Konsumsi Energi Migas Alami Hambatan Selama Pandemi

fokusmedan : Pemerintah mengakui tren konsumsi energi minyak dan gas bumi (migas) mengalami hambatan selama pandemi Covid-19. Di sisi lain, pemerintah juga mesti menjaga iklim investasi migas dalam negeri untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, sebelum pandemi Covid-19 terjadi, konsumsi energi seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami peningkatan rata-rata tahunan sekitar 2,7%.

Begitu pula dengan konsumsi Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang naik rata-rata 5% sejak program konversi minyak tanah ke LPG diberlakukan sejak tahun 2015.

“Saat Covid-19 terjadi, konsumsi BBM trennya menurun dan puncaknya di bulan April lalu. LPG juga demikian, tapi tidak signifikan karena kebutuhan energi rumah tangga masih meningkat,” ungkapnya, mengutip Kontan, Senin (28/9/2020).

Penurunan konsumsi energi sejalan dengan koreksi yang dialami oleh harga minyak mentah dunia. Sebelum pandemi, harga minyak dunia masih bisa menyentuh kisaran level US$ 70US$ 80 per barel.

Namun, ketika pandemi melanda, harga minyak dunia terus mengalami tren penurunan, bahkan sempat menembus level negatif di awal kuartal kedua lalu.

Dengan kondisi penurunan konsumsi seperti itu, Arifin tetap menekankan bahwa fokus utama pemerintah adalah menjaga ketersediaan energi di dalam negeri, termasuk energi yang berasal dari migas.

“Pertumbuhan penduduk Indonesia cukup tinggi, maka konsumsi energi kelak akan terus meningkat di masa mendatang,” ujar dia.

Pemerintah pun bakal terus meningkatkan kegiatan eksplorasi secara masif, karena masih adanya wilayah-wilayah yang berpotensi menghasilkan migas secara signifikan.

Selain itu, pengembangan kilang-kilang minyak juga terus dilakukan untuk memastikan suplai Bahan Bakar Minyak (BBM) berkualitas bagi masyarakat.

“Akuisisi lapangan-lapangan migas potensial juga dapat dilakukan untuk menunjang suplai energi nasional,” tambah Arifin.

Dia menambahkan, dalam jangka pendek, pemerintah berusaha mempertahankan tingkat produksi migas yang ada. Apalagi, dalam beberapa waktu terakhir tren produksi migas Indonesia cenderung mengalami penurunan.

Pemerintah juga mengoptimalkan berbagai teknologi seperti enhanced oil recovery (EOR) untuk menggenjot produksi migas dari sumur-sumur eksisting yang sejatinya telah berusia tua.

Tak ketinggalan, pemerintah juga berusaha mengkonsolidasi dan mempertajam data-data sumur migas yang ada. Harapannya, data tersebut bisa memberi gambaran yang lebih jelas terkait potensi-potensi sumur migas yang bersangkutan, sehingga memudahkan investor untuk melakukan eksploitasi.(ng)