Stok obat ARV di Kota Medan mulai sulit ditemukan

fokusmedan : Stok obat Antiretroviral (ARV) yang ada di beberapa pusat kesehatan di Kota Medan sidah mulai sulit diperoleh.

Sejumlah aktivis sosial HIV/AIDS dari berbagai komunitas di kota Medan pun sudah bergerak dan mendatangi kantor Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumatera Utara Sumut, Sabtu (7/3) terkait hal tersebut.

Selain itu komunitas Jaringan Indonesia Positif (JIP), Medan Plus, KDS Wilayah I, P3M, ACS IAC, Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) berdiskusi dengan KPA dan Dinas Kesehatan serta Dinas Perdagangan terkait stok ARV tersebut.

Koordinator JIP, Samara Yudha Afrianto menuturkan ARV atau antiretroviral adalah pengobatan untuk perawatan infeksi oleh retrovirus, terutama HIV. Beberapa waktu lalu, telah terjadi kosongan stok ARV pada jenis tertentu di Medan, yaitu Tenovofir, Dufiral dan Evapirenz.

Dua obat setelah dikoordinasikan, lanjutnya, ternyata sudah diterima oleh Dinkes Sumut dan kini sudah tersedia di gudang. “Stock sudah ada kecuali Evapirenz belum sampai di Sumut,” sebutnya kepada wartawan, Minggu (8/3).

Ia menjelaskan, karenanya saat ini, stok obat untuk Sumut, akan aman sampai dengan 3 bulan kedepan. Untuk itu, agar tidak terjadi lagi kekosongan, telah disepakati Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk pengusulan obat.

“SOP yang ditetapkan, usulan dibuat per 3 bulan, dan laporan diterima setiap bulan dari layanan,” jelasnya.

Permasalahan kekosongan obat ARV ini, sambungnya, sering terjadi lantaran layanan tidak tepat waktu dalam mengirimkan laporan.

Akibatnya, pengamprahan obat menjadi terdampak, sehingga terjadi kekosongan obat di layanan.

“Kemudian, tidak adanya anggaran dari daerah untuk menjemput obat ke gudang farmasi Dinkes Sumut yang ada di Kota Medan. Selanjutnya¬†akan di bentuk sebuah unit informasi yang terpusat untuk Program HIV, yakni Dinkes Sumut, KPA Sumut dan Civil Society Organization (CSO) atau aktivis sosial,” tandasnya.(riz)