24/06/2024 0:18
INTERNASIONAL

Halangi Pengunjuk Rasa, Junta Militer Myanmar Kembali Blokir Internet

Protes kudeta militer di Myanmar. Reuters

Fokusmedan.com : Pemblokiran jaringan internet kembali terjadi di Myanmar pada Senin malam setelah unjuk rasa hari kesepuluh menentang kudeta militer berlangsung di berbagai kota. Unjuk rasa pada hari kesepuluh ini disertai peningkatan pengerahan pasukan dan korban luka-luka di Mandalay setelah polisi membubarkan paksa para pengunjuk rasa.

Kelompok pemantau internet NetBlocks mengatakan, konektivitas turun 15 persen dari level standar.

“#Myanmar berada di tengah hampir pemadaman total internet selama dua malam berturut-turut,” tulis NetBlocks di Twitter pada Selasa (16/2/2021), dilansir Al Jazeera dari laman merdeka.com.

PBB memperingatkan militer Myanmar konsekuensi berat atas tindakan keras mereka terhadap para pengunjuk rasa dan mengecam pembatasan internet.

“Ibu Schraner Burgener telah menegaskan hak berkumpul secara damai harus dihormati sepenuhnya dan para demonstran tidak dijadikan sasaran pembalasan,” jelas juru bicara PBB, Farhan Haq di New York.

“Dia telah menyampaikan kepada militer Myanmar bahwa dunia sedang mengawasi dengan cermat, dan segala bentuk tindakan keras kemungkinan besar akan memiliki konsekuensi berat.”

Dalam laporan pertemuan tersebut, tentara Myanmar mengatakan Soe Win, orang kedua dalam komando rezim, telah membahas rencana dan informasi pemerintah tentang “situasi sebenarnya dari apa yang terjadi di Myanmar”.

Pada unjuk rasa Senin kemarin, dua orang mengalami luka ringan ketika polisi di kota Mandalay menggunakan peluru karet dan ketapel untuk membubarkan demonstran, seperti dilaporkan media dan sejumlah warga.
Para demonstran melempar pecahan batu bata, kata seorang tim penyelamat yang membantu korban luka.

“Salah satu dari mereka butuh oksigen karena dia terkena peluru karet di tulang rusuknya,” kata kepala tim penyelamat, Khin Maung kepada AFP

Para jurnalis di TKP mengatakan polisi memukul mereka. Unjuk rasa yang dipimpin sekelompok pelajar di ibu kota Naypyidaw, juga dihadapkan dengan pasukan keamanan. Polisi juga menangkap puluhan anak-anak muda yang berunjuk rasa, walaupun beberapa dari mereka kemudian dibebaskan.

Pada Senin, pemimpin kudeta Jenderal General Min Aung Hlaing menyampaikan dalam rapat junta, pihak keamanan mencoba untuk menanggapi dengan lembut, tapi memperingatkan: “Tindakan yang efektif akan diambil terhadap orang yang mengganggu negara, berkhianat dengan melakukan kekerasan.”

Para PNS termasuk dokter dan guru mogok kerja sebagai bagian gerakan pembangkangan publik, melumpuhkan operasional sejumlah badan pemerintah.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), mengungkapkan kekhawatiran pemadaman internet dimanfaatkan untuk melakukan penangkapan sewenang-wenang dan tindakan yang tak adil lainnya. AAPP mengatakan sedikitnya 426 telah ditangkap sejak kudeta dan 391 masih ditahan.(ng)