
Fokusmedan.com : Perjalanan dalam merintis usaha dan bisnis tidak selamanya mulus. Patah semangat dan gagal di tengah jalan pastinya menjadi trauma yang membekas bagi empunya gawean.
Ada pengorbanan dibalik kesuksesan pribadi masing-masing, baik mendedikasikan waktu, tenaga dan pikiran dalam bisnis tersebut. Inilah yang diperbuat sosok Tri Handayani (41) dan suaminya Fitriadi (46). Dengan keteguhan dan keyakinan, usaha kerupuk kulit ikan patin yang dianggap memiliki bentuk menjijikan dan menggelikan seperti ular berhasil menembus pasar Asia Tenggara.
Mengawali dengan tertitah-titah, Pemilik CV Raja Patin Indonesia, Tri Handayani saat disambangi ke rumahnya yang sekaligus tempat produksi di Jalan Mesjid Dusun 2 Desa Sugiharjo, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara mengaku, kini usahanya dapat melenggang memenuhi permintaan pasar dalam negeri maupun pasar di salah satu negara Asia Tenggara yakni Malaysia. Bahkan, ekspor perdana kerupuk kulit ikan patin ke Malaysia pada Rabu, 3 Juli 2024 lalu tembus 3.800 pack atau 2,5 ton.
Berjalan tahun kedelapan, ia bisa merekrut sebanyak 32 pekerja, padahal di 2016 usahanya hanya memberdayakan empat ibu-ibu sekitar rumah dengan notaben kuli yang bekerja di sawah atau di ladang dan ibu rumah tangga. Selain itu, awalnya hanya memproduksi 50 kilogram kulit ikan patin, sekarang 1 ton kerupuk bisa dihasilkan dalam sehari.
“Kita naiknya pelan-pelan, mulai diecer ke warung-warung dengan harga seribuan, ikut jualan di bazar ataupun pameran, memasuki ritel-ritel modern di Sumatra Utara dan Aceh, kemudian akhirnya menjangkau pasar ekspor,” ujarnya, Senin (28/9/2024).
Alumnus dari Universitas Negeri Medan (Unimed) ini menceritakan, untuk kegiatan ekspor, banyak hal yang harus dilakukan, mulai dari persiapan dan syarat yang harus dilengkapi, dokumen ekspor, standarisasi internasional, pencarian pembeli produk di luar negeri dan banyak lainnya. Beruntung, Kantor Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) Medan I banyak membantu.
Menurutnya, produk-produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memiliki potensi yang sangat besar untuk menembus pasar ekspor. Hanya saja, masih banyak yang tidak tahu dan memahami bagaimana prosedur dan mekanisme yang harus dilalui supaya produknya bisa diekspor ke luar negeri.
“BPPMHKP membantu mulai dari mengatur CV, bagaimana caranya kita layak mendapatkan sertifikat internasional, dan memudahkan kita untuk mengerti syarat apa saja yang membuat naik kelas dan grow up. Dan kerupuk Raja Patin sudah memiliki standar sesuai kelayakan Internasional serta sertifikat HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point),” kata Yani panggilan akrabnya.
Tak hanya itu, kata Ibu dari Daru dan Angger ini, dukungan juga ditunjukkan Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Utara (Sumbagut). Meski Tri Handayani bergabung menjadi mitra binaan Pertamina sejak 2019 yang kemudian sukses dan mandiri sejak tahun 2022 serta merupakan alumni UMK Academy 2021, pada ekspor perdana, manajemen Pertamina hadir memberikan perhatian yang antusias.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pertamina atas dukungan yang diberikan berupa pendampingan, pelatihan, permodalan, hibah alat usaha, dan diikutsertakan dalam pameran nasional serta internasional.
“Pertamina itu juga mempublikasikan kegiatan untuk dinaikkan ke portal Pertamina ataupun media-media. Intinya, Pertamina lebih giat membantu pelaku UMKM di bidang promosi,” tutur mantan guru di SMK Telkom Medan ini.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga andil memberikan apresiasi yang disampaikan langsung oleh Pejabat (Pj) Gubernur Sumut Agus Fatoni atas pelepasan ekspor perdana tersebut. Ia berharap ekspor ini kedepannya terus ditingkatkan dan UMKM lainnya perlu menyusul untuk naik kelas, go digital dan go internasional.
