23/06/2024 19:04
NASIONAL

Jokowi: Freeport Mayoritas Milik Kita, Jangan Terbayang Lagi Amerika Serikat

Fokusmedan.com : Presiden Joko Widodo (Jomowi) berkomitmen untuk terus melanjutkan program hilirisasi tambang di Tanah Air, Salah satunya dengan menyetop ekspor hasil tambang berupa konsentrat tembaga tahun ini.

Salah satu upayanya yaitu dengan memanfaatkan smelter milik PT Freeport Indonesia yang 51 persen sahamnya sudah diakuisisi pemerintah. Untuk itu, Jokowi menegaskan, perusahaan tambang emas dan tembaga terbesar dunia tersebut kini sudah dimiliki oleh Indonesia.

“Ingat, Freeport itu mayoritas sudah milik kita. Jangan terbayang-bayang Freeport itu milik Amerika, sudah mayoritas kita miliki,” tegas Jokowi dalam acara Mandiri Investment Forum (MIF) 2023 di Fairmont Hotel, Jakarta, Rabu (1/2).

Jokowi pun yakin Indonesia bisa mulai menghentikan ekspor konsentrat tembaga pada 2023 ini. Keyakinan itu diutarakan pasca dirinya meninjau progres pembangunan smelter milik Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara.

“Bentar lagi mau saya umumkan, tembaga setop tahun ini. Karena saya cek kemarin, smelter Freeport dan smelter yang ada di NTB sudah lebih dari 50 persen jadi. Jadi berani kita stop,” seru Jokowi.

Untuk produk tambang lainnya, Jokowi pun sudah resmi mengumumkan larangan ekspor mineral mentah berupa bijih bauksit pada 2023 mendatang. Dia lantas bercerita alasan kenapa kebijakan itu ditempuh.

“Bauksit, kenapa harus kita stop. Saya berikan contoh saja. Indonesia ini ekspor bahan mentah bauksit, ekspor ore-nya. Kita nomor 3 di dunia, mentahan yang kita ekspor,” paparnya.

“Tapi, ekspor alumunium kita nomor 33. Mentahnya nomor 3, kok barang setengah jadi/jadinya nomor 33? Apalagi ekspor panel surya kita nomor 31, padahal bahannya ada di sini,” keluh Jokowi.

Padahal, Jokowi menyatakan, negara bakal mendapat keuntungan hingga ratusan kali lipat bila hasil tambang tersebut diolah di dalam negeri.

“Kalau kita kerjakan panel surya, nilai tambahnya sampai 194 kali. Kenapa berpuluh-puluh tahun tidak kita lakukan, apa yang salah dari kita. Kita terlalu nyaman dengan ekspor mentahan, karena memang paling cepat dapat duitnya, dan tidak pusing pikirannya,” tuturnya