18/05/2024 14:23
EKONOMI & BISNIS

Pertumbuhan Ekonomi Sumut Terancam Stagnan

Pertumbuhan ekonomi Sumut di kuartal III sebesar 3.67%. Ist

Fokusmedan.com : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara (BPS Sumut) merilis pertumbuhan ekonomi di kuartal III sebesar 3.67% dibanding tahun yang sama sebelumnya. Pertumbuhan sebesar itu memang masih jauh dari harapan akan terjadinya pemulihan ekonomi di wilayah Sumut.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, pertumbuhan ekonimi ini patut disyukuri meskipun PR masih banyak. Masih butuh waktu yang lama agar kondisi ekonomi bisa pulih sebelum pandemi Covid-19 dan indikasi pemulihan baru bisa dilihat tahun 2025 mendatang.

“Pertumbuhan ekonomi Sumut di kuartal ketiga ini, saya menilai masih ada indikasi kuat kalau ekonomi Sumut berpeluang bergerak stagnan nantinya. Tentunya dengan beberapa skenario buruk yang bisa saja terjadi,” ujarnya, Senin (8/11/2021).

Rilis BPS menyebutkan, Pertanian, Perikanan dan kehutanan menyumbang pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2021. Kenaikan harga komoditas pertanian menjadi salah satu kontribusi besar dalam pembentukan PDB tersebut tetapi tidak bisa berharap sepenuhnya dengan sektor ini.

“Karena Sumut yang mengandalkan sawit bakal tidak akan menikmati lagi booming komoditas tersebut. Saya melihat bahwa harga CPO global yang saat ini berada dikiaran 5.000 ringgit per ton sulit diharapkan agar terus naik harganya,” ucapnya.

Menurut Gunawan, harga komoditas energi belakangan mulai berguguran harganya. CPO dikhawatirkan akan terhenti lajunya di kuartal IV tahun ini. Dan industri pengolahan yang tumbuh di kuartal III tahun ini, juga sepertinya akan berhenti dengan kapasitas yang mungkin tidak akan bertambah jika dibandingkan dengan kuartal III.

Selanjutnya, jasa keuangan, telekomunikasi, akomodasi, makan dan minuman, jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh. Pertumbuhan di jasa keuangan maupun akomodasi makan dan minuman memang bisa menjadi indikasi bagus.

“Tetapi sektor telekomunikasi dan jasa kesehatan serta kegiatan sosial ini kalau boleh saya bilang pertumbuhan yang “dipaksakan”,” katanya.

Artinya, lanjutnya, karena pandemi Covid-19, sektor ini “terpaksa” hidup karena serangakaian kebijakan sosial pemerintah serta upaya pemerintah dalam memerangi Covid-19. Namun sektor ini tumbuh lebih dikarenakan belanja pemerintah, bukan dikarenakan adanya pemulihan daya beli masyarakat yang bagus sehingga sektor ini mengalami kenaikan.

Satu hal yang menakutkan adalah di kuartal III lapangan usaha transportasi dan pergudangan justru terkontraksi 0.4%. Ini indikasi jelas bahwa sektor produktif di kuartal III justru kinerjanya memburuk. Ini jadi catatan penting bahwa di kuartal IV segala kemungkinan yang memicu pertumbuhan stagnan bisa terjadi.

“Kita misalkan jasa kesehatan, telekomunikasi, kegiatan sosial tetap hidup. Tetapi ingat, di kuartal IV tahun ini ada perayaan keagamaan Natal dan tahun baru. Umumnya kita mengandalkan konsumsi masyarakat di liburan akhir tahun tersebut. Tetapi pemerintah sudah mengisyarakatkan bahwa tidak ada libur NATARU demi menghindar dari lonjakan kasus Covid-19 19. Artinya kita tidak bisa berharap bahwa belanja masyarakat bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumut,” tambahnya.

Oleh karena itu, yang diharapkan adalah belanja pemerintah (daerah) yang biasanya setiap menjelang akhir tahun kerap mengalami kenaikan. Tetapi ingat konsumsi rumah tangga itu menyumbang sekitar setengah dari PDB. Nah disinilah kita bisa berkesimpulan bahwa ekonomi Sukyr berpeluang stagnan di kuartal IV.

Artinya jika pertumbuhan ekonomi Sumut di kuartal III sebesar 3-4 persenan, besar kemungkinan sampai akhir tahun tetap berada di angka yang sama secara YoY.

“Jadi tumbuh tapi tidak begitu banyak menolong ditambah kondisi ekonomi global juga tidak baik. Ada ancaman stagflasi, kenaikan harga pangan global, gelombang lanjutan Covid-19 di banyak negara, krisis energi di negara lain dan isu global lainnya,” pungkasnya.(ng)