23/06/2024 23:54
INTERNASIONAL

Rusia Ancam Kirim Para Pengunjuk Rasa Pendukung Navalny ke Gulag

Fokusmedan.com : Sehari setelah unjuk rasa pecah di seluruh Rusia untuk mendukung pemimpin oposis, Alexei Navalny, pihak berwenang pada Senin menyampaikan beberapa pengunjuk rasa menghadapi ancaman berat, termasuk dikirim ke Gulag. Gulag adalah penjara yang menerapkan hukuman kerja paksa.

Juru bicara Kremlin, Dmitri S. Peskov, menyampaikan kepada wartawan dalam sebuah panggilan konferensi pada Senin, unjuk rasa melibatkan “sejumlah besar perusuh dan provokator” dan menyatakan “hukum harus ditegakkan dengan sangat keras.”

Pada Minggu, puluhan ribu orang di berbagai kota di seluruh Rusia turun ke jalan, menyerukan pembebasan Navalny, pemimpin oposisi yang ditangkap Januari lalu saat kembali ke Rusia.

Navalny pulang ke negaranya setelah menjalani pengobatan berbulan-bulan di rumah sakit Jerman setelah diracun pada Agustus 2020 dengan racun saraf Novichok, serangan yang dikonfirmasi oleh laboratorium Jerman, Prancis dan Swedia.

Navalny (44), seorang aktivis antikorupsi yang aktif dalam unjuk rasa jalanan di Rusia selama satu dekade, mengatakan Kremlin yang meracunnya sebagai upaya percobaan pembunuhan. Pemerintah Rusia membantah tudingan itu.

Berdasarkan rekaman pengakuan agen mata-mata Rusia, racun Novichok yang dikembangkan oleh Uni Soviet ditaruh di celana dalam Navalny.

Navalny tetap kembali ke Rusia meskipun pihak berwenang mengancam akan menangkapnya pada saat kedatangannya. Dia ditahan karena melanggar pembebasan bersyarat atas hukuman kejahatan keuangan 2014 yang menurut Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa bermotif politik.

Navalny mengatakan kejahatan keuangan itu dibuat oleh otoritas Rusia dan menyebut tuduhan melanggar pembebasan bersyarat tidak masuk akal, karena dia tidak bisa melapor dua kali sebulan kepada petugas pembebasan bersyarat karena dia dievakuasi dari Rusia ke Jerman saat dalam keadaan koma setelah serangan tersebut.

Dia dikirim ke penahanan praperadilan selama 30 hari.

Kantor kejaksaan mengeluarkan pernyataan pada Senin mengatakan Navalny harus dipenjara karena pelanggaran pembebasan bersyarat.

Selama unjuk rasa hari Minggu, polisi menangkap 5.300 orang di seluruh Rusia, meskipun banyak yang dibebaskan pada hari itu.

Peskov, merujuk pada orang-orang yang berperilaku “agresif” terhadap polisi ketika menyerukan hukuman berat.

“Tidak boleh ada pembicaraan dengan perusuh dan provokator,” ujarnya, dikutip dari The New Yokr Times, Selasa (2/2).

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis online pada Minggu, pendukung Navalny mengatakan mereka memperkirakan jaksa membenarkan dakwaan kerusuhan terhadap pengunjuk rasa berdasarkan dua insiden: sebuah mobil polisi yang terbakar dan seorang pria di jalan yang kosong yang berjalan ke barisan polisi yang memegang senjata. Polisi mengeluarkan pernyataan yang mengatakan mereka sedang menyelidiki kebakaran mobil sebagai vandalisme.

Pernyataan tersebut menyatakan dua episode tersebut menjadi sorotan di media pro-pemerintah dan bisa menjadi pembenaran untuk menuntut peserta unjuk rasa atas tuduhan kerusuhan, yang terancam hukuman berat atau lama. Hukuman pendek di Rusia dijalani di penjara, sementara hukuman yang paling lama dijalani di sebuah penjara koloni.(yaya)