Demo di Kazakhstan Ricuh, Ribuan Orang Terluka, 164 Tewas

Pasukan khusus Kazakhstan berjaga-jaga di perbatasan menyusul protes warga. Reuters

Fokusmedan.com : Demo di Kazakhstan yang berlangsung beberapa waktu lalu berujung kerusuhan dan mengakibatkan banyak korban tewas. Kementerian Kesehatan Kazakhstan menyatakan sebanyak 164 orang tewas akibat kerusuhan sampai Minggu (9/1).

Kementerian tersebut juga menuturkan ada lebih dari 1.000 orang terluka hingga Kamis (6/1).

Bentrok yang terjadi antara polisi dan demonstran menjadi salah satu penyebab banyaknya korban jiwa. Pada Kamis (6/1), demonstrasi dilaporkan menewaskan delapan personel keamanan dan melukai 317 orang lainnya.

Kementerian Dalam Negeri Kazakhstan mengatakan pasukan keamanan tewas dan terluka di beberapa daerah pusat kerusuhan pada Selasa (4/1) dan Rabu (5/1). Kala itu, demonstran sempat menguasai bandara di Almaty, kota terbesar di Kazakhstan.

Semua penerbangan dari dan menuju kota itu dibatalkan.

“Ada anarki total di jalanan. Polisi tidak terlihat di mana pun,” kata seorang penduduk di Almaty yang ikut berbaur dengan para pengunjuk rasa, Rabu (5/1).

Seorang warga Almaty membenarkan rumor ekstremisme dan hubungannya dengan kerusuhan yang terjadi di Kazakhstan. Selain itu, ia juga menyinggung rumor kelompok wahabi radikal menjadi dalang kerusuhan negara itu.

“Saat ini kondisi masih darurat hingga 19 Januari dengan pemberlakuan jam malam hingga 23.00. Kota (Almaty) coba dibersihkan dari para ekstremis,” tulis perempuan tersebut dalam chat WhatsApp dikutip CNNIndonesia.com, Senin (10/1), yang berbicara dengan syarat anonim.
“Orang-orang di wilayah barat Kazakhstan menggelar aksi damai menuntut harga LPG yang lebih rendah. Kemudian ada pihak dari kota-kota yang berbeda datang mendukung demo,” ujar salah satu warga sumber dari CNNIndonesia.com.

“Kemudian dengan berkedok pendemo, ekstremis masuk dan mulai menghancurkan segala sesuatunya yang mereka lalui,” lanjutnya.

Di sisi lain, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev mengklaim kerusuhan yang terjadi di negaranya dilatarbelakangi oleh ‘bandit teroris’ dari luar dan dalam negeri.

Tokayev juga menilai kelompok teroris tersebut ‘terlatih melakukan sabotase ideologi, menyebar informasi hoaks secara terampil, dan mampu memanipulasi hati masyarakat.’

Selain itu, Tokayev menganggap kerusuhan yang terjadi merupakan bagian dari upaya kudeta atas pemerintahannya.

“Kelompok bersenjata yang berkedok dan melebur dalam sayap-sayap para demonstran, tujuan utama mereka sudah jelas, yaitu merusak tatanan konstitusional, menghancurkan institusi pemerintah, dan merebut kekuasaan. Ini adalah jelas upaya kudeta,” kata Tokayev dalam pidatonya, seperti dikutip AFP, Senin (10/1).

Selain itu, Tokayev juga sempat memerintahkan personel keamanan untuk menembak tanpa peringatan terlebih dahulu jika terjadi kerusuhan. Tokayev menuturkan perintah tembak langsung ini merupakan bagian dari operasi kontra-terorisme.

“Para militan belum meletakkan senjata mereka, mereka terus melakukan kejahatan atau sedang mempersiapkannya. Perang melawan mereka harus dilakukan sampai akhir. Siapa pun yang tidak menyerah akan dihancurkan,” ujar Tokayev dalam stasiun televisi pemerintah.

Menurut cerita jurnalis anonim yang dikutip CNN, ada banyak jenazah yang penuh peluru tergeletak di jalanan Kazakhstan di kota Almaty. Ia menceritakan kota tersebut sempat dipenuhi suara tembakan.

Jurnalis ini juga menuturkan ada tiga pos pemeriksaan militer yang dibangun. Menurut jurnalis tersebut, jika ada orang yang pergi mendekati pos pemeriksaan, pasukan militer akan menembakkan peluru ke udara.

Namun, tak jelas apakah peluru yang digunakan merupakan peluru tajam atau peluru karet.

Awalnya, kerusuhan di Kazakhstan berasal dari protes atas kenaikan harga bahan bakar.

Namun, protes merebak ke masalah ketidakpuasan atas pemerintahan negara itu yang autokrat hingga kesenjangan sosial yang dirasakan penduduk.(ng)