20/06/2024 22:40
NASIONAL

5 Fakta Terbaru Potensi Gempa dan Tsunami 29 Meter di Jatim, Ini Kata Pakar Geologi

Fokusmedan.com : Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meramal potensi gempa dengan kekuatan Magnitudo (M) 8,7 yang diikuti tsunami setinggi 29 meter di Jawa Timur. Pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Amien Widodo menanggapi ramalan tersebut.

Amien menyebut, pemodelan matematis yang dilakukan BMKG ialah langkah awal yang tepat. Mengingat daerah Jatim terbentuk karena tumbukan lempeng Eurasia dan Indo-Australia, meneliti kegempaan di Jatim menjadi suatu hal yang harus dilakukan.

“Pemodelan ini menunjukkan worst scenariokemudian diumumkan, karena dalam lima bulan terakhir diketahui frekuensi gempa yang terjadi di Jawa Timur sangat tinggi,” terang dosen Departemen Teknik Geofisika ITS, Jumat (4/6/2021).

Intensitas Gempa Patut Dicurigai

Belajar dari gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2005 silam, intensitas gempa perlu dicurigai. Sebelum terjadi gempa Yogyakarta, salah satu tandanya ialah aktivitas kegempaan yang semakin sering.

“Ketika itu, frekuensi gempa mengalami kenaikan, tetapi tidak lebih dari 50 gempa setiap bulannya. Sementara itu, di lima bulan terakhir ini gempa yang terekam selalu lebih dari 500 kejadian per bulan,” ungkap Amien, mengutip dari liputan6.com.

Ada perbedaan yang jauh antara frekuensi gempa 2005 dengan tahun ini. Dengan demikian, sudah sepantasnya masyarakat jauh lebih waspada. Terlebih, tambah Amien, tumbukan lempeng yang menyusun Jawa Timur ini panjangnya sekitar 250 sampai 300 kilometer.

“Hal itu menunjukkan gempa sangat mungkin terjadi di berbagai titik, di wilayah yang ada di sekitar zona subduksi, yakni zona tempat terjadinya tumbukan itu,” imbuhnya.

Aktifitas Seismik

Selain mengacu pada sejarah kegempaan, pengamatan aktivitas gempa juga dilandaskan pada data seismik yang terukur. Menurut Amien, aktivitas seismik yang tidak merata yang selama ini terekam perlu menjadi perhatian.

“Jika sewajarnya intensitas gempa di setiap titik zona subduksi adalah sama, tetapi ditemukan zona dengan gap seismik, artinya ada kemungkinan lempengan terkunci dan akan lepas sewaktu-waktu,” terangnya.

Di Indonesia, zona dengan gap seismic ditandai di sembilan wilayah yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Salah satunya ada di Jawa Timur, dekat dengan pulau Bali.

Jika daerah yang diperkirakan sedang mengalami kuncian antarlempeng pada akhirnya lepas, maka akan menyebabkan gempa besar. Jika dihitung akan ada waktu 20 sampai 25 menit untuk air mencapai daratan.

“Belum lagi, jika gempa yang terjadi berkekuatan M 8,7, akan mendorong sesar-sesar di Jawa Timur sehingga tereaktivasi,” lanjutnya.

Imbauan Untuk Masyarakat

Sesar yang tereaktivasi bisa menyebabkan gempa-gempa lain akibat dislokasi. Sedangkan, sesar-sesar tersebut melewati wilayah padat penduduk, seperti Banyuwangi, Probolinggo, Pasuruan, dan Surabaya.

“Meskipun berkekuatan kecil, jika terjadi di daerah perkotaan maka akan sama membahayakannya,” ungkap Amien.

Amien menegaskan, gempa sejatinya tidak membunuh, tetapi dapat memicu likuifaksi, amplifikasi, longsor, tsunami, serta kerusakan pada infrastruktur.

“Menurut sejarahnya, likuifaksi terparah di Jatim pernah terjadi di daerah Lumajang. Maka dari itu, kami menekankan supaya masyarakat kenal dengan macam bencana dan mitigasinya,” ujarnya.

Prediksi tsunami setinggi 29 meter juga sebaiknya diketahui lebih awal oleh masyarakat.

“Berdasarkan catatan saya, gempa dan tsunami pernah melanda Jatim. Dan tepat hari ini 3 Juni di tahun 1994, pernah terjadi gempa sekuat M 7,8 dan menimbulkan tsunami setinggi 14 meter di Pancer, Banyuwangi,” terangnya.(yaya)