21/06/2024 21:29
EKONOMI & BISNIS

BI Tahan Bunga dan Bersikap Dovish, Pasar Keuangan Cukup Stabil

Ilustrasi kinerja IHSG. Antara

Fokusmedan.com : Bank Indonesia telah menetapkan besaran bunga acuan tidak berubah di level 5.75%. Kebijakan tersebut masih sesuai dengan kebanyakan proyeksi analis sebelumnya dan dampak dari kebijakan tersebut juga tidak memberikan pengaruh yang besar bagi kinerja pasar keuangan domestik seperti IHSG dan rupiah.

IHSG meskipun terpantau relatif ditutup sama dengan penutupan perdagangan sebelumya. Namun kinerja IHSG masih lebih baik dibandingkan dengan kinerjanya akhir pekan lalu di level 6.880.

Sementara pada Jumat (17/2/202), IHSG ditutup stabil 0.00% di level 6.895. IHSG selama sepekan terakhir sempat ditutup di atas level 6.900 namun penguatan IHSG tidak bertahan lama dan kembali ditransaksikan dibawah level psikologis 6.900.

Sementara itu, kinerja mata uang rupiah terpantau mengalami pelemahan dibandingkan dengan kinerjanya pada akhir pekan sebelumnya. Pada pedagangan akhir pekan ini, Rupiah ditransaksikan di kisaran level 15.200 per dolar AS lebih rendah dibandingkan dengan level akhir pekan sebelumnya dikisaran 15.129 per dolar AS.

Analis Pasar Keuanga Gunawan Benjamin mengatakan, pasar keuangan tidak begitu merespon negatif pernyataan Gubernur Bank Indonesia, yang menyatakan bahwa kenaikan bunga acuan BI sudah tidak dibutuhkan lagi. Mengingat kejutan sempat terjadi pada pasar keuangan di pekan ini, setelah inflasi AS mengalami kenaikan diluar ekspektasi sebelumnya, yang menyisahkan kemungkinan kenaikan bunga acuan oleh Bank Sentral AS.

“Setelah rilis data inflasi tersebut justru akan membuat ekspektasi kenaikan bunga semakin tinggi, ditambah bunga mahal akan bertahan untuk waktu yang lebih lama,” ujarnya.

Menurutnya, pernyataan Gubernur BI justru tidak memicu tekanan meskipun bersikap dovish serta tetap mempertahankan kebijakan BI 7 Days Repo Rate. Padahal ada kemungkinan selisih bunga acuan atau interest rate differential mengecil seandainya BI tidak lagi menaikkan bunga acuan di 2023 ini.

Sementara itu, harga emas kembali turun seiring dengan kemungkinan kenaikan bunga acuan oleh The FED nantinya. Harga emas pada akhir ekan ini ditransaksikan dikisaran level $1.820 per ons troy, emas saat ini ditransaksikan dikisaran Rp892 ribu per gramnya.

“Tren penurunan harga emas ini saya perkirakan tidak akan bertahan lama, emas dirugikan karena ada potensi kenaikan bunga acuan oleh Bank Sentral AS setelah rilis data inflasi AS mengalami kenaikan di luar ekspektasi,” terangnya.

Sejauh ini belum ada gambaran terkait dengan kebijakan yang akan di ambil oleh the FED. Sampai nantinya ada gambaran yang disampaikan lewat testimoni pejabat The FED itu sendiri.

“Jadi momen saat ini masih menjadi momen yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi emas. Kalaupun masih terjadi penurunan pada harga emas, saya menilai harga emas masih akan tertahan di level psikologis $1.800 dalam waktu dekat nanti,” pungkasnya. (ram)