18/04/2024 18:18
NASIONAL

Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Bakal Kembali Melemah, Ini Pemicunya

fokusmedan : Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira memprediksi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) akan kembali tertekan.

“Rupiah diuntungkan dengan adanya demonstrasi besar-besaran di AS, efek sengketa AS dan China terkait masalah Hong Kong, dan ancaman Trump untuk keluar dari WHO,” kata Bhima kepada Liputan6.com, Minggu (7/6).

Bhima mengatakan, menguatnya Rupiah juga didukung oleh situasi geopolitik yang tak menentu dengan epicentrum di Amerika Serikat yang membuat pelaku pasar global mulai meninggalkan USD.

“Dolar index tercatat terkoreksi sebesar -1,87 persen dalam sepekan terakhir menjadi level 96,5. Dolar index adalah perbandingan USD dengan 6 mata uang negara lain termasuk Euro dan Yen Jepang,” ujarnya.

Sehingga pelemahan USD membuat aliran dana asing masuk ke negara berkembang. Oleh karena itu, dia menyebut masih terlalu dini sentimen positif Rupiah, karena faktor dalam negeri seperti pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Jika dilihat dari situasi tersebut, Bhima menyarankan agar pemerintah sebaiknya melakukan perencanaan protokol kesehatan yang lebih baik, dan stimulus harus diarahkan untuk menyiapkan pelaku usaha memasuki fase pelonggaran, serta investor juga perlu mencermati penanganan covid-19 di Indonesia maupun dunia.

Dia menyimpulkan bahwa Rupiah belum tentu akan menguat, karena jika demontrasi di Amerika Serikat sudah mereda, kemungkinan dolar akan melambung lagi.

“Belum tentu (Rupiah terus menguat), pemerintah harus waspadai pembalikan arah dana asing, dolar AS bisa rebound lagi,” pungkasnya.

Terkuat Selama Pandemi

Sebelumnya, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat siang melanjutkan penguatan dan menembus ke level baru psikologis di bawah Rp14.000 per USD. Ini adalah level terkuat sejak era pandemi Corona.

Jumat siang, di pasar spot, rupiah menguat ke Rp13.885 per USD, dibandingkan saat pembukaan perdagangan pagi ini yang sebesar Rp14.075 per USD.

Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede berpendapat, berlanjutnya penguatan rupiah hari ini disebabkan sentimen domestik menyusul penerapan masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, yang diharapkan mampu mendorong produktivitas kegiatan ekonomi.

“Jika implementasi PSBB terbatas yang nantinya akan diikuti juga oleh implementasi normal baru dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan kasus baru lagi di kemudian hari, maka aktivitas perekonomian pada kuartal III tahun 2020 diperkirakan akan membaik dibandingkan kuartal II tahun 2020 yang diperkirakan akan mengalami kontraksi,” ujar dia, dikutip dari Antara, Jumat (5/6).

Selain itu, dari sisi eksternal, mata uang “greenback” dolar AS juga telah melemah 1,56 persen dalam sepekan terakhir.

Pelemahan mata uang paling berpengaruh di dunia itu disebabkan oleh terakumulasinya ekspektasi dari para investor setelah pembukaan kembali kegiatan ekonomi di berbagai negara Asia.

“Terbukti dari sisi pasar Asia, sebagian besar mata uang Asia di minggu ini mengalami penguatan, kecuali Yen. Penguatan lebih lanjut dari Rupiah juga akibat adanya investor yang memindahkan asetnya dari pasar India, akibat adanya penurunan peringkat (downgrade rating) dari BAA2 menjadi BAA3 dan menurunnya prospek (outlook) dari stabil menjadi negatif,” ujar Josua.(yaya)