Sepekan ke Depan Pasar Keuangan Diguyur Kabar buruk, IHSG Hingga Emas Berpeluang Anjlok

Ilustrasi pasar keuangan. Ist

Fokusmedan.com : Dalam sepekan ke depan, kinerja pasar keuangan global akan kembali dihadapkan pada sejumlah data ekonomi yang berpeluang memicu tekanan. Di awal pekan akan ada rilis data inflasi inti AS yang diperkriakan stabil di angka 4.7%.

Selanjutnya, akan ada rilis data pertumbuhan ekonomi AS di kuartal kedua (Q2) yang sejauh ini diprediksi mengalami kenaikan dari kuartal sebelumnya.

Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan, dalam sepekan ke depan, indeks kepercayaan konsumen di AS diperkirakan juga akan mengalami penurunan. Permintaan barang tahan lama juga diperkirakan tumbuh negatif. Dan ada data penting suku bunga acuan The FED yang diperkirakan akan dinaikkan menjadi 2.5% dari posisi 1.75% saat ini.

Dari sejumlah data tersebut, kata dia, data pertumbuhan ekonomi Q2 sejauh ini yang akan sedikit meredam kekhawatiran pasar meskipun pasar pada akhirnya nanti akan melihat laju pertumbuhan ekonomi AS secara tahunan. Dan di situlah baru diputuskan apakah AS benar benar masuk dalam jurang resesi atau sebaliknya. Meskipun sejauh ini ekspektasinya AS akan masuk dalam jurang resesi.

“Tetapi jika ekspektasi pertumbuhan ekonomi itu meleset dan realisasi pertumbuhan ekonomi justru negatif, maka bisa dipastikan AS masuk jurang resesi. Tidak berhenti di situ, zona euro juga akan merilis data pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua yang diperkirakan tumbuh tipis. Namun secara tahunan pertumbuhan ekonomi zona euro akan terus melambat,” ujarnya Minggu (24/7/2022).

Di sisi lainnya, tambah Gunawan, perang Rusia–Ukraina juga akan memperburuk kinerja pasar keuangan. Karena rencana ekspor gandum dari Ukraina sepertinya kembali batal.

“Pekan ini akan menjadi pekan yang sangat potensial memberikan tekanan pada IHSG, Rupiah hingga harga emas. Pelaku pasar di pekan sebelumnya beruntung karena kebijakan BI tidak lantas memicu tekanan besar pada IHSG dan Rupiah,” jelasnya.

Akan tetapi, saat ini kondisinya berbeda, sentimen di pekan ini jauh lebih buruk dan berpotensi menimbulkan tekanan yang besar bagi pasar keuangan global, tanpa terkecuali pasar keuangan domestik. Pelaku pasar akan lebih berhati-hati lagi di pekan ini.

Meksipun pada dasarnya kenaikan bunga acuan The FED sudah di antisipasi, akan tetapi yang bisa mengurangi kerugian atau memperbaiki kinerja pasar keuangan adalah testimoni dari Gubernur The FED sendiri.

“Selama testimoni menunjukan keyakinan yang besar terhadap prospek pemulihan ekonomi AS dan tidak dibutuhkan kenaikan bunga acuan secara agresif maka bisa saja tekanan pasar akan mereda. Tetapi di atas kertas sejauh ini, semua data yang tersaji akan memicu tekanan hebat pada pasar keuangan kita,” pungkasnya.(ng)