15/07/2024 19:09
SUMUT

Barumun Sanctuary Tiger Beri “Napas Baru” bagi Harimau Sumatra yang Tertindas

Kondisi harimau Sumatra saat dievakuasi. Dok Barumun Sanctuary Tiger

Fokusmedan.com : Populasi harimau Sumatra di Indonesia semakin kian memprihatinkan. Perburuan dan perdagangan ilegal menambah tantangan pelestarian “Sang Raja Rimba” sekaligus menyeretnya lebih dekat ke jurang kepunahan karena hilangnya habitat secara tak terkendali.

Di Sumatra Utara sendiri, habitat Panthera tigris sumatrae yang masih bertahan hidup hingga saat ini berada di hutan Tapanuli Selatan. Sedangkan untuk konservasi, Barumun Sanctuary Tiger di Desa Batu Nanggar, Batang Onang, Kabupaten Padang Lawas menjadi tempat untuk perlindungan harimau Sumatra yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan atau yang membutuhkan pertolongan.

Yayasan Persamuhan Bodhicitta Mandala Medan (YPBMM) menjadi salah satu organisasi konservasi yang bertanggungjawab untuk memberi nutrisi dan mengecek kondisi medis yang tentunya dilakukan oleh dokter hewan. Nantinya, jika satwa tersebut diyakini mampu beradaptasi kembali di hutan maka akan dibiarkan hidup secara liar dan bebas di habitat aslinya.

Pendiri sekaligus Pembina YPBMM, Biksu Nyanaprathama Mahasthavira menjelaskan, YPBMM bergerak di bidang konservasi dan pengembangan masyarakat. YPBMM mengembangkan Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS) seluas 600 hektare di Kabupaten Padang Lawas, sejak tahun 2015.

Lokasi tersebut dikembangkan sebagai kawasan konservasi satwa liar, terutama gajah dan harimau Sumatra serta didedikasikan untuk hewan lain seperti merak, siamang, tapir dan banyak lagi. Selain itu, program pengembangan masyarakat juga dilakukan di 16 desa sekitar kawasan konservasi.

Ia menambahkan, satwa liar khususnya harimau Sumatra direhabilitasi di Barumun Sanctuary Tiger. Dan baru-baru ini, pada 16 Desember 2021 lalu, tim Barumun Sanctuary Tiger bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatra Utara menyelamatkan satu nyawa harimau lagi.

Diceritakan Biksu Nyanaprathama, saat ditemukan, harimau Sumatra korban konflik di Kabupaten Padang Lawas yang diberi nama “Dewi Siundol” tersebut mengalami luka yang sangat para di sekujur tubuh, dagu dan kaki. Bahkan, lanjutnya, ada belatung yang keluar dari beberapa luka di tubuhnya.

“Kondisi Dewi Siundol saat itu benar-benar menyedihkan dan sangat parah. Jika dilihat dari lukanya dengan darah yang terus meleleh, kemungkinan besar terkena jebakan benda tajam seperti jerat kawat duri” katanya di kantor YPBMM Jalan Selam Medan, Senin (3/1/2022).

Kemungkinan besar, sambungnya, jerat kawat duri tersebut sengaja dipasang masyarakat untuk menjerat babi yang merusak lahan pertanian atau perkebunan masyarakat sekitar. Namun, jeratan tersebut mengenai harimau Sumatra. Dan saat Dewi Siundol ingin melepaskan kawat yang melilit tubuhnya justru menyebabkan luka lain yakni robek pada dagu dan kaki.

Dengan kondisi yang sekarat, sambungnya, Dewi Siundol dibawa ke Barumun. Kata drh Anhar yang menangani dan mengobatinya, luka tersebut sudah mengenai bagian belahan dada, torak, abdomen (rongga tubuh) bagian kiri dan kanan, legok lapar (tonjolan tulang pinggul), siku bagian kaki depan dan belakang, semua kaki depan dan belakang luka.

“Saat tim mengobati, mata harimau tidak boleh terkena cahaya, harus ditutup agar harimau lebih tenang. Dua hari belakangan ini, kondisinya berkembang dengan baik, masa krisis sudah lewat dan kondisi kian pulih,” terang pria kelahiran Bagansiapiapi, 1974 ini.

