15/04/2024 16:13
NASIONAL

Pemerintah Siapkan Dana Rp150 Triliun untuk Bangkitkan Ekonomi Usai Pandemi Corona

fokusmedan : Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang menyebut bahwa pemerintah tengah menyiapkan anggaran Rp150 triliun untuk membantu perusahaan yang tidak melakukan PHK karyawan di tengah pandemi corona. Harapannya, ekonomi Indonesia bisa kembali bangkit usai pandemi corona.

Anggaran ini berada di luar anggara stimulus virus corona yang sebelumnya telah disiapkan pemerintah sebesar Rp405 triliun.

“Pemerintah menyiapkan anggaran Rp150 triliun itu di luar anggaran Rp405 triliun, untuk program-program reborn ekonomi Indonesia. Sekarang sedang disusun. Sebetulnya yang Rp150 triliun ini kita agendakan untuk setelah Covid-19 ini hilang dari Indonesia. Supaya diharapkan jadi negara yang tercepat reborn ekonominya,” ungkapnya.

Namun demikian,pengucuran dana ini akan dievaluasi kembali sehingga sifatnya dinamis. Dia memperkirakan, mungkin saja ada kebutuhan-kebutuhan yang melebihi Rp150 triliun yang akan dibahas di internal pemerintah.

Saat ini, Menperin mencatat bahwa 60 persen industri kecil, menengah dan besar terpukul akibat dampak covid-19. Namun, 40 persen lainnya justru mengalami peningkatan permintaan.

Meskipun ada industri yang menderita di balik wabah ini, tapi ada industri lain yang mengalami permintaan yang tinggi, yakni industri alat kesehatan berupa Alat Pelindung Diri (APD), masker, sarung tangan medis, farmasi dan fitofarmaka, tentunya industri makanan dan minuman.

“Demand yang tinggi ini bisa kita lihat adalah kebanyakan berkaitan dengan Industri alat keselamatan diri dan industri farmasi, makanan dan minuman. Ini adalah momentum yang tepat untuk kebangkitan kita baik dari industri alat kesehatan, makanan dan minuman, obat dan vitamin,” ujarnya.

Sementara untuk industri yang menderita akibat covid-19 yaitu industri logam, regulator, peralatan listrik, kabel, semen, keramik, kaca, elektronik dan peralatan telekomunikasi, otomotif, karet, mesin, alat berat, pesawat terbang, kereta api, kapal, tekstil, serta meubel dan kerajinan.

“Penanganan masing-masing industri juga berbeda, yang paling penting mereka tidak semakin terpuruk.”(yaya)