BMKG : Oktober – November Puncak Musim Hujan di Sumut

fokusmedan : Balai Besar Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan memperkirakan puncak musim hujan yang terjadi di wilayah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) akan terjadi pada bulan Oktober – November 2020.

Kepala BBMKG Wilayah I Medan Edison Kurniawan mengatakan, sehingga pada periode tersebut, perlu diwaspadai dampak yang ditimbulkan, mengingat wilayah Sumut memiliki bentuk kontur wilayah yang unik seperti lereng pegunungan, wilayah pantai dan juga sungai.

“Seperti diketahui bencana hidrometeorologi merupakan kejadian bencana yang sering terjadi selain gempa bumi. Berdasarkan informasi dari BPBD, Provinsi Sumut sering mengalami bencana alam yang meliputi banjir, longsor, kebakaran hutan lahan, tsunami, gempa bumi, banjir bandang, wabah penyakit, angin puting beliung, kekeringan, dan letusan gunung berapi,” ungkapnya, Selasa (29/9/2020).

Edison menjelaskan, memasuki bulan September 2020, ada beberapa wilayah Kabupaten/Kota yang berpotensi terjadi banjir seiring dengan mulai meningkatnya intensitas curah hujan diantaranya Langkat, Asahan, Batubara, Deli Serdang, Gunung Sitoli, Tebing Tinggi, Labuhan Batu, Mandailing Natal, Medan, Nias, Nias Barat, Nias Selatan, Nias Utara, Padang Sidempuan, Pematang Siantar, Samosir, Serdang Bedagai, Simalungun dan Tapanuli Selatan.

“Sedangkan untuk wilayah lereng pegunungan untuk lebih mewaspadai tingginya curah hujan yang berpotensi terjadinya longsor serta banjir bandang di wilayah sekitar hilir sungai,” jelasnya.

Edison menuturkan, untuk itu pihaknya mengimbau agar masyarakat dan pemerintah daerah dapat mulai bahu membahu untuk mencegah terjadinya bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung. Selain itu juga masyarakat agar terus mengikuti perkembangan cuaca yang terjadi melalui website BMKG (bmkg.go.id), aplikasi infoBMKG, media cetak maupun elektronik dan media sosial.

Edison melanjutkan, upaya penanggulangan banjir dapat dilakukan dengan menjaga lingkungan sekitar, hindari membangun rumah di pinggiran sungai, melaksanakan program tebang pilih dan reboisasi, membuang sampah pada tempatnya dan membersihkan saluran air (drainase).

Sedangkan untuk upaya penanggulangan tanah longsor dapat dilakukan melalui mengenali daerah yang rawan terjadi longsor terutama di sekitar lereng yang curam, membuat terasering dengan sistem drainase yang tepat, melakukan penghijauan dengan tanaman dengan sistem perakaran yang kuat, dan pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall).

Adapun untuk upaya mencegah terjadinya kerusakan akibat bencana puting beliung, tambah dia. dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan pengamanan/penguatan bagian-bagian yang mudah diterbangkan oleh angin yang dapat membahayakan diri atau orang lain, serta membangun rumah/gedung dengan struktur bangunan yang memenuhi syarat teknis, sehingga mampu bertahan terhadap tiupan angin kencang.

“Kita semua berharap semoga Provinsi Sumut bersama rakyat dan pemerintah daerah dapat terus bekomitmen untuk menjaga lingkungannya agar terhindar dari bencana,” tandasnya.(riz)