Sebelumnya, pihaknya bersama BBKSDA Sumatra Utara pada 2006 berhasil menyelamatkan harimau jantan bernama Monang dari jerat pemburu di hutan Desa Parmonangan, Simalungun, Sumut. Saat ditemukan Monang terkena jerat dua kali di kakinya namun bisa sembuh.

Sedangkan si Gadis, sambungnya, kini hanya memiliki tiga kaki. Satu kakinya terpaksa diamputasi untuk menyelamatkan nyawanya karena terjadi pendarahan parah saat itu.

Keduanya hidup di kandang rehabilitasi dan kemudian melahirkan dua anak yang sehat sekitar tiga tahun lalu. Dan direncanakan, dua anak harimau yang bernama Surya dan Citra akan dilepasliarkan di hutan Kerinci, Jambi pada Januari 2022 ini.

“Kondisi keduanya sehat dan sekarang sedang dilatih untuk memangsa agar bisa dilepasliarkan di habitatnya pada Januari 2022. Biasanya, harimau Sumatra dilepasliarkan diusia 18 bulan namun ini sudah 3 tahun dan diharapkan berhasil,” sebutnya.

PTAR Ikut Andil Selamatkan Dewi Siundol

Area Barumun Sanctuary Tiger. Dok Barumun Sanctuary Tiger

Saat penanganan konflik, berbagai pihak baik dari kepolisian dan TNI, Pemerintahan Kabupaten Palas, dari tokoh masyarakat ikut berperan serta. Diakui Biksu Nyanaprathama, proses evakuasi juga dibantu oleh PT Agincourt Resources (PTAR).

“PTAR meminjamkan helikopter untuk mengevakuasi harimau Sumatra yang terluka di hutan,” ucap Biksu Nyanaprathama.

Tak hanya itu, tambahnya, upaya mendukung konservasi alam kembali ditunjukkan pengelolah Tambang Emas Martabe tersebut. Pihaknya mendonasikan mobil penyelamat satwa yang dilengkapi kandang dan peralatan penyelamatan.

“Kita diberi satu unit penyelamat satwa. Sebelum ada bantuan, tim kami menyewa mobil untuk mobilitas di hutan. Dan saya berharap mobil tersebut tidak dipakai, jika dipakai pasti ada korban yang harus diangkut ke Barumun lagi,” tukasnya.

Dan tak sampai di situ, PTAR juga menanggung biaya perawatan dua harimau yakni si Monang dan Gadis.

“Untuk biaya perawatan satu harimau saja mencapai Rp35 juta lebih per bulan. Dan PTAR menanggung biaya perawatan si Monang dan Gadis,” katanya.

Beberapa waktu lalu, tambahnya, PTAR juga memberikan bantuan perlengkapan keamanan bekerja seperti sepatu lapangan, ransel dan jas hujan berstandar tinggi ke karyawan Barumun Tiger Sanctuary.

Sebelumnya, Kepala Sub Bagian Data Evlap dan  Kehumasan BBKSDA Sumut Andoko Hidayat menuturkan, tren konflik harimau Sumatra  semakin meningkat, sementara populasinya  terus menurun. Adapun, penanggulangan  konflik bekerja sama dengan pihak seperti  Barumun Sanctuary Tiger sangat membantu.

Berdasarkan data BBKSDA Sumut pada 2020,  populasi harimau Sumatra di provinsi ini hanya  bersisa sekitar 33 ekor, sementara di  keseluruhan Pulau Sumatra terdapat sekitar  400-600 ekor.

Pada 2020, PTAR telah mendukung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui BBKSDA Sumut untuk melepasliarkan harimau Sumatra Sri Nabilla ke Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan  dari PTAR. Dalam penanganan konflik harimau  baru-baru ini kami juga terbantu dengan adanya kandang dan peralatan penyelamatan dari PTAR. Kerja konservasi ini tidak bisa sendiri. Kami berharap bisa terus bersinergi untuk upaya-upaya konservasi ke depan supaya semakin  baik, sehingga tercipta keselarasan antara  ekologi dengan ekonomi sosial,” tutur Andoko.

