IDI Sebut Kasus Covid-19 Melonjak karena Varian Delta, Bukan Mudik

Fokusmedan.com : Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Slamet Budiarto menegaskan lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di sejumlah daerah bukan disebabkan mudik Lebaran Idulfitri 2021. Melainkan akibat merebaknya varian B16172 asal India atau Delta.

“Jadi saya tidak setuju ini gara-gara orang mudik, bukan. Karena virus varian Delta ini yang sekarang ada di Indonesia lebih infeksius,” tegasnya saat dihubungi merdeka.com, Kamis (24/6).

Menurut Slamet, masuknya varian Delta ke Indonesia karena kelalaian pemerintah. Saat varian Delta membludak di India, pemerintah tidak memperketat pemeriksaan pelaku perjalanan internasional yang masuk ke Tanah Air.

Selain itu, pemerintah hanya menerapkan masa karantina bagi pelaku perjalanan internasional hanya lima hari. Padahal, idealnya masa karantina bagi pelaku perjalanan internasional 10 hingga 14 hari.

“Ini gara-gara orang luar negeri baik WNI maupun WNA yang masuk ke Indonesia yang tak terdeteksi. Jadi kesalahan pemerintah dalam menyaring orang yang masuk ke Indonesia, ada yang masuk lewat kapal, ada yang lewat pesawat,” katanya.

Slamet memprediksi kasus positif dan kematian Covid-19 di Indonesia akan terus meningkat jika pemerintah tidak segera mengambil kebijakan tepat. Karena itu, dia meminta pemerintah mulai menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ketat.

“Kalau memang tidak memungkinkan (PSBB ketat) modifikasi saja, misal kantor hanya 25 persen tapi bukanya hanya empat jam misalnya. Unit-unit bisnis dikurangi tapi ditambah waktu bukanya. Kalau sekarang kan sampai jam 8 malam, ya ke depan sampai siang misalnya,” jelas dia.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan merilis hasil pemeriksaan dan analisis terhadap sekuens genom virus SARS-CoV-2 di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan, ada 211 kasus varian baru Covid-19 di Indonesia. 160 Kasus di antaranya merupakan varian Delta.

160 Kasus varian Delta ini tersebar di sembilan provinsi. Yakni, Kalimantan Timur 3 kasus, Gorontalo 1 kasus, Kalimantan Tengah 3 kasus, Sumatera Selatan 3 kasus, Jawa Tengah 80 kasus, DKI Jakarta 57 kasus, Banten 2 kasus, Jawa Barat 1 kasus dan Jawa Timur 10 kasus.(yaya)