Delapan Pengungsi Rohingya di Lhokseumawe Kabur dari Penampungan


Fokus
medan.com
: Delapan pengungsi Rohingya kabur dari penampungan sementara Balai Latihan Kerja (BLK) di Desa Meunasah Mee Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Mereka memanjat pagar yang terletak di belakang shelter.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto mengatakan. delapan imigran Rohingya yang kabur tersebut adalah Khaleda Bibi binti Muhammed Yunus (22), Mosana Begum binti Abdul Kasem (18), Asma binti Salim Mulah (15), Haresa binti Saleh Ahmad (24), Kismut Ara binti Solimullah (12), Noor Safa binti Khaitatullah Imur (18), Noor Kayah binti Fetan (24), dan Samira binti Muslim (18).

“Mereka yang kabur ini semuanya perempuan,” kata Eko kepada wartawan, Rabu (19/1).

Dia menjelaskan, perempuan etnis Rohingya itu kabur pada Selasa (18/1) kemarin. Delapan perempuan Rohingya tersebut belum diketahui keberadaannya.

Pada malam harinya, warga di sekitar BLK Kandang mengamankan dua warga Sumatera Utara yang diduga terlibat sindikat kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Dua pria tersebut berinisial AF (47) dan RAH (22).

Mereka diduga kuat akan melakukan penjemputan terhadap pengungsi Rohingya yang berada di BLK Kandang, Kota Lhokseumawe. PolisiĀ masih mendalami apakah dua orang tersebut ada kaitannya dengan delapan pengungsi yang kabur pada siang harinya.

AKBP Eko Hartanto menjelaskan, kedua pria yang diamankan tersebut merupakan penyedia jasa rental mobil. Mereka mengaku ditelepon oleh seseorang bernama Udin dan meminta untuk menjemput penumpang yang berada di Lhokseumawe dengan tarif Rp 2 juta.

Setelah menerima transfer di muka sebesar Rp 800 ribu, mereka berangkat ke Lhokseumawe untuk menjemput target dengan tujuan lokasi yang dikirimkan melalui google maps, tepat di samping BLK Kandang.

Kemudian, tutur Eko, warga yang curiga dengan keberadaan mobil dengan nomor polisi BK 1776 JT itu, membawa keduanya ke dalam shelter BLK dan selanjutnya diamankan petugas ke Polres Lhokseumawe.

Dari hasil pemeriksaan sementara, mereka mengaku tidak tahu siapa yang akan dijemput. Dan yang menyuruh pun tidak memberi tahu nama lengkap dan keberadaannya.

Polisi akan mendalami dugaan adanya keterlibatan sindikat TPPO ini, dan kaitannya dengan kaburnya delapan imigran Rohingya.

“Karena modus ini sudah sering digunakan para pelaku. Kita akan mencari alat bukti, sejauh mana keterlibatan AF dan RAH. Bila terbukti, maka akan dijerat dengan UU TPPO,” pungkasnya.(yaya)