Hutan adalah Rumah Harimau

Banyak faktor yang menyebabkan harimau Sumatra masuk ke pemukiman atau perkebunan warga setempat. Bisa saja, salah satunya adalah keseimbangan mata rantai yang saling berkaitan tidak seimbang.

“Rumah harimau adalah hutan karena harimau itu raja hutan. Mereka tidak akan keluar dari hutan dan mendekati desa ataupun merusak lahan tanaman manusia jika kestabilan alam tetap terjaga dan hutan tidak dirusak,” kata Pembina YPBMM, Biksu Nyanaprathama.

Dijelaskannya, tujuan awal membuat Sanctuary Tiger Barumun karena habitat harimau Sumatra yang kian punah. Ia memiliki cita-cita, Sanctuary Tiger Barumun tidak dipergunakan lagi, sebab habitat harimau bukan di kandang yang membuat stres tetapi bebas hidup di hutan.

Selama ini, sambungnya lagi, banyak lembaga konservasi yang peduli akan alam Indonesia. Namun, apa yang terjadi? Justru hanya lebih sering mendapatkan laporan hutan gundul bertambah dan habitat satwa liar juga semakin punah.

Pembina YPBMM, Biksu Nyanaprathama Mahasthavira. Netty

“Diajaran agama Buddha, Buddha meminta Bikkhu Sangha untuk mencintai hutan karena zaman dahulu Bikkhu hidupnya di hutan. Dan ajaran ini menurut saya sangat relevan, bukan hanya menyelamatkan hutan tetap segala makhluk yang hidup di sana,” ucap Biksu yang sudah tergerak untuk terjun ke konservasi lingkungan sejak 1998 ini.

Menurutnya, hutan sumber kehidupan semua makhluk. Karenanya tugas konservasi bukan hanya melaporkan harimau kurang berapa, gajah kurang berapa tetapi harus menjaga atau bahkan mengembangkan flora, fauna serta orang-orang yang berada di sekitarnya.

Selain fokus kepada pemeliharaan hutan, lembaga konservasi harus mengerti yang membuat masalah adalah orang yang berada di sekitar hutan. Dan konsep yang harus dijalankan adalah mendampingi masyarakat karena pada dasarnya mereka ke hutan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Yang harus dikondisikan adalah ekonomi masyarakat, bagaimana mereka memahami bahwa setelah konservasi masuk, hidup mereka lebih baik dan lebih mulia. Setelahnya, ke proses penyadaran bahwa hutan adalah berkah dan bisa bermanfaat bagi manusia,” bebernya.

Yang terjadi selama ini, manusia merasa bahwa hutan, satwa liar yang semakin sedikit tidak berhubungan dengan manusia. Padahal jika satu bermasalah maka semua akan bermasalah. Sebagai contoh, jika tidak ada harimau atau binatang lainnya maka panen penduduk setempat akan gagal karena hama akan menyerang tanaman warga.

“Hutan, satwa liar dan manusia adalah satu kesatuan yang saling membutuhkan. Kita harus peduli dengan sekeling kita, karena akan banyak musibah yang hadir, bisa saja bencana alam seperti longsor, banjir dan sebagainya,” ujarnya.

Ia berharap, masyarakat tidak hanya memanfaatkan hutan tetapi juga harus berkontribusi terhadap kestabilan alam yang ada. Hutan dan isinya harus dijaga dengan baik karena jika hutan rusak yang juga terkena masalah adalah masyarakat sekitar.

“Indonesia memiliki alam yang luar biasa. Kita hanya ingin menjadikan hutan sebagai rumah untuk satwa liar dan menjadi berkah bagi masyarakat setempat,” pungkasnya.

Barumun Tiger Sanctuary, tambahnya, akan terus berupaya meningkatkan populasi harimau Sumatra dengan berbagai cara. Antara lain dengan mengembangkan habitat kantong harimau, meningkatkan penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar khususnya untuk menyelamatkan harimau Sumatra dari konflik dan mengembalikannya ke alam.

