
fokusmedan : Tingginya harga kedelai sebagai bahan pokok untuk pembuatan tahu dan tempe membuat sejumlah produsen di Kota Medan terancam gulung tikar.
Kementerian Perdagangan Indonesia menyampaikan, faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia diakibatkan tingginya lonjakan permintaan kedelai dari Tiongkok kepada AS selaku eksportir kedelai terbesar dunia.
Permintaan Tiongkok pada Desember 2020 naik dua kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton.
Akibat kondisi tersebut, seorang produsen tempe, Widodo di Kelurahan Tanjung Sari Kecamatan Medan Selatang mengeluhkan kenaikan harga kedelai di tingkat distributor sejak dua bulan lalu.
“Hal ini juga berpengaruh pada hasil produksi kami,” keluhnya, Rabu (6/1/2021).
Ia mengaku, jika sebelum adanya kenaikan harga kedelai, dirinya bisa memproduksi 70 hingga 80 Kg kedelai. Dari jumlah tersebut, bisa menghasilkan 300 hingga 350 bungkus plastik tempe dengan berbagai ukuran dan harga.
“Saat ini cuma berani produksi 25 hingga 30 Kg karena harganya juga naik. Ini saya gak tahu, bisa bertahan atau enggak kalo harganya terus naik,” ujarnya.
Kendari begitu, untuk mengatasi agar tetap memproduksi, Widodo mengurangi berat dan ukuran tempe dari sebelumnya dengan harga tetap dari sebelumnya.
“Saya terpaksa mengurangi ukuran dan berat tempe bang, biar gak rugi,” ungkapnya.
Sebelumnya harga kedelai per kilogram dijual dengan harga Rp 6.500, namun saat ini naik hingga Rp 9.300.
“Terlebih lagi karena Covid-19 ini, penjualan terus berkurang hingga 50 persen,” tandasnya.(raf)