Yani menambahkan, hingga saat ini, ekspor kerupuk kulit ikan patin ke Malaysia sudah dilakukan beberapa kali. Mulanya, ada buyer (pembeli) yang datang di acara pameran di Pekan Baru, ia makan dan tertarik untuk mendistribusikan ke Malaysia karena rasanya yang enak dan gurih.
Yani memiliki keinginan ingin merambah pasar China dan Singapura dan berharap buyer segera “meminangnya”. Sebab, kedua negara tersebut memiliki potensi pasar yang menjanjikan.
“Untuk harga mulai Rp20.000 hingga Rp35 ribu per pack, dari ukuran 100 gram dan 250 gram. Sedangkan omset kita sebelum ekspor, itu bisa mencapai Rp3 miliar per tahun atau ratusan juta per bulan,” terangnya.
Sementara untuk pasar lokal, Raja Patin sudah dipasarkan ke beberapa daerah diantaranya Jakarta, Pekan Baru, Lampung dan Aceh.
“Jujur sampai saat ini untuk pemasaran, saya juga bingung bagi-baginya karena kapasitas produksi yang sehari hanya satu ton belum bisa menjangkau semua permintaan,” katanya.
Dalam memenuhi pasar tersebut, ia berencana bagaimana memperluas tempat produksi, menambah jumlah karyawan karena pihaknya sudah meneken kontrak di beberapa market ritel di Sumut dan Aceh. Ia juga memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram dan kanal YouTube.
“Kita juga sedang coba kembangkan konten dan sedang mau buat kanal YouTube. Sekarang, saya butuh lahan pabrik yang luas dan ini menjadi kendala sebab modal kita belum memadai,” ujarnya.
Menurutnya, kunci sukses dalam bisnis yaitu, Allah SWT, usaha, doa, tekun dan gigih bersama karyawan. Setiap orang punya proses dan jalannya masing-masing tergantung bagaimana pemikiran seseorang, jika mau sukses bukan sukses yang harus ada di kepala tetapi bagaimana maju selangkah demi selangkah sesuai dengan realiti dan nanti hasil akan menyesuaikan.
Jika ditargetkan sukses dengan plus-plus kata dia, dan hasil tidak sesuai maka kita akan mundur. Jadi, sesuai dengan achipment masing-masing saja, cukup jalan dengan pelan-pelan dengan melompati satu anak tangga ke anak tangga lainnya.
“Mulai tanpa buat target yang penting bisa buat putaran hari ini, hari ini buat putaran besok, besok ya untuk besok lagi. Intinya, tetap terus mengayuh sepedamu, karena kamu tidak tahu sampai kapan mengayuh sepedamu menjadi mesin yang kencang. Jangan tergesah-gesah, pelan-pelan saja, cari pendapatan hari ini untuk hari ini,” pungkasnya.
Kisah Pilu Dibalik Kesuksesan Raja Patin

Kekuatan terbesar dalam keberhasilan adalah usaha dan komitmen. Usaha tidak mengkhianati hasil, namun di fase keterpurukan, campur tangan Tuhan menjadi power yang luar biasa.
Berawal dari status pengangguran suaminya akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari perusahaan swasta tempatnya bekerja pada 2016. Kondisi tersebut sempat membuat patah arang karena sumber utama penghidupan adalah gaji.
Di tengah keterpurukan dan tidak tahu mau berbuat apa, karena suaminya memiliki pengalaman bekerja selama belasan tahun di industri perikanan dan latar belakang pendidikan sarjana perikanan, ia bersama suami memutuskan untuk melakukan pembibitan ikan patin.
“Kami juga menjual semua produk perikanan termasuk kulit ikan. Dulu kulit patin itu tidak dijadikan produk makanan, cuma diolah menjadi pelet dan untuk makanan ikan ternak lele,” ujar Yani.
Suatu hari, cerita Yani, teman suaminya yang merupakan salah satu petinggi bank swasta memesan kulit ikan patin sebayak 50 kilogram untuk dijadikan makanan ternak lelenya. Namun, di hari yang sudah ditentukan si pembeli tidak datang dan membatalkan pesanannya.
Seketika itu, mereka bingung karena sudah mengeluarkan uang untuk membeli kulit ikan patin. Jika dibuang, maka akan mubazir dan pastinya merugi sehingga Yani memutar otak dan mencoba diolah jadi kerupuk.
