23/06/2024 18:55
SUMUT

BPS : Fertilitas Sumut Turun dalam 5 Dekade Terakhir

Ketua Tim Statistik Sosial BPS Sumut, Azantaro. Ist

Fokusmedan.com : Total Fertility Rate (TFR) Sumatera Utara (Sumut) Hasil Long Form SP2020 sebesar 2,48. yang berarti hanya sekitar 2-3 anak yang dilahirkan perempuan selama masa reproduksinya. Kondisi ini menunjukkan bahwa hasil LF SP2020 menuju Replacement Level.

TFR adalah jumlah dari angka kelahiran menurut kelompok umur dan merupakan ringkasan ukuran dari tingkat fertilitas. Angka ini menggambarkan rata-rata jumlah anak yang akan dilahirkan oleh seorang wanita pada akhir masa reproduksinya.

Ketua Tim Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Azantaro mengatakan, fertilitas Sumut menurun dalam lima dekade terakhir. Sensus Penduduk 1971 mencatat angka TFR sebesar 7,20 yang berarti seorang perempuan melahirkan sekitar 7 anak selama masa reproduksinya.

“Sementara Long Form SP2020 mencatat TFR sebesar 2,48 yang berarti hanya sekitar 2-3 anak yang dilahirkan perempuan selama masa reproduksinya. Kondisi ini menunjukkan bahwa hasil LF SP2020 menuju Replacement Level,” katanya, dalam pemaparan secara virtual, Senin (30/1/2023).

Sementara itu, angka kelahiran menurut kelompok umur tertentu atau Age Spesific Fertility Rate (ASFR) untuk periode tiga tahun terakhir sebelum LF SP2020 menunjukkan banyaknya kelahiran pada perempuan kelompok umur tertentu per 1000 perempuan pada kelompok umur tersebut.

Grafik ASFR berbentuk U terbalik, yang artinya pada kelompok usia muda anak yang dilahirkan rendah, semakin bertambah umur semakin banyak, dan puncaknya pada perempuan umur 25-29 tahun, kemudian setelah kelompok umur tersebut anak yang dilahirkan mengalami penurunan.

Puncak ASFR terletak pada wanita umur 25-29 tahun. Terdapat 159-160 kelahiran dari 1000 perempuan umur 25-29 tahun. Angka kelahiran sebesar 21 kelahiran diantara 1000 perempuan umur 15-19 tahun. Meningkat tajam menjadi 106-107 kelahiran per 1000 perempuan umur 20-24 lalu mencapai puncaknya pada kelompok umur 25-29 tahun. Pada kelompok umur selanjutnya, angka kelahiran menurun hingga sebesar 2-3 kelahiran per 1000 perempuan umur 45-49 tahun.

Dalam lima puluh tahun terakhir, kata Azantaro, terjadi penurunan kelahiran remaja yang menurun cukup tajam, yaitu dari 129 hasil SP1971 hingga 21,32 hasil LF SP2020.

Untuk Angka Kelahiran Kasar atau Crude Birth Rate (CBR) adalah angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1.000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama.

“Hasil Long Form SP2020 mencatat terdapat 19,69 kelahiran hidup diantara 1000 penduduk Sumut,” kata Azantaro.

Sementara itu, selama periode satu dekade, Angka Kematian Bayi (AKB)/Infant Mortality Rate (IMR) menurun signifikan dari 26 per 1000 kelahiran hidup pada Sensus Penduduk 2010 menjadi 18,28 per 1000 kelahiran hidup pada Long Form SP2020.

Angka kematian bayi adalah kematian yang terjadi pada penduduk yang berumur 0-11 bulan (belum mencapai 1 tahun). Dalam rentang 50 tahun (periode 1971-2022), penurunan angka Kematian bayi di Sumut hampir 90%. Selama periode satu dekade, AKB menurun signifikan dari 26 per 1000 kelahiran hidup pada Sensus Penduduk 2010 menjadi 18,28 per 1000 kelahiran hidup pada Long Form SP2020.

Peningkatan persentase bayi yang mendapat imunisasi lengkap serta peningkatan rata-rata lama pemberian ASI membuat bayi semakin mampu bertahan hidup. “Angka kematian bayi di Sumut paling tinggi sebesar 25,63 per 1000 kelahiran hidup pada Long Form SP2020 berada di Kabupaten Nias Selatan. Sedangkan paling rendah berada di Kota Medan 15,09 per 1000 kelahiran hidup pada Long Form SP2020,” jelas Azantaro.

Hasil pendataan Long Form SP2020 di Sumut mencatat tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara prevalensi disabilitas menurut kota-desa dan jenis kelamin. Selisih prevalensi disabilitas antara laki-laki-perempuan dan antara anak-pemuda sekitar 0,1 sampai 0,2%. Jika dilihat pada usia sasaran, prevalensi disabilitas pada usia lansia jauh lebih besar dibandingkan dengan usia sasaran lainnya.(ng)