15/07/2024 18:06
NASIONAL

Banjir di Kalsel Rendam 10.000 Rumah Warga

Banjir melanda Kalsel, Kamis (14/1/2021). Kompas.com

fokusmedan : Banjir yang menggenangi sebagian besar wilayah di Kalimantan Selatan
(Kalsel) rendam 10.000 lebih rumah warga. Ketinggian air bervariasi antara 0,5-3 meter.

Informasi yang diperoleh dari Kepala Bagian Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) Akhmad Taufan Maulana, telah terjadi cuaca ekstrem yakni hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang pada 12-14 Januari 2021, yang berdampak banjir di wilayah Kalimantan Selatan.

Banjir terjadi di sebagian besar wilayah Kota/Kabupaten Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar,Tanah Laut, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Balangan dan Tabalong.

“Berdasarkan laporan BPBD dampak yang ditimbulkan yaitu terendamnya 10.000 lebih rumah di wilayah Kalimantan Selatan dengan ketinggian bervariasi antara 0,5-3 meter,” kata Taufan melansir Kompas.com, Jumat (15/1/2021).

Selain itu, banjir menyebabkan ruas jalan utama provinsi tergenang dan jembatan utama provinsi roboh.

Taufan menjelaskan, curah hujan dengan intensitas tinggi tercatat pada 13 Januari 2021 sebesar 51 mm dan sebesar 249 mm pada 14 Januari 2021 di Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor Banjarmasin.

Sementara itu, curah hujan tercatat sebesar 15,9 mm pada 13 Januari 2021 dan 255,3 mm pada 14 Januari 2021 di Stasiun Klimatologi Banjarbaru.

“Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa akumulasi jumlah curah hujan selama dua hari di Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor berjumlah 300 mm, yang jika dibandingkan pada normal jumlah curah hujan bulanan Januari sebesar 394 mm, maka kondisi ini tergolong dalam kondisi ekstrem,” kata Taufan.

Taufan mengungkapkan, cuaca ekstrem ini dipicu oleh kondisi dinamika atmosfer di wilayah Kalimantan Selatan yang labil.

Adanya pergerakan suplai uap air dari Pasifik Timur ke Pasifik Barat (La Nina) dan suhu muka laut yang lebih hangat dari normalnya, mengakibatkan aktivitas potensi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia terutama wilayah Kalimantan Selatan menjadi lebih signifikan.

“Selain itu, adanya pusaran angin tertutup (Eddy) di sekitar Kalimantan mengakibatkan terbentuknya daerah pertemuan angin (konvergensi) di wilayah Laut Jawa hingga Kalimantan bagian Selatan dan Timur,” papar Taufan.

Kondisi ini, lanjut dia, berpotensi memupuk massa uap air dari Laut Jawa yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan awan-awan konvektif yang masif di sekitar Kalimantan Selatan.

Secara umum, bulan Desember 2020 dan Januari 2021 merupakan puncak musim hujan di wilayah Kalimantan Selatan, sehingga hujan yang terjadi pada bulan-bulan tersebut merupakan hujan yang turun secara kontinyu.

Taufan menambahkan, hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas yang bervariasi dari ringan hingga lebat tiga hari ke depan. Meski demikian, yang perlu diwaspadai antara lain daerah-daerah Kalimantan Selatan bagian selatan dan barat seperti wilayah Banjarmasin, Banjarbaru, Kab.Banjar, Tanah Laut, Barito Kuala, Tapin, dan Hulu Sungai Selatan.

“Wilayah-wilayah ini berpotensi terjadi hujan lebat terutama pada dini hari menjelang pagi,” ujar Taufan.

Masyarakat diimbau tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, pohon tumbang, dan jalan licin.

“Masyarakat juga diimbau agar terus memperbaharui perkembangan informasi dari BMKG dengan memanfaatkan kanal media sosial infoBMKG, atau langsung menghubungi kantor BMKG terdekat,” kata Taufan.(ng)