12/07/2024 19:29
INTERNASIONAL

15 Jenazah Covid-19 Dipaksa Dikremasi, Kemarahan Muslim Sri Lanka Memuncak

fokusmedan : Kemarahan meningkat di Sri Lanka setelah setidaknya 15 korban virus corona Muslim, termasuk seorang bayi, dikremasi. Proses pemakaman kremasi ini tentu saja bertentangan dengan tradisi pemakaman Islam.

Ketika protes lokal dan internasional meningkat, Maladewa sebagai negara tetangga mengatakan sedang mempertimbangkan permintaan untuk menguburkan Muslim Sri Lanka di negaranya, seperti yang dilansir dari AFP, Selasa  (15/12/2020).

Presiden Maladewa, Ibrahim Mohamed Solih berkonsultasi dengan para pejabatnya untuk “membantu Sri Lanka dalam memfasilitasi upacara pemakaman Islam di Maladewa bagi Muslim Sri Lanka yang meninggal karena pandemi Covid-19.”

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Maladewa Abdulla Shaheed dalam tweete-nya.

Organisasi Kerja sama Islam (OIC) yang beranggotakan 57 orang menyatakan keprihatinannya atas perintah kremasi dan menyerukan agar Muslim Sri Lanka diizinkan menguburkan anggota keluarga sesuai dengan keyakinan agama mereka.

“Melawan praktik ini, yang dilarang Islam, OIC menyerukan penghormatan terhadap upacara pemakaman dalam keyakinan Islam,” kata OIC dalam sebuah pernyataan.

Perintah kremasi yang dikeluarkan pada April datang di tengah kekhawatiran para biksu Buddha yang berpengaruh bahwa jenazah dapat mencemari air tanah dan menyebarkan virus corona.

Hal itu diserukan setelah 19 keluarga Muslim Kolombo menolak mengakui jenazah kerabat mereka yang terinfeksi Covid-19 di kamar mayat, pada pekan lalu, jaksa agung memerintahkan jenazah-jenazah itu dikremasi.

Sejauh ini setidaknya ada 15, termasuk seorang bayi berusia 20 hari bernama Syekh telah dikremasi, meski tidak ada permohonan dari pihak orang tua.

Pihak keluarga tersebut mengatakan bahwa mereka diintimidasi untuk menyetujui kremasi. Kemudian, ketika mereka menolak, pihak berwenang melakukan kremasi paksa tanpa partisipasi kerabat mana pun.(ng)