Impor Daging Ayam Bakal Datangkan Efek Domino Negatif

Seorang pedagang ayam. Ist

Fokusmedan.com : Wacana impor daging ayam dari Brasil turut mendapat tanggapan dari Gabungan Asosiasi Peternak Ayam Nasional (Gopan).

Sekretaris Jenderal Gopan Sugeng Wahyudi mengatakan, wacana impor daging ayam dari Brasil sebenarnya sudah terdengar lama sejak Indonesia kalah dari negara tersebut terkait sengketa dagang di World Trade Organization (WTO).

Ancaman impor kian terlihat seiring kenaikan harga ayam jelang hari besar keagamaan, seperti Ramadan. Pada momen yang berlangsung saat ini, harga ayam di tingkat peternak mengalami kenaikan sekitar 10%-20% akibat lonjakan permintaan.

Dia menyebut, saat ini harga ayam peternak berada di kisaran Rp 21.000-Rp 22.000 kilogram (kg), di mana modal peternak sekitar Rp 19.500 per kg. Harga seperti itu sebenarnya masih wajar, namun menjadi bermasalah karena ada disparitas yang cukup lebar pada harga ayam di konsumen akhir.

“Modal peternak sampai Rp 19.500 per kg itu sudah terlalu tinggi menurut saya, karena harga DOC dan pakan juga tinggi,” kata dia dikutip dari Kontan.co.id, Selasa (27/4/2021).

Menurut Sugeng, para peternak kecil atau mandiri tengah dihadapkan oleh situasi yang menantang. Mereka sudah rentan tertekan akibat persaingan dengan perusahaan-perusahaan besar yang kini sudah menguasai pasar-pasar tradisional. Sekarang tantangan bertambah dengan adanya wacana impor daging ayam dari Brasil.

Impor daging ayam pun bukan menjadi jaminan bagi turunnya harga daging ayam di dalam negeri. Malah, impor tersebut bisa mendatangkan efek domino yang negatif secara jangka panjang. Dalam hal ini, impor membuat peluang usaha di sektor perunggasan dalam negeri menjadi semakin sempit.

“Kami punya kemampuan untuk berproduksi, tapi memang produk kami belum mampu bersaing. Ini yang harus dicarikan jalan keluar,” ungkap Sugeng.

Dia juga menilai, hal yang perlu dilakukan supaya harga daging ayam tidak terlampau tinggi adalah dengan menurunkan harga bahan seperti pakan dan day old chicken (DOC). Saat ini memang harga pakan ternak cukup mahal mengingat materi penyusunnya seperti jagung, kedelai, dan lain-lain tengah mengalami kenaikan harga.

“Efisiensi memang harus dilakukan oleh semua pelaku usaha, termasuk peternak kecil,” pungkas Sugeng.(ng)