Survei SMRC: Mayoritas Masyarakat Terbebani Biaya Pembelajaran Jarak Jauh

fokusmedan : Survei SMRC menunjukkan sebagian besar masyarakat terbebani dengan biaya pembelajaran jarak jauh. 67 persen responden yang memiliki anggota keluarga masih sekolah atau kuliah merasa berat membiayai sekolah atau kuliah yang dilakukan secara daring.

“Pemerintah perlu memperhatikan secara serius beban yang dihadapi masyarakat, terutama bila kebijakan ini masih akan terus dilanjutkan,” kata Manajer Kebijakan Publik SMRC Tati Wardi saat pemaparan survei, Selasa (18/8).

70 persen responden dalam survei itu memiliki keluarga yang masih sekolah atau kuliah. 87 persennya menyatakan anggota keluarganya tersebut mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Dari yang mengikuti pembelajaran jarak jauh, 17 persen merasa sangat berat dengan biayanya, 50 persen menyatakan cukup berat, 26 persen sedikit berat, 6 persen menyatakan tidak berat, dan 1 persen tidak menjawab.

Hasil survei itu berkorelasi dengan tingkat pendidikan dan pendapatan. Semakin tinggi latar pendidikan, semakin rendah kecenderungan menyatakan berat membiayai pembelajaran jarak jauh.

72-73 persen warga berpendidikan SD dan SMP menyatakan biaya pembelajaran jarak jauh sangat atau cukup berat. Hanya 63 warga berpendidikan SMA dan 57 persen berpendidikan perguruan tinggi yang mengatakan demikian.

Dilihat dari pendapatan juga mengalami kecenderungan yang sama. 80 persen warga berpenghasilan maksimal Rp 1 juta per bulan menyatakan berat membiayai pembelajaran jarak jauh. 73 persen berpendapatan Rp 1-2 juta perbulan, 62 persen warga berpendapatan Rp 2-4 juta, dan 50 persen warga berpendapatan lebih dari Rp 4 juta per bulan mengalami hal yang sama.

“Jadi terlihat sekali bahwa pendidikan jarak jauh ini membawa dampak serius terutama pada kalangan status sosial ekonomi lebih rendah,” jelas Tati.

Survei nasional SMRC ini mengambil 2201 responden yang diambil secara acak dari sampel survei tatap muka sebelumnya dengan jumlah proporsional menurut provinsi untuk mewakili pemilih nasional. Wawancara dilakukan pada 5-8 Agustus 2020. Survei dilakukan dengan wawancara melalui sambungan telepon.

Survei ini memiliki margin of error survei diperkirakan kurang lebih 2,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen dengan asumsi simple random sampling.(yaya)