23/06/2024 18:46
NASIONAL

Erick Thohir: PLN Punya Utang Rp500 Triliun

Fokusmedan.com : Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk menyehatkan kondisi keuangan BUMN, salah satunya PT PLN (Persero). Utang BUMN kelistrikan itu tercatat sebesar Rp 500 triliun.

“Contoh PLN itu utang Rp500 triliun, tidak ada jalan kalau PLN tidak segera disehatkan,” ujar Erick Thohir saat menghadiri rapat kerja di DPR, Jakarta, ditulis Jumat (4/6).

Adapun upaya penyehatan yang dilakukan oleh pemerintah dengan mengajukan capital expenditure (capex) atau belanja modal sebesar 50 persen. Selain itu, pemerintah juga meminta PLN melakukan renegosiasi utang.

“Salah satunya kenapa sejak awal kami meminta capex PLN ditekan sampai 50 persen, kalau bapak bapak dan ibu ibu ingat waktu itu seperti itu, alhamdulilah PLN bisa tekan capex sampai 24 persen atau Rp24 triliun sehingga itu menjadikan cashflownya lebih baik,” katanya.

“Tidak cukup disitu, kami minta direksi PLN dari Rp500 triliun harus juga ada namanya renegosiasi utang dengan bunga lebih murah, paling tidak kalau bisa seperlima. Alhamdulilah dari PLN sendiri sudah sampai negosiasi sampai Rp30 triliun,” tambah Erick Thohir.

Upaya lainnya, kata Erick Thohir, pemerintah meminta PLN untuk melakukan negosiasi pembelian listrik take or pay senilai Rp 60 triliun. Adapun berdasarkan laporan terkahir, PLN berhasil melakukan negosiasi hingga Rp 25 triliun.

“Laporan terkahir sudah Rp25 triliun dan masih ada Rp35 triliun, tapi tanpa dukungan kementerian lain, seperti contoh kompensasi PLN. Itu hari ini diketok baru dibayar 2 tahun lagi, itu ada cost-nya. Alhamdulilah sekarang sudah dibayar 6 bulan,” jelasnya.

Erick Thohir menambahkan, sejumlah langkah yang dilakukan tersebut untuk menyehatkan kinerja PLN telah berdampak positif untuk menyehatkan keuangan PLN. Dalam hal ini, diperlukan pula dukungan DPR untuk melakukan transformasi BUMN.

“Saya sangat senang, bahwa kita sepakat terkait transformasi, roadmap yang sudah kami tawarkan sejak dulu. Ini kembali dari Komisi VI menawarkan bagaimana kalau memetakan sekali lagi mana yang tidak bisa diselamatkan dan bisa diselamatkan,” tandasnya.(yaya)