Epidemiolog: Indonesia Siap Masuk Endemi Covid-19 Tapi Tetap Tunggu WHO

Fokusmedan.com : Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Laura Navika Yamani menyampaikan bahwa Indonesia siap untuk menerapkan status endemi Covid-19. Laura menilai 3T yang dilakukan pemerintah semakin optimal.

“Kalau ditanya apakah siap kalau ditanya, ya Insya Allah siap gitu ya. Tetapi 3T ketika kondisi endemi itu bukan berarti harus selesai,” kata Laura kepada Liputan6.com, Rabu (2/3/2022).

Namun, penerapan status endemi tidak bisa dilakukan oleh pemerintah. Menurut Laura, penetapan itu hanya bisa dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan mempertimbangkan sejumlah hal. Termasuk cakupan vaksin lengkap Covid-19 yang berada di angka 70 persen.

“Harus melihat situasi epidemiologi dari kasus Covid seperti apa. Kemudian pertimbangan dari WHO juga menyatakan bahwa ketika cakupan vaksinasi untuk Covid itu sudah mencapai target. Artinya banyak masyarakat global sudah mencapai kekebalan yang dibentuk dari vaksin. Nah itu juga dirasa aman (mencabut status pandemi)” katanya.

Menurut Laura, Pencabutan status endemi bukan hanya karena jumlah kasus yang melandai, melainkan tingkat keparahan gejala infeksi dari virus. Dia juga melihat varian baru Covid-19 Omicron memiliki gejala yang lebih ringan ketimbang varian pendahulunya.

“Jadi yang kemudian menjadi alasan status pandemi itu kemudian akan menjadi endemi,” katanya.

Dengan status endemi, maka pembatasan aktivitas masyarakat akan lebih longgar. Kendati begitu, amanat protokol kesehatan 3M wajib untuk tetap ditaati guna menghindari penyebaran Covid-19 atau virus lainnya.

“(Tetap) harus meningkatkan kewaspadaan ya, karena penyakit-penyakit endemi itu kapan pun akan bisa meningkat kasusnya dan akan bisa menyebabkan wabah. Tapi bedanya kalau endemi itu dia wabahnya enggak secara global,” jelasnya.

Dia menambahkan, jika status endemi telah ditetapkan WHO, maka Covid-19 hanya berlangsung pada negara-negara tertentu saja. Bahkan hanya terjadi di suatu atau beberapa daerah di dalam satu negara.

“Tapi itu bukan berarti enggak ada ancaman, kalau kita enggak awere ya terhadap peningkatan kasus, makanya kenapa penting adanya surveilans kesehatan ya untuk memonitor,” papar dia.(yaya)