“Jadi kulit ikan patin yang 50 kilogram itu kita jual dengan membuka bazar, Alhamdulillah habis dalam dua hari. Dari situlah kita mendapatkan uang lumayan,” tegasnya.
Dengan kejadian itu, sambungnya, keputusan untuk membuka usaha kerupuk kulit ikan patin dimulai sejak 6 Desember 2016. Keduanya ingin membuktikan orang yang di PHK itu hidupnya tidak berakhir.
“Sang Pencipta itu luar biasa, tegurannya, cobaannya dan berkahnya membuat saya selalu berfikir ada kuasa yang lebih besar dari rencana manusia. Semua tepat sesuai porsinya, semua lewat sesuai kemampuannya,” tandasnya.
Memegang motto bekerjalah dalam diam, biar suksesmu yang gegap gempita, Yani sebenarnya tidak memiliki motivasi berbisnis. Karena kekuatan dari “The Power of Kepepet”, memaksanya untuk berjuang.
“Kalau masalah yakin dan tidak yakin, sudah dibilang kita tidak memiliki keyakinan apapun.
Karena kepepet tidak ada uang, apa saja bisa dijadikan uang asalkan halal karena anak-anak sekolah butuh uang, ada orang tua yang harus dibiayai dan hidup harus terus berjalan,” ucapnya.
Berbicara modal awal, Yani mengaku tidak begitu besar, hanya kulit ikan patin 50 kilogram yang tidak jadi dibeli, per kilogramnya Rp4.000 dan satu kompor punya sendiri. Setelah berhasil menjual kerupuk kulit ikan patin yang 50 kilogram tersebut, permintaan juga bertambah.
Tetapi, sambungnya, bisnis tak semulus jalan aspal. Meski pembeli tetap yang awalnya tetangga dan diecer ke warung-warung, masih saja ada penolakan karena bentuknya yang aneh, ia bersama suaminya optimis produk tersebut akan diterima masyarakat luas karena kualitas rasanya.
Kendala lain yang dihadapi adalah saat musim hujan tentunya tidak bisa berjualan sebab pengeringan berharap dari sinar matahari. Kemudian, dulu sering kekurangan bahan baku dan kewalahan mencarinya sehingga sempat punya utang orderan.
“Kita tidak menyangka kerupuk kulit itu diterima masyarakat dengan sangat antusias. Bahan bakunya sendiri berasal dari Deliserdang, Medan, Jawa, Muara Baru, Cirebon, Tulungagung, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta dan Lampung,” terangnya.
Selama enam bulan pertama, ia bersama suami gencar memasarkan produknya namun ia mengaku tidak mendapat keuntungan yang cukup. Karena keuntungan untuk membeli bahan baku, membayar gaji pekerja, dan biaya promosi.
“Dari kondisi itu, kami memberanikan diri untuk memperluas pasar, yang awalnya hanya di Deliserdang kemudian ditambah ecomerce dan dilanjut ke ritel-ritel modern dan sampai sekarang merambah ekspor,” tuturnya.
Beruntung, sampai dititik ini ia selalu mendapat sokongan motivasi dari suami dan kedua anaknya. Yani sering berada di luar kota ataupun luar negeri untuk urusan bisnis, kemitraan, mengisi acara sebagai narasumber serta meeting dengan klien.
“Suami dan saya selalu berbagai tugas, saya posisi sebagai humas dan suami sebagai marketing. Anak-anak sudah tahu bagaimana ibunya bekerja, dan anak yang satu kuliah di Yogyakarta dan satunya sedang studi di Medan. Masing-masing punya jadwal yang diatur masing-masing dan semua paham ini adalah perjuangan ramai-ramai,” tuturnya.
Ia menambahkan, pencapaian yang ingin dipertahankan adalah bagaimana kualitas kerupuk kulit ikan patin miliknya bisa terus bertahan dengan rasa yang khas. Sehingga, cemilan tersebut bisa menjadi oleh-oleh dari Sumatra Utara.
“Dengan bumbu-bumbu tradisional seperti garam, jahe, bawang putih dan ketumbar, saya berharap kerupuk ini bisa menjadi cemilan yang diterima di lidah masyarakat Indonesia ataupun luar negeri. Semakin banyak yang terjual tentunya membutuhkan karyawan yang lebih banyak lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, Tika (32) yang merupakan karyawan di CV Raja Patin Indonesia mengaku, sebelum bekerja di Raja Patin, Tika adalah seorang ibu rumah yang hanya mengharapkan gaji dari suaminya, Misbahuddin (44) yang bekerja di salah satu perusahan swasta bergerak di bidang perikanan. Dan, selama delapan tahun terakhir, Tika bisa membantu pengeluaran untuk kebutuhan sekunder keluarga.
