa dan vesica urinaria untuk pemeriksaan Histopatologi di Balai Veteriner Medan guna mendapatkan informasi yang lebih valid terkait kematian Gajah Dwiki.

“Selesai Nekropsi bangkai gajah Dwiki pada tanggal 14 Pebruari 2023 dikuburkan di lokasi ANECC, sedangkan gading gajah dipotong untuk disimpan di Balai Besar KSDA Sumatra Utara,” pungkasnya. (Rio)