Mata Kering Bisa Sebabkan Kebutaan hingga Gangguan Psikologis, Waspadai Gejala dan Penyebabnya

Ilustrasi mata kering. Freepik

Fokusmedan.com : Dokter spesialis mata lulusan Universitas Indonesia, dr. Niluh Archi, SpM, mengingatkan bahwa kondisi dry eye atau mata kering yang tidak ditangani dengan baik dapat memicu berbagai komplikasi serius, termasuk kerusakan mata permanen hingga kebutaan.

“Sudah jelas, mata kering yang tidak ditangani bisa menimbulkan infeksi atau luka (scratch) pada permukaan mata. Jika dibiarkan, bisa berujung pada kebutaan,” kata dr. Niluh Archi dalam diskusi kesehatan mata di Jakarta dilansir dari Antara, Jumat (18/7/2028).

Ia menjelaskan bahwa mata kering tidak hanya disebabkan oleh faktor lingkungan, tetapi juga dapat berkaitan dengan penyakit sistemik seperti diabetes, hipertensi, atau kolesterol tinggi. Dalam beberapa kasus, mata kering juga menjadi indikator awal dari penyakit autoimun.

“Jika berkaitan dengan autoimun, biasanya sudah ada predisposisi genetik sejak lahir. Penyakit ini berkembang karena dipicu oleh faktor lingkungan. Terjadi proses inflamasi atau peradangan, termasuk di kelenjar air mata dan lapisan film air mata,” ujarnya.

Dokter yang berpraktik di JEC Eye Hospitals tersebut menambahkan bahwa pasien mata kering dengan latar belakang autoimun biasanya juga mengalami gejala sistemik lainnya, seperti mulut kering, nyeri sendi, dan kelelahan kronis.

Adapun gejala mata kering secara umum meliputi mata merah, rasa panas, penglihatan kabur, sensitif terhadap cahaya, hingga produksi air mata berlebih. Beberapa pasien juga mengeluhkan rasa seperti ada yang mengganjal, mata terasa berpasir, gatal, atau kelopak mata terlihat tidak simetris.

Tak hanya berdampak fisik, mata kering yang kronis juga bisa memengaruhi kondisi psikologis pasien.

“Banyak pasien menjadi tidak produktif, cenderung ingin berdiam diri di rumah karena merasa tidak nyaman melihat layar. Walau tidak mengalami keburaman, rasa perih dan iritasi sangat mengganggu kualitas hidup mereka. Ini bisa berujung pada depresi bahkan masalah ekonomi karena menurunnya produktivitas,” tutur dr. Niluh.

Penanganan mata kering umumnya mencakup penggunaan obat tetes mata, kompres hangat, pengurangan screen time, hingga penggunaan humidifier untuk menjaga kelembapan udara. Namun, untuk kasus yang disebabkan oleh autoimun, terapi perlu lebih intensif dan jangka panjang.

“Pada pasien dengan autoimun, modifikasi gaya hidup saja tidak cukup. Biasanya kita perlu menambahkan obat anti-inflamasi jangka panjang untuk mengontrol peradangannya,” tambahnya. (ram)