“Saya kerja di sini sedari awal, kebetulan pemiliknya kakak saya dan saya tinggal di sebelah rumahnya. Awalnya, karena saya melihat kak Yani yang sendiri mengelola kulit ikan patin menjadi kerupuk, jadi saya menawarkan diri untuk membantu,” katanya.
Ibu dari Hanin (10) dan Hayan (4) menambahkan, upah awal yang diberikan itu Rp200 ribu per minggu dan nilai tersebut sudah termasuk penghasilan yang lumayan untuk seorang ibu rumah tangga. Dan sekarang, penghasilannya sebulan sudah sesuai Upah Minimum Kabupaten (UMK).
Tika menceritakan, banyak suka dan duka langsung dilihat dan dirasakan, mulai dari kerupuk tidak laku, ditolak diwarung-warung karena produk baru, dibilang kerupuknya aneh seperti ular dan itu membuat Tika sangat kecewa, sedih dan kadang sampai menangis karena melihat kerupuk yang menumpuk.
“Namanya kerja, kita tidak hanya menerima hak saja (upah), kalau produk yang kita buat diterima masyarakat itu rasanya sangat gembira sekali,” ucapnya.
Meski diawal-awal usaha kerupuk kulit ikan patin terseok-seok, tapi ia tetap semangat untuk membantu di tempat tersebut, pasalnya Tika melihat Yani dan suaminya memiliki semangat dan pantang mundur. Segalanya, dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh ikhtiar untuk memperkenalan kerupuk tersebut ke agen dan konsumen.
“Dulu dijual di warung-warung kecil dan masyarakat sekitar. Tapi sekarang karena banyaknya pesanan, kami menolak konsumen yang langsung membeli ke tempat produksi dan menyarankan membeli ke reseller ataupun ritel,” tuturnya.
Tika berharap, tempatnya bekerja, Raja Patin semakin suksek kedepannya, banyak dikenal orang, bertambah negara tujuan ekspor dan makin besar dan berjaya. Kemudian, bisa merambah ritel nasional atau ritel-ritel di luar pulau Sumatra Utara. Denga begitu, semakin banyak membutuhkan tenaga kerja, sehingga warga di sekitarnya bisa bekerja di Raja Patin.
“Ya kalau yang kerja warga sini mulai dari dusun I sampai V Desa Sugiharjo, tidak jauh dari rumah dan kalau lembur sampai pukul 21.00 WIB tidak takut pulang. Kerja dekat dan tetap menghasilkan uang,” pungkasnya.
Pertamina : Kesuksesan Raja Patin Menginspirasi UMKM Lainnya

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut mengapresiasi kesuksesan yang dicapai Raja Patin hingga tembus pasar internasional. Raja Patin telah membuktikan dari level UMKM naik kelas menuju perusahan berbasis Commanditaire Vennootschap (CV) atau perseroan komanditer.
Area Manager Comm, Rel & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Susanto August Satria mengatakan, Pertamina merasa sangat berbahagia dan bangga atas pencapaian Raja Patin yang telah berhasil tumbuh menjadi salah satu UMKM binaan Pertamina yang berhasil naik kelas menjadi UMKM Go Global. Ini merupakan bukti nyata bahwa program kemitraan Pertamina mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan UMKM.
“Kami berharap kisah sukses Raja Patin dapat menginspirasi UMKM lainnya untuk terus berinovasi dan mengambil peluang untuk memperluas pasar, baik di dalam maupun luar negeri,” ujarnya di Medan, Senin (28/10/2024).
Satria menambahkan, sebagai pelaksanaan amanat dari SK Kementerian BUMN Nomor PER-6/MBU/09/2022 tanggal 8 September 2022 tentang Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Badan Usaha Milik Negara (TJSL BUMN), Pertamina memiliki tanggung jawab untuk mendukung pemberdayaan masyarakat, termasuk diantaranya melalui pengembangan UMKM.
“Kami percaya bahwa UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia dan memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui dukungan ini, Pertamina tidak hanya berkontribusi pada ekonomi nasional, tetapi juga menciptakan dampak sosial positif bagi komunitas lokal,” terangnya.
