Pasar Keuangan Diprediksi Bergerak Volatile, Waspadai Memanasnya Geopolitik China-Taiwan

Ilustrasi kinerja pasar saham. Ist

Fokusmedan.com : Data ketenaga kerjaan AS pada Juli kemarin membukukan kenaikan yang melebihi ekspektasi pasar. Data menunjukan adanya penyerapan tenaga kerja sebanyak 528 ribu (non farm payroll) di Juli melebihi ekspektasi yang berkisar 250 ribuan.

Membaiknya data ketenaga kerjaan AS tersebut mengindikasikan adanya potensi penguatan kinerja pasar keuangan global, meskipun bursa Dow Jones sendiri sepanjang perdagangan akhir pekan berada di teritori negatif sebelum akhirnya menguat.

Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan, data ketenaga kerjaan di AS mengindikasikan bahwa adanya kemungkinan kenaikan bunga acuan oleh Bank Sentral AS yang kembali agresif, karena inflasi di AS masih sangat tinggi. Yang tentunya bisa menekan kinerja pasar keuangan domestik.

“Sejauh ini, AS memang masih mengklaim bahwa mereka tidak akan masuk resesi meskipun secara teknikal pertumbuhan ekonomi negatif,” ujarnya, Minggu (7/8/2022).

AS masih mengandalkan data ketenaga kerjaan sebagai indikasi untuk membuktikan apakah resesi benar-benar terjadi di AS. Namun sayangnya data ketenaga kerjaan tersebut lebih banyak didominasi oleh kenaikan pekerja paruh waktu tidak suka rela (involuntary part time workers). Data tersebut mengindikasikan bahwa masih ada ketidakstabilan di masa yang akan datang.

Bagi pasar keuangan, kata dia, selama sepekan ke depan, data inflasi masih akan menjadi fokus pasar selanjutnya. Dari tanah air akan melihat data penjualan ritel selama Juni yang menjadi indikasi belanja masyarakat, di mana penjualan ritel itu sendiri kinerjanya mengalami penurunan khususnya sejak awal tahun 2022.
Dari beberapa data yang akan dirilis selama sepekan ke depan, pasar keuangan akan bergerak dengan volatilitas yang semakin tinggi, namun dengan realisasi pertumbuhan kinerja yang melambat.

Secara teknikal IHSG di pekan ini akan bergerak dalam rentang 6.910–7.193. Sementara mata uang rupiah akan bergerak dalam rentang Rp14.900 hingga Rp15.000 per dolar AS.

“Dengan penguatan kinerja pasar sebelumnya, ditambah dengan dukungan data ekonomi fundamental yang masih terbilang sangat rapuh. Potensi penguatan pasar keuangan sejauh ini sangat terbatas, dengan menyisahkan potensi koreksi teknikal yang cukup besar. Namun yang perlu diwaspadai adalah ketegangan antara China dan Taiwan yang bisa merubah pergerakan pasar secara tiba-tiba,” pungkasnya.(ng)