Dahlan Iskan Cerita Pernah Bermimpi Jadi Presiden RI

fokusmedan ; Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, mengakui bahwa sebenarnya ia ingin menjadi pemimpin di Indonesia. Impian ini muncul saat usianya masih 30 tahun.

Impiannya untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia itu pudar saat menyadari dirinya termasuk orang yang ekstrem. Ia merasa, orang-orang ekstrem tidak akan bisa menjadi pemimpin di negara demokratis seperti Indonesia.

“Saya umur 30 memimpikan menjadi pemimpin di masa depan, tetapi saya ekstrem, tidak mungkin. Untuk negara demokrasi seperti Indonesia, tidak mungkin yang ekstrem jadi pemimpin di masa mendatang,” ujar Dahlan Iskan dalam webinar ‘Membangun Kepemimpinan Indonesia Maju di Tengah Krisis Global’ yang diselenggarakan oleh Partai Gelora, Sabtu (15/8).

Selanjutnya, Dahlan menambahkan bahwa orang Indonesia cenderung berkelompok. Ada banyak sekali kelompok di Indonesia. Mulai dari kelompok keagamaan maupun suku. Dari banyaknya kelompok besar agama-agama di Indonesia saja, masih dibagi lagi menjadi sub kelompok yang lebih kecil. Dari begitu banyaknya kelompok di Indonesia, seorang pemimpin sebaiknya menurut Dahlan, harus berada di tengah.

“Karena sebaik-baiknya kelompok adalah kelompok yang di tengah-tengah. Artinya tidak (cenderung) ke sana, ke sini, tapi punya karakter dan punya kemampuan untuk membawa negara maju,” ujarnya.

Untuk bisa menjadi pemimpin di Indonesia, berada di tengah saja tidak cukup. Menurut Dahlan, di era demokrasi seperti ini, seorang calon pemimpin harus populer di semua kelompok itu.

“Harus diakui, Indonesia ini orangnya berkelompok. Ada kelompok Islam, Kristen, Hindu, Islam Jawa, Islam luar Jawa. Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU) Bahkan ada Muhammadiyah Amien Rais. Muhammadiyah apalagi? Nah dalam kesukuan, ada adat Jawa, Jawa Islam. Nah yang terpilih adalah yang populer di semua kelompok ini,” ujarnya.

Untuk menjadi seseorang yang populer di semua kalangan menurutnya tidaklah mudah. Dia merasa bahwa seorang ekstremis seperti dirinya tidak akan bisa populer. Ia tidak mau menyangkal kenyataan bahwa akan sulit untuk terpilih menjadi seorang pemimpin di Indonesia bila tidak populer.

“Kalau bicara tentang pemimpin bangsa, akan menghadapi kenyataan bahwa tidak akan terpilih kalau tidak populer. Harus populer dan untuk populer itu tidak gampang. Pasti yang ekstremis tidak populer,” ujarnya.

Dalam webinar tersebut, Dahlan Iskan diusulkan menjadi calon presiden 2024 oleh salah satu peserta. Dahlan merespons usulan itu dengan candaan. Ia mengatakan bahwa Partai Gelora yang merupakan partai baru tidak memiliki beban di masa lalu. Berbeda dengan dirinya yang memiliki beban di masa lalu. Sehingga menurutnya, partai Gelora harus bisa melakukan terobosan dalam merebut hati rakyat.

“Katanya tadi Partai Gelora menyiapkan pemimpin-pemimpin, ya jangan lah. Partai Gelora tidak ada beban apapun, ya mulailah sesuatu yang menerobos. Saya kan sudah tersangka beberapa kali,” ujar Dahlan sambil tertawa.

Dahlan pun melihat bahwa orang-orang di balik partai Gelora lebih mementingkan kualitas, moralitas dibandingkan kepopuleran semata.

“Saya kira teman-teman partai Gelora, kurang lebih seperti PKS lah. Saya enggak tahu orang luar. Artinya partai ini mementingkan kualitas dan moralitas,” pungkasnya.

Partai baru yang dinahkodai oleh mantan Ketua Partai PKS ini sedang menyiapkan pemimpin-pemimpin Indonesia ke depan. Partai Anis Matta dan Fahri Hamzah cs ini mengaku sedang membangun narasi Indonesia menjadi lima besar kekuatan dunia.(yaya)