Menteri Investasi Klaim Pelaku Usaha Harap Pilpres 2024 Diundur

Fokusmedan.com : Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengklaim para pelaku dunia usaha berharap Pemilihan Presiden 2024 dimundurkan. Hal tersebut disampaikan Bahlil menanggapi terkait hasil survei Indikator Politik yang memperlihatkan bahwa dukungan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk maju kembali di Pilpres 2024 sebanyak 33,3 persen.

“Kalau kita mendengar dunia usaha rata-rata mereka memang berpikir proses demokrasi ini dalam proses peralihan kepemimpinan, kalau memang ada ruang dilakukan proses dimundurkan itu jauh lebih baik,” kata Bahlil dalam saluran YouTube Indikator Politik, Minggu (9/1).

Dia beralasan lantaran para pelaku usaha baru selesai menghadapi persoalan kesehatan. Kemudian saat ini dunia usaha sedang meningkat, namun ditimpa dengan persoalan politik.

“Ini hasil diskusi sama mereka, coba Pak Burhanuddin didalami,” bebernya.

Walaupun begitu dia menilai memajukan Pemilu atau memundurkan Pemilu dalam sejarah bangsa pernah terjadi pada tahun 1997 lantaran krisis reformasi.

“Di orde lama juga begitu sekian lama Pemilu nah tinggal kita lihat. Kebutuhan bangsa kita ini apa? Apakah persoalan pandemi Covid, apakah persoalan bagaimana memulihkan ekonomi, dan bagaimana memilih kepemimpinan baru lewat Pemilu,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Indikator Politik Indonesia mencatat masih banyak masyarakat yang setuju jika Joko Widodo (Jokowi) kembali maju menjadi Presiden di Pilpres 2024. Hal tersebut terlihat sebanyak 33,3 persen responden memilih mantan Gubernur DKI Jakarta maju kembali dan 27,1 persen tidak setuju.

“Pada Desember 2021 33,3 persen setuju Jokowi maju kembali dan kurang setuju maju kembali 28,4 persen. Tidak setuju 27,1 persen. Tapi overall antara 38-40 yang sangat setuju dan setuju,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi dalam saluran YouTube Indikator Politik, Minggu (9/1).

Walaupun menginginkan Jokowi maju kembali di 2024, tetapi masyarakat kurang setuju jika masa jabatan Jokowi ditambah hingga 2027. Terlihat dari survei tersebut terdapat 32,9 respons yang kurang setuju, 31,0 persen setuju dan 25,1 persen tidak setuju.

“Kurang setuju masih mayoritas, yang setuju angkanya masih lumayan. Jadi penundaan pemilu 2027,” ungkapnya.

Sementara itu pihaknya juga menemukan masih banyak responden yang menginginkan Jokowi. Terlihat dari kategori top of mind pilihan presiden, respons memilih Jokowi.

“Top of Mind pilihan presiden, kita enggak ngasih jawaban terserah responden mau jawab siapa. Makanya ada yang jawab Pak Jokowi meskipun secara konstitusional tidak boleh maju,” ungkapnya.

Terlihat dari jajaran top of mind pilihan presiden, Jokowi mendapatkan 20,8 persen, Prabowo Subianto 13,1 persen, Ganjar Pranowo 8,9 persen, dan Anies Baswedan 8,7 persen.

Untuk diketahui indikator Politik Indonesia melakukan survei tatap muka pada 6-11 Desember 2021. Penarikan sampel dilakukan dengan metode multistage random sampling, dengan jumlah responden mencapai 1.220 orang. Survei ini memiliki margin of error kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.(yaya)