Awas! Bank Sentral AS Bawa Kabar Buruk, Ancam Pasar Keuangan Hingga Hutang Bengkak

Ilustrasi kinerja Rupiah. Ist

Fokusmedan.com : Selama sepekan ini, kinerja pasar keuangan dihantui kebijakan kenaikan suku bunga acuan yang lebih cepat dari perkiraan. Rencana kebijakan Bank Sentrakl AS atau The FED yang telah mengurangi tapering serta berencana untuk mengurangi neraca keuangan (balance sheet).

Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan, jika sebelumnya saat quantitative easing berlaku, The FED itu banyak melakukan pembelian aset yang artinya membanjiri pasar keuangan dengan US Dolar. Hal tersebut membuat pasar keuangan di negara berkembang seperti Indonesia juga dibanjiri US Dolar.

“Ini mengakibatkan US Dolar bergerak cenderung melemah. Jika The FED menaikkan bunga acuan, maka investor akan mengalihkan asetnya untuk disimpan di pasar keuangan AS. Ini mengakibatkan terjadinya pembalikan modal (capital outflow), yang membuat US dolar berbalik cenderung menguat terhadap mata uang negara berkembang, tanpa terkecuali Rupiah,” ujarnya, Jumat (7/1/2022).

Namun, selain dua kebijakan itu, The FED ternyata berencana untuk melakukan penjualan aset (obligasi) yang selama ini tersimpan karena jor-joran melakukan QE sebelumnya. Hal ini memicu pengurangan likuiditas US Dolar di pasar keuangan yang bisa memicu pelemahan pada mata uang maupun pasar saham.

“Jadi ada tiga isu besar yang tengah di bawa oleh Bank Sentral AS tersebut. Dan ketiga isu besar tersebut akan menjadi ancaman bagi pasar keuangan global khususnya pasar keuangan negara berkembang termasuk Indonesia,” terangnya.

Dengan kebijakan seperti itu, kata dia, maka The FED menjadi ancaman bagi Pasar Saham, Mata Uang Rupiah, hingga harga emas. Jadi yang dikawatirkan sebelumnya akan terjadi (tapering tantrum) di tahun 2022, justru saat ini datang dengan lebih banyak ancaman.

Apa yang akan dilakukan oleh The FED ini sangat berpotensi memicu terjadinya gejolak di pasar keuangan. Sebagai contoh, kita tidak hanya bisa berhenti bahwa ancaman yang timbul adalah pelemahan pada Rupiah. Tetapi kita harus memikirkan dampak pelemahan Rupiah terhadap perekonomian nasional. Mulai dari ancaman kenaikan harga pangan masyarakat yang memicu inflasi, potensi kenaikan harga energy dunia, hingga masalah pembengkakan hutang.

Pemulihan ekonomi AS memang bisa menjadi kabar baik. Tetapi juga harus mengantisipasi dampak buruk yang timbul seiring dengan kebijakan dari Bank Sentral AS dalam merespon perekonomian negerinya.

“Saya yakin Bank Indonesia (BI) tidak akan bisa tidur nyenyak dengan kabar seperti ini. Dan jelas apa yang diambil The FED adalah diluar kemampuan pemerintah kita atau BI untuk mengendalikannya. Kita hanya bisa melakukan antisipasi dengan segala kemungkinan buruk yang terjadi tersebut. Jadi pemerintah harus bersinergi dengan BI untuk segera memitigasi kemungkinan buruk yang datang dari luar tersebut,” ucapnya.

Pada akhir pekan ini IHSG ditutup naik 0.76% di level 6.703,73. Kinerja IHSG masih lebih baik dibandingkan dengan penutupan di akhir pekan lalu. Namun Rupiah akhir pekan ini ditutup melemah dibandingkan dengan sepekan yang lalu di level 14.348 per US Dolar.(ng)