BI Pertahankan Bunga Acuan, Pro Pertumbuhan Tetapi Menantang Badai

Ilustrasi kinerja IHSG. Ist

Fokusmedan.com : Bank Indonesia tetap mempertahankan besaran suku bunga acuannya atau BI 7 DRR di angka 3.5%. Kebijakan tersebut diambil justru saat The FED atau Bank Sentral AS telah menaikkan besaran bunga acuannya.

Dan bahkan diperkirakan akan menaikkan lagi bunga acuannya di masa yang akan datang. Tidak tanggung-tanggung bahkan The FED menaikan bunga acuannya sebesar 50 basis poin sebelumnya.

Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan, kebijakan yang diambil BI saat ini memang Pro Growth atau Pro Pertumbuhan. Artinya BI terus menciptakan bunga yang stabil agar pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh di tengah tekanan inflasi yang naik signifikan belakangan ini. Kebijakan tersebut layak diapresiasi, tetapi apa yang diambil BI saat ini adalah kebijakan yang bukan tanpa risiko.

“Bagai menantang badai, BI mengambil langkah yang tidak sama dengan banyak negara lainnya. Kita tentu masih ingat bahwa setelah libur panjang Lebaran kemarin, IHSG dan Rupiah dihantam badai. IHSG merosot lebih dari 4% setelah libur panjang, sementara mata uang Rupiah sempat menembus 14.700 per US Dolar,” ujarnya, Selasa (24/5/2022).

IHSG memang ditutup naik 1.07% di level 6.914,14 sementara mata uang Rupiah terpantau stabil dikisaran 14.670-an per US Dolar. Tetapi yang perlu diketahui adalah bahwa kebijakan penetapan suku bunga acuan pada hari ini diambil menjelang atau berbarengan dengan penutupan perdagangan di bursa saham.

“Jadi dampak dari kebijakan BI tersebut belum begitu di rasakan oleh pasar keuangan kita. Namun memang ada kemungkinan pasar keuangan kita akan tetap kokoh. Tetapi ada minute dari FOMC di akhir pekan ini dan jika The FED masih mengindikasikan bahwa akan ada kenaikan bunga lanjutan secara agresif, bukan tidak mungkin IHSG dan Rupiah kembali tertekan di akhir pekan,” ucapnya.

Tetapi, katanya, kita harus bersiap bahwa ada kemungkinan tekanan jangka pendek di pasar keuangan. Rupiah dan IHSG kembali rawan untuk terkoreksi meskipun dengan melihat fundamental ekonomi banyak negara besar yang rapuh dihantam inflasi tinggi.

Bukan tidak mungkin apa yang diambil BI justru langkah yang sudah pada jalur yang benar untuk menjaga momen pertumbuhan. Kenaikan bunga yang agresif dari negara lain berpeluang menciptakan kemungkinan resesi nantinya bagi negara itu sendiri karena kenaikan bunga acuan diambil ditengah kenaikan harga volatile food yang lebih banyak dipicu karena gangguan suplai akibat perang.

“Yang perlu diingat adalah bahwa dengan kebijakan BI tersebut bukan lantas kita beberapa masalah ekonomi nasional hilang. Kita tetap dalam ancaman inflasi tinggi, dan pertumbuhan ekonomi yang berpeluang di revisi ke bawah,” pungkasnya.(ng)