Hingga tahun 2022, tambah Satria, Pertamina telah membina sebanyak 11.800 UMKM sejak program ini dimulai pada tahun 1993. Untuk menjadi mitra binaan, UMKM harus memenuhi beberapa syarat utama, antara lain memiliki usaha yang sudah berjalan minimal 6 bulan, memiliki potensi untuk berkembang, dan memiliki izin usaha yang sah.
Selain itu, UMKM harus memiliki niat dan komitmen untuk memperluas usahanya dengan dukungan dari program kemitraan Pertamina. Mulai tahun 2023, Pertamina hanya berfokus melakukan pembinaan untuk UMK dan pengelolaan dana kemitraan Pertamina disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Satria melanjutkan, ada beberapa strategi telah dilakukan pihaknya untuk mendorong UMKM di Sumatra Utara semakin berkembang di era e-commerce saat ini. Pertamina memberikan dukungan kepada UMKM melalui berbagai program, termasuk pemberian dana pinjaman modal kerja, pelatihan, dan penyelenggaraan UMK Academy yang bertujuan untuk menjaring UMKM potensial.
“Program-program ini dirancang untuk membantu UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Dengan menyediakan pendampingan dan akses modal, Pertamina berharap UMKM binaan dapat terus tumbuh dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi ekonomi lokal,” pungkasnya.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut juga senantiasa mendukung pencapaian ESG (Environmental, Social, and Governance) dan SDGs (Sustainable Development Goals), khususnya Poin 8 yakni pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, yang diwujudkan melalui program pendanaan dan pembinaan UMKM.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, tidak dapat dipungkiri jika sektor UMKM memang menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Di tengah turbulensi ekonomi global, UMKM menjadi penopang perekonomian bangsa dari potensi tekanan ekonomi dari luar yang bisa menggiring ekonomi nasional menuju perlambatan yang sama atau yang lebih buruk menghindari terjadinya kemungkinan resesi.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Sumatra Utara (Pemprov Sumut), saat ini, jumlah UMKM di Sumut tercatat sebanyak 1,16 juta yang mampu menyerap 80% tenaga kerja. Dari jumlah tersebut sebanyak 98,9% merupakan usaha mikro dan kecil, sedangkan usaha menengah dan besar hanya sebanyak 1,1%.
“Salah satu upaya yang mulai dilakukan Presiden adalah rencana menghapus utang untuk jutaan petani dan nelayan. Dan untuk Sumut sendiri, penghapusan utang tersebut juga baik bagi petani namun upaya lain untuk menjadikan pegawai sebagai penolak bala memburuknya ekonomi global perlu ditambah,” katanya.
Seperti UMKM, kata dia, dilibatkan dalam rantai pasok industri besar. Ada upaya yang konkret agar pelaku UMKM dilibatkan dalam rantai pasok industri besar dan ini bisa membuka pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM.
Menurut Gunawan, produk pelaku UMKM harus dilindungi dari serbuan barang impor karena tidak semua produk UMKM bisa bersaing di pasar global. Dan tentunya ada upaya kongkrit untuk memperbaiki daya saing produk UMKM.
Pelaku UMKM, tambahnya, juga dibina dan didampingi agar lebih beradaptasi dengan dunia digital. Selanjutnya, ada upaya untuk mendorong agar pelaku usaha memiliki kesadaran dalam meningkatkan nilai jual produk seperti mendapatkan sertifikasi halal untuk produknya.
“Nah di sini peran pemerintah maupun stakeholder dibutuhkan agar produk UMKM bisa tersertifikasi. Dan bukan hanya sertifikasi halal, termasuk sertifikasi lainnya,” tegasnya.
Selain itu, pemerintah memetakan terlebih dahulu sektor mana saja yang menjadi unggulan yang bisa diisi oleh banyak pelaku UMKM. Dan tentunya masih banyak sektor lainnya seperti perdagangan, pariwisata, pergudangan, konstruksi yang sebaiknya dipetakan lebih rinci agar kita bisa mempersiapkan UMKM untuk mengisinya.
“Pastikan UMKM yang terlibat mampu bertahan dari tekanan ekonomi global, serta menjalankan bisnis yang defensif namun tetap mampu untuk tumbuh. Hal ini guna mempersiapkan UMKM saat berhadapan dengan situasi ekonomi global yang tidak menentu dan rawan resesi di masa yang akan datang,” pungkasnya. (netty)