“Tim kami terus melakukan penelitian terhadap kehidupan flora dan fauna di hutan. Kita juga sedang membuat wisata alam dengan tujuan agar para pemburu bisa menjadi guide (pemandu) sehingga penduduk setempat paham manfaat yang didapat dari hutan,” pungkasnya.

PTAR Kucurkan Dana USD9,2 Juta untuk Konservasi Alam di Sumatra Utara

PTAR serahkan mobil penyelamat satwa ke tim Barumun Sanctuary Tiger. Ist

PT Agincourt Resources (PTAR) memastikan
keberadaan flora dan fauna di Batangtoru yang berada di sekitar operasional tambang tetap dilindungi dan akan terus dilestarikan. PTAR sudah mengalokasikan sumber daya untuk pengelolaan dan pemantauan lingkungan  sebesar USD 6,45 juta di 2020 dan di tahun 2021 sebesar USD 9,2 juta.

General Manager Operations PTAR, Rahmat Lubis merinci, sumber daya tersebut meliputi dana pelaksanaan pengelolaan lingkungan, sumber daya manusia untuk melaksanakan tugas pengelolaan lingkungan. Kemudian, penggunaan teknologi untuk memastikan pengelolaan lingkungan yang optimal.

“Sumber daya ini dialokasikan untuk memastikan bahwa pengelolaan lingkungan di lokasi Tambang Emas Martabe memenuhi standar kualitas dan peraturan yang berlaku,” kata Rahmat beberapa waktu lalu.

Rahmat menambahkan, PTAR juga bekerja sama dengan para peneliti, perguruan tinggi, lembaga independen, dan pihak ketiga lainnya dalam perlindungan keanekaragaman hayati, terutama melalui edukasi, sosialisasi, dan pencegahan terkait perburuan dan perdagangan satwa liar.

“PTAR berkomitmen menjaga ekosistem hutan Batangtoru dan keberadaan berbagai spesies yang dilindungi, dengan melakukan serta mendukung kegiatan konservasi secara berkelanjutan dan bertanggungjawab,” tuturnya.

Senior Manager Corporate Communications PTAR, Katarina Siburian Hardono menambahkan, target utama kebijakan PTAR terkait perlindungan terhadap keanekaragaman hayati adalah ekosistem yang berada di dekat dengan wilayah kerja Tambang Emas Martabe, karena meskipun wilayah kerja PTAR di luar kawasan yang dilindungi, tapi dekat dengan kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. PTAR menyadari kegiatan operasi yang dilakukan berpotensi memengaruhi keberlangsungan hidup flora maupun fauna yang ada di sekitarnya.

“Untuk itu, PTAR berkomitmen meminimalkan dampak dari kegiatan operasinya dengan melakukan upaya pencegahan, minimalisasi dan mitigasi risiko terhadap keanekaragaman hayati sepanjang siklus bisnis perusahaan, tanggung jawab terhadap tata guna lahan serta merencanakan dan memodifikasi desain, konstruksi dan praktik operasi untuk melindungi spesies flora dan fauna tertentu yang endemik atau dilindungi,” tegas Katarina.

Katarina melanjutkan, hingga saat ini pihaknya terus berupaya mendukung konservasi alam. PTAR bekerjasama lintas institusi dan terus melakukan koordinasi dengan para pemangku kepentingan lainnya di Sumatra Utara dan Tapanuli Selatan khususnya di Batangtoru, termasuk pemerintah daerah dan pihak berwenang guna mengidentifikasi program konservasi terbaik.

Dan secara aktif, tambah Katarina, membantu
membentuk dan melestarikan hutan hujan tropis demi kelanjutan habitat flora dan fauna di dalamnya, termasuk harimau Sumatra dan Pongo Tapanuliensis.

“Salah satu kerjasama yang sudah terjalin tersebut adalah dengan Barumun. Barumun Tiger Sanctuary memiliki banyak karyawan berdedikasi tinggi yang bersemangat melakukan konservasi demi kelestarian alam. Ke depannya tentu kami berharap kerjasama ini akan terus berlanjut dan ditingkatkan lagi,” pungkasnya